PO Lorena & Karina
Gagasan mendirikan perusahaan bus lahir dari pengalaman pribadi Gusti Terkelin saat bertugas bolak-balik Bogor–Jakarta pada awal 1970-an. Ia sering merasa tidak nyaman dengan kondisi bus yang panas, berdebu, dan kurang ramah terhadap penumpang. Ketidakpuasan inilah yang justru membuatnya tergerak untuk mendirikan sebuah usaha transportasi darat yang memberikan kenyamanan, keamanan, dan ketepatan waktu bagi masyarakat luas.
Antara tahun 1970–1973, Gusti Terkelin memutuskan untuk mundur perlahan-lahan dari tugasnya sebagai prajurit dan menjual rumahnya demi mendapatkan modal awal. Dengan keberanian besar, ia mengontrak sebuah rumah di Jalan Otto Iskandardinata III, Jakarta dan sebuah rumah di Ciawi, Bogor sebagai lokasi garasi, serta membeli dua unit bus kapasitas 40 kursi tanpa AC senilai Rp12,5 juta. Bus tersebut diberi nama “Lorena”, yang diambil dari nama anak pertamanya. Trayek pertama yang dijalankan adalah Bogor–Jakarta pergi-pulang. Dari sinilah perjalanan panjang Lorena dimulai.
Walaupun memulai usahanya dengan bus kecil, Lorena berkembang pesat berkat prinsip pelayanan prima dan pengelolaan yang disiplin. Tahun 1975, Gusti Terkelin memperluas trayeknya menjadi Jakarta–Bogor–Bandung, dan untuk mendukung ekspansi tersebut, ia meminjam uang dari Bank Bumi Daya untuk menambah lima unit bus baru. Hasilnya sangat menggembirakan—perusahaan mulai memperoleh keuntungan yang stabil dan pelanggan yang loyal.
Pada awal 1980-an, Gusti Terkelin semakin berani melakukan ekspansi. Tahun 1982 ia membuka trayek Bogor–Jakarta–Surabaya dengan lima unit bus ber-AC 28 tempat duduk. Langkah ini menjadi tonggak penting karena memperkenalkan layanan bus jarak jauh berfasilitas lengkap kelas non-ekonomi di Indonesia. Lorena terus berinovasi dengan menambah fasilitas seperti toilet, kursi yang lebih lebar, pendingin udara, dan sistem tempat duduk bernomor—suatu hal yang belum umum di masa itu.
Pada tahun 1985, Lorena terjun ke bisnis bus pariwisata dengan membentuk CV Sari Lorena. Dengan menggunakan pinjaman dari bank BUMN, perusahaan ini mulanya beroperasi dengan 8 unit bus. Namun per 1994, Sari Lorena sudah mengoperasikan 20 unit bus. Memasuki tahun 1986, Lorena memperluas jaringannya ke berbagai kota besar di Jawa dan Sumatra, antara lain Solo, Madiun, Kediri, Probolinggo, Denpasar, Palembang, Jember, Banyuwangi, dan Jambi. Untuk trayek jarak jauh, Gusti Terkelin memperkenalkan bus kelas Super Eksekutif yang dilengkapi dengan AC, video, toilet, kursi ergonomis, serta makanan ringan. Lorena memperkenalkan bus dengan kursi terbatas 21 tempat duduk, sehingga memberikan kenyamanan layaknya kelas bisnis di pesawat.
Prestasi Gusti Terkelin dalam membangun Lorena tidak hanya diakui konsumen, tetapi juga oleh dunia bisnis nasional. Ia menerima penghargaan Adi Cipta Nugraha (1992) dan Cipta Phala Adidaya (1990) sebagai wujud penghargaan atas inovasi dan mutu layanan. Hingga awal 1990-an, Lorena telah mengoperasikan lebih dari 100 unit bus yang melayani berbagai kelas—dari ekonomi hingga Super Eksekutif—dengan tingkat okupansi mencapai 80% setiap keberangkatan.
Kiprah Gusti Terkelin tidak berhenti di situ. Pada tahun 1989 ia membeli perusahaan transportasi Raseko yang berbasis di Surabaya dan mengubah namanya menjadi Karina, sesuai dengan nama anak ketiganya. Karina kemudian melayani trayek Surabaya–Jakarta dan Surabaya–Malang. Penggabungan dua perusahaan ini melahirkan sinergi yang memperkuat jaringan transportasi Lorena Holding Group di seluruh Pulau Jawa.
Diversifikasi bisnis, menjadi perusahaan publik
Di bawah kepemimpinannya, Lorena berkembang menjadi PT Eka Sari Lorena Transport yang kemudian melantai di Bursa Efek Indonesia. Hingga tahun 2024, Gusti Terkelin masih menjabat sebagai Presiden Direktur PT Eka Sari Lorena Transport Tbk, sekaligus memimpin berbagai lengan bisnis Lorena Holding Group seperti PT Lorena-Karina, PT Lorena Energi, PT Lorena Properti, dan PT Eka Sari Lorena Logistik (ESL Logistics dan ESL Express).[12] Meski usianya telah senja, ia tetap aktif memantau operasional dan menjaga nilai-nilai integritas, pelayanan, serta profesionalisme yang ia tanamkan sejak awal.
Dalam bisnis lahan yasan, perusahaan-perusahaannya seperti PT Lorena Properti dan PT Lorena Latersia Properti banyak memainkan peran penting dalam sejumlah konstruksi bangunan-bangunan di Bogor, seperti Swiss-Belhotel Bogor pada 2019. Pada 29 November 2024, Lorena meluncurkan sasana keolahragaan Lorena Sports Hub di Bogor sebagai bagian dari diversifikasi usahanya, menghadirkan konsep sportstainment yang memadukan fasilitas olahraga seperti driving range golf, lapangan mini-soccer, dan lapangan padel serta area hiburan dan rekreasi untuk berbagai kalangan.[13]