Senyawa 2-klorobenzalmalononitril (juga dikenal sebagai o-klorobenzilidena malononitril; rumus kimia: C10H5ClN2), yang termasuk golongan sianokarbon, merupakan komponen utama dari zat lakrimator yang umum disebut gas CS, yaitu sejenis gas air mata yang digunakan sebagai agen pengendali kerusuhan. Penggunaannya dalam peperangan dilarang berdasarkan Protokol Jenewa tahun 1925.
Paparan zat ini menyebabkan rasa panas seperti terbakar dan mata berair hingga penderitanya tidak mampu membuka mata, serta iritasi panas pada selaput lendir di hidung, mulut, dan tenggorokan. Kondisi ini menimbulkan batuk hebat, keluarnya lendir dari hidung, disorientasi, dan kesulitan bernapas, sehingga membuat korban tidak berdaya untuk sementara waktu.
Gas CS merupakan sebuah aerosol yang terdiri dari pelarut yang mudah menguap (zat yang melarutkan bahan aktif lain dan mudah menguap) serta 2-klorobenzalmalononitril, yaitu senyawa padat pada suhu ruangan. Secara umum, gas CS dianggap sebagai senjata yang tidak mematikan.
Sejarah
Gas CS pertama kali disintesis oleh dua ilmuwan Amerika, Ben Corson dan Roger Stoughton,[6] di Middlebury College di Vermont pada tahun 1928, dan nama senyawa tersebut diambil dari huruf awal nama belakang kedua ilmuwan tersebut.[7][8]
CS dikembangkan dan diuji secara rahasia di Porton Down di Wiltshire, Britania Raya, pada dekade 1950-an dan 1960-an. Pada awalnya, CS diuji coba pada hewan, kemudian pada para sukarelawan dari Angkatan Darat Britania Raya. CS memiliki efek yang lebih kecil pada hewan karena mereka memiliki struktur saluran air mata yang berbeda dan, pada mamalia non-manusia, bulu mereka menghambat masuknya gas secara bebas ke tubuh.[9]
Hingga tahun 2002, Biro Keamanan Internasional dan Nonproliferasi di Departemen Luar Negeri Amerika Serikat masih membuat pembedaan yang tegas antara “agen pengendali huru-hara” seperti gas CS dan “senjata kimia mematikan”. Lembaga tersebut menyatakan bahwa pandangan ini juga didukung oleh Britania Raya dan Jepang.[10]
Reaksi ini dikatalisis oleh basa lemah seperti piperidina atau piridina. Metode produksinya tidak mengalami perubahan sejak zat ini pertama kali ditemukan oleh Corson dan Stoughton.[14] Berbagai basa lain, metode tanpa pelarut, serta penggunaan gelombang mikro juga telah diusulkan untuk meningkatkan proses produksi zat tersebut.[15]
Sifat-sifat fisiologis senyawa ini sebenarnya sudah diketahui sejak pertama kali disintesis oleh para ahli kimia pada tahun 1928. Mereka menuliskan: “Sifat Fisiologis. Beberapa dinitril ini memiliki efek seperti gas bersin dan gas air mata. Zat-zat ini tidak berbahaya ketika dalam keadaan basah, tetapi menangani serbuk keringnya adalah sesuatu yang sangat berbahaya.”[14]
Kegunaan
Karena 2-chlorobenzalmalononitrile berbentuk padat pada suhu ruangan, bukan sebuah gas, maka berbagai teknik telah digunakan untuk membuat zat padat ini dapat digunakan sebagai aerosol:
Dilelehkan lalu disemprotkan dalam keadaan cair.
Dilarutkan dalam pelarut organik.
Serbuk kering CS2 (CS2 adalah bentuk CS yang disilikonisasi dan dipulverisasi menjadi sangat halus).
CS dari granat termal melalui pembentukan gas panas.[2]
Dalam peristiwa pengepungan Waco di Amerika Serikat pada tahun 1993, CS dilarutkan dalam pelarut organik diklorometana (juga dikenal sebagai metilena klorida). Larutan tersebut disebarkan sebagai aerosol dengan bantuan gaya ledak, dan ketika diklorometana yang sangat mudah menguap itu menguap, kristal CS mengendap dan membentuk sebaran halus di udara.[2]
Efek
Berbagai jenis gas air mata dan agen pengendali huru-hara lainnya telah diproduksi, dengan efek yang bervariasi mulai dari sekadar membuat mata berair hingga menyebabkan muntah dan kolaps seketika. CN dan CS merupakan yang paling luas digunakan dan paling dikenal, namun secara keseluruhan telah dikembangkan sekitar 15 jenis gas air mata di seluruh dunia, misalnya adamsit, bromoaseton, CNB, dan CNC.[16]
CS menjadi yang paling populer karena daya iritasinya yang kuat. Dampak CS terhadap seseorang juga bergantung pada bentuk penggunaannya, apakah dikemas sebagai larutan atau disebarkan sebagai aerosol. Ukuran tetesan larutan serta ukuran partikel CS (lihat partikulat) setelah pelarutnya menguap merupakan faktor-faktor penting yang menentukan seberapa besar pengaruhnya terhadap tubuh manusia.[16]
Bahan kimia ini bereaksi dengan kelembapan pada kulit dan di mata, sehingga menimbulkan rasa panas seperti terbakar serta penutupan mata yang kuat dan tidak terkendali secara spontan. Efek yang biasanya muncul meliputi air mata mengalir deras, batuk hebat, keluarnya lendir hidung yang sangat banyak, rasa terbakar pada mata, kelopak mata, hidung, dan tenggorokan, serta disorientasi, pusing, dan gangguan pernapasan. Zat ini juga dapat menyebabkan kulit terasa terbakar, terutama pada bagian yang berkeringat atau terbakar matahari.[17]
Dalam dosis yang sangat pekat, zat ini dapat memicu batuk hebat dan muntah. Sebagian besar efek langsung biasanya menghilang dalam beberapa jam (seperti keluarnya lendir hidung berlebihan dan batuk hebat), meskipun gejala pada sistem pernapasan, pencernaan, dan rongga mulut dapat bertahan hingga berbulan-bulan.[18] Paparan yang berlebihan dapat menyebabkan luka bakar kimia yang mengakibatkan bekas luka permanen.[19]
Pakar kesehatan menyampaikan paparan gas air mata selama aksi protes tahun 2025 di berbagai wilayah di Indonesia dapat berdampak pada serangan asma akut, yang dalam beberapa kasus dapat berujung pada gagal napas. Paparan gas air mata juga dikaitkan dengan meningkatnya penggunaan layanan kesehatan yang sebenarnya dapat dihindari.[20]
↑Corson BB, Stoughton RW (1928). "Reactions of Alpha, Beta-Unsaturated Dinitriles". Journal of the American Chemical Society. 50 (10): 2825–2837. doi:10.1021/ja01397a037.
12Corson BB, Stoughton RW (1928). "Reactions of Alpha, Betha-Unsaturated Dinitriles". J Am Chem Soc (dalam bahasa Inggris). 50 (10): 2825–2837. doi:10.1021/ja01397a037.
↑Pande A, Ganesan K, Jain AK, Gupta PK, Malhotr RC (2005). "Novel Eco-Friendly Process for the Synthesis of 2-Chlorobenzylidenemalononitrile and ITS Analogues Using Water As a Solvent". Org Proc Res Develop (dalam bahasa Inggris). 9 (2): 133–136. doi:10.1021/op0498262.