ia mengambil nama relijius "Franco" setelah menjadi anggota Ordo Ketiga Karmelit. Ia merupakan figur populer di kalangan beberapa kelompok, dan pelayanan pastoralnya dan ajaran relijiusnya meraih pengakuan. Namun, kegiatannya memicu dugaan bidaah dari rohaniwan senior. Ia diperintahkan untuk menutup pusat-pusat ajarannya pada suatu waktu sesambil diidentifikasi; pusat-pusat ajaran tersebut kemudian dibuka kembali.[3]
Kegiatannya meraih pujian. Pada 1952, Paus Pius XII menominasikannya sebagai kepala penasehat kepausan dan meraih pangkat Monsinyur.[3]