Gerakan KuToo merupakan kampanyemedia sosial di Jepang untuk menolak kewajiban penggunaan sepatu berhak tinggi di tempat kerja bagi karyawati. Nama kampanye ini mengacu pada gerakan Me Too dengan permainan kata-kata kutsu (靴, "sepatu") dan kutsū (苦痛, "sakit"). KuToo dapat diartikan penderitaan ketika memakai sepatu. Kampanye ini pertama kali dimulai oleh Yumi Ishikawa pada 2019 dan masih berjalan hingga saat ini. Pada November 2019, puluhan ribu twit telah ditulis dengan menggunakan tagar #KuToo.[1] Menurut Ishikawa, protes ini tidak sekadar tentang rasa sakit mengenakan sepatu bersol tinggi, tapi ketidakpuasan perempuan Jepang mengenai budaya yang menindas mereka.[2]
↑Rachelle, Vivian (2019-08-28). "What Is the #KuToo Movement?". JSTOR Daily (dalam bahasa American English). Diarsipkan dari asli tanggal 2023-05-19. Diakses tanggal 2021-09-18.