Orang Rohingya di Negara Bagian Rakhine utara, Myanmar, telah dianggap sebagai kelompok minoritas yang paling tertindas di dunia.[3][4][5] Orang Rohingya mengganggap diri mereka sebagai keturunan etnis Bangladesh Timur (Chittagong) dan saudagar Arab yang telah menetap di wilayah tersebut beberapa generasi sebelumnya.[3] Para ahli telah menyatakan bahwa mereka telah ada di wilayah tersebut sejak abad ke-15.[6] Namun, mereka telah ditolak kewarganegaraan oleh pemerintah Myanmar, yang mengganggap mereka sebagai imigran ilegal dari Bangladesh.[3] Pada masa modern, penindasan terhadap Muslim Rohingya di Myanmar telah ada sejak tahun 1970-an.[7] Semenjak itu, orang Rohingya biasanya telah menjadi sasaran penindasan oleh pemerintah dan nasionalisBuddhis .[8] Ketegangan antara berbagai kelompok keagamaan di negara ini sering dieksploitasi oleh penguasa militer Burma.[3]
Menurut laporan negara Myanmar, pada tanggal 9 Oktober 2016, beberapa individu bersenjata menyerang beberapa barak polisi perbatasan di Negara Bagian Rakhine yang menewaskan sembilan orang polisi.[9] Senjata dan amunisi juga dijarah. Serangan besar terjadi di kota Maungdaw negara itu. Identitas para penyerang tetap tidak diketahui, meskipun diyakini kelompok sempalan dari Organisasi Solidaritas Rohingya.[10]
Tindakan kekerasan
Menyusul insiden barak polisi, militer Myanmar mulai melakukan tindakan kekerasan besar di desa negara bagian Rakhine utara. Dalam operasi awal, puluhan orang tewas dan banyak yang ditangkap.[11] Karena tindakan kekerasan berlanjut, korban meningkat. Penangkapan sewenang-wenang, pembunuhan di luar hukum, pemerkosaan berkelompok,pencabulan kebrutalan terhadap warga sipil, dan terjadi penjarahan.[4][12][13]