Gamelan Bungbung Gebyog berasal dari Desa Dangin Tukadaya, Kabupaten Jembrana, Bali.[1] Cara memainkannya dengan cara membenturkan bungbung atau bilah bambu berbagai ukuran ke lesung kayu sehingga mengeluarkan suara yang berirama setiap bilah bambunya. Gamelan ini mengiringi tari Joged Gebyog.[2]
Asal-usul dan sejarah
Awalnya, gamelan ini hanya dimainkan oleh perempuan sebagai ucapan rasa syukur setelah panen.[3] Pada saat itu, masyarakat Dangin Tukadaya menggunakan alat penumbuk padi yang disebut "luu" dan "kentungan".[4] Sekitar tahun 1975, gamelan ini memiliki nama Bumbung Gebyog. Pada tahun 2024, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jembrana mengusulkan Bungbung Gebyog untuk ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia.[5]
Pertunjukan
Kesenian ini menggunakan alat musik yang terbuat dari bambu. Gamelan Bungbung Gebyog terdiri dari delapan buah bungbung serta papan lesung. Kedelapan bumbung tersebut menggunakan laras pelog empat nada, yaitu Dong (4), Deng (5), Dung (7), Ding (3).[6] Bungbung Gebyog dimainkan dengan menghentakkan bungbung pada papan lesung.[7] Di setiap dentingan bambu, tercermin filosofi Tri Hita Karana yang mengajak setiap orang untuk hidup dalam harmoni antara sesama, alam, dan Tuhan.[8]