Gelar kebangsawanan di Sulawesi Selatan pada umumnya diberikan kepada orang untuk membedakan kasta bangsawan atau diatasnya dalam kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan.
Penggunaan
Masa Kerajaan/Kesultanan
Di masa kerajaan dan kesultanan terdapat empat macam yakni
Mengikut pemerintahan atau panggaderen di bawahnya
Mengikut jabatan yang didudukinya
Berdasarkan keturunan orang yang bersangkutan dapat membuktikan dirinya sebagai keturunan kebangsawanan
Sombayya, gelar penguasa Kesultanan Makassar (gowa-tallo), disebut Sombayya yang berarti yang disembah atau dia yang kita sembah. Sombayya secara harfiah berarti rajanya raja, karena Karaeng Gowa yg bertakhta akan memimpin semua monarki daerah di dalam kesultanan Makassar, yaitu penguasa tallo (Karaeng tallo), penguasa Maros (Karaeng marussu), penguasa Galesong (Karaeng galesong), raja Bantaeng (Karaeng Bantaeng , penguasa Sumbawa, penguasa Bone (arung Bone) untuk masa yang setelah perang penyebaran Islam sampai perjanjian bongaya, dimasan sombayya Alauddin, Muhammad said dan Hasanuddin , dan masih banyak lagi . Karaeng Gowa yang naik takhta akan otomatis bergelar somba, karena sesuai dengan piagam penyatuan gowa-tallo, penguasa tallo (Karaeng tallo) akan menjadi perdana menteri sedangkan raja Gowa (sombaya Gowa) menjadi pemimpin tertinggi semua monarki di dalam kesultanan Makassar.
Andi, merupakan gelar bangsawan yang diberikan oleh kolonial Belanda kepada mereka yang berdarah biru yang terdidik (berpendidikan). Seorang Andi sudah tentunya bangsawan berpengaruh. Gelar seorang Andi, Hanya diturunkan dari garis ayah, apabila ayah bergelar Andi, anak juga bisa mengklaim gelar Andi, ibu yang bergelar Andi tidak bisa mewariskan nama gelar bangsawannya kepada anaknya apabila suaminya bukan bangsawan yg bergelar andi
Arung, merupakan gelar jabatan dengan makna sebagai penguasa monarki, orang yang memegang atau sedang bertakhta menguasai suatu Akkarungeng (Ke-arung-an) akan bergelar Arung, baik lngkupnya dalam suatu konfederasi, berdaulat dan berada dibawah suatu Akkarungeng yang lebih besar. Arung sudah tentunya Andi atau gelar sebelum Andi ialah La, We & I.
Bau' gelar ini penggunaannya sama dengan Andi, dapat dituliskan contoh seperti Andi Bau Sipolan, dan lazimnya disapa Bau' Sipolan. Akkarungeng di Ajatappareng, bangsawan dan turunan kerabat dirajanya banyak menggunakan gelaran ini.
Daeng/Paddaengan, gelar bangsawan menengah dimasa lalu, dan Dimasa sekarang menjadi gelar orang yang dituakan (tokoh masyarakat)
Datu, merupakan gelar kebangsawanan dan dapat juga merujuk pada seseorang yang menguasai Akkarungeng. Seperti Datu Suppa ataupun Datu Marioriawa. Datu sudah tentunya adalah Andi.
Petta/patta, gelar ini sudah pastinya kerabat raja oleh turunan Karaeng, Datu maupun Arung. Petta gelar orang tidak bisa digunakan oleh semua orang, apabila bukan bagian dari suatu turunan Raja. Petta sudah pastinya adalah Anak raja.
Sulewatang, merujuk kepada gelaran jabatan di suatu Akkarungeng, merupakan perangkat dari Akkarungeng, membantu seorang Arung atau Datu dalam urusan pemerintahan. Berada dibawah Arung.
Karaeng/karena, gelar raja dan anak anak raja yang memerintah sebuah kerajaan dan bangsawan tinggi kesultanan gowa-tallo, biasanya dipakai oleh penguasa daerah yang setara dengan dan orang yang satu garis keturunan dengan pemimpin monarki.
Puang, gelar tokoh masyarakat Bugis, biasanya orang yang mendapat gelar puang bukan karena garis keturunan, tapi dari masyarakat.