Gereja ini didirikan pada 1937 oleh masyarakat lokal dengan konstruksi kayu dan diresmikan pada 1939 oleh seorang zending Belanda bernama Tuan Bekker. Nama Maranatha diberikan pada gereja ini pada 1985, yang artinya "Tuhan datang" dalam bahasa Aram. Bahasa Aram dimana memiliki peran penting dalam kekristenan karena Yesus dan murid-murid-Nya dinilai menggunakan bahasa Aram dalam kehidupan sehari-hari.[1]
Pada tahun 1980, gereja ini direnovasi total, dengan bantuan para pendeta, pengurus, dan jemaat, serta PT Inhutani, sehingga gereja ini diresmikan pada 13 Oktober 1985 oleh Kusnan Daryono, Bupati Kotawaringin Timur pada saat itu. Hingga sekarang, gereja mampu melayani hingga 4.600 jemaat.[2][3]
Arsitektur
Bangunan utama gereja dibuat dengan menggunakan kayu jenis ulin dan benuas, baik dinding, lantai, maupun atap yang seluruhnya terbuat dari kayu kokoh. Gereja ini dihiasi oleh jendela kaca patri berbentuk bintang Daud, serta ornamen kaca patri bergambar anggur, roti, dan burung merpati, yang merupakan simbol darah dan tubuh Kristus serta Roh Kudus.[4]
Gereja ini memiliki bangku-bangku panjang yang disusun mulai dari teras hingga lantai dua gereja. Di lantai dua bangunan, terdapat ruang persiapan dan ruang kontrol suara untuk ibadah, sedangkan di lantai tiga, diperuntukkan sebagai perpustakaan kecil.[2][3]
Gereja ini juga memiliki piano akustik yang terbuat dari kayu dan masih bisa dimainkan, kitab suci, bel kecil, dan gelas perjamuan dari kayu pohon Zaitun dari Yerusalem tersusun rapi di panggung depan Di altar, sebuah cawan perjamuan dari kayu pohon Zaitun asli Yerusalem. Gereja ini memilki dua salib yang terbuat dari kayu dan dihiasi dengan kain, yang akan diganti sesuai dengan ibadah yang dilaksanakan, dimana mereka memiliki tujuh warna kain.[2][4]
Gereja ini juga memiliki lonceng berbobot kira-kira puluhan kilogram, yang didatangkan langsung dari Swiss pada 1955 karena dinilai memiki kualitas tinggi dan bunyi dentingnya nyaring. Dulunya, lonceng dibunyikan tiap hari Sabtu dan Minggu pagi, serta pada acara gereja sebagai penanda ibadah. Kini, lonceng tersebut tidak digunakan di gereja dan dirawat sebagai simbol warisan rohani. [2][4]