Kehidupan Awal dan Keluarga
Ia adalah anak dari penyair terkenal Fujiwara no Shunzei , terutama sebagai juri kompetisi puisi. Dia juga telah menyusun antologi Imperial ketujuh waka (Senzaishū). Kakek Teika juga adalah seorang penyair terhormat yang bernama Fujiwara no Toshitada.[11][12]
Salah satu dari dua putranya, Fujiwara no Tameie (1198-1275) dikenang sebagai pewaris yang tidak tertarik akan warisannya. Di masa mudanya ia lebih tertarik kepada kemari (sepak bola tradisional Jepang) daripada puisi.[13]
Keturunan Tameie terpecah menjadi tiga cabang yaitu cabang Nijo konservatif, cabang Kyōgoku dan cabang Reizei.[14] Ketiga cabang tersebut didirikan oleh anak-anaknya. Nijo konservatif oleh putra sulung Tameie, Tameuji no Teika (1222-1286) sedangkan cabang tengah Kyōgoku didirikan oleh Fujiwara no Tamenori (1226-1279). Sementara itu, cabang Reizei didirikan oleh putra Tameie yang lebih muda, Fujiwara no Tamesuke (lahir tahun 1263). Fujiwara no Tamasuke adalah anak dari Tameie dan selirnya Nun Abutsu (wafat sekitar tahun 1283). Pada akhirnya Kyōgoku bergabung dengan Reizei yang lebih liberal.[3][15][16]
Teika meninggal pada tahun 1241, di Kyoto, dan dimakamkan di kuil Buddha yang disebut Shokokuji.[2][17]
Karier
Teika mempunyai ambisi untuk memperkuat posisi ayahnya di dunia puisi. Ia juga berambisi untuk meningkatkan reputasinya. Dengan demikian ia juga akan meningkatkan reputasi politik klannya di lingkungan kekaisaran. Hidupnya dipenuhi oleh penyakit dan pergantian nasib yang drastis. Kedua hal tersebut dipengaruhi oleh keberadaan ayahnya, Shunzei, hidup sampai usia 90 tahun. Hubungannya dengan kaisar muda yang cenderung puitis, Kaisar Go-Toba, terbukti berpengaruh pada beberapa keberhasilan terbesar Teika.[8][10]
Go-Toba dan Teika pertama kali bertemu pada kontes puisi yang diadakan kaisar Go-Toba yang telah pensiun. Kontes ini diadakan pada tahun kedua era Shoji. Kaisar yang telah pensiun sering kali menjadi lebih berpengaruh. Hal ini dikarenakan mereka dibebaskan dari upacara dan politik yang sangat membatasi mereka. Go-Toba menyalurkan energinya setelah pensiun untuk mendukung puisi, terutama waka. Kaisar Gotoba juga dikenal sebagai penyair yang hebat.[9][18]
Tindakan resmi pertamanya yang berhubungan dengan puisi adalah mengumumkan bahwa ia akan mengadakan dua kontes puisi. Masing-masing diikuti oleh sejumlah penyair terkemuka yang menyusun sekitar 100 waka, yang dikenal sebagai genre hyakushu dari sekuens puisi. Kontes pertamanya dianggap jembatan untuk membangun hubungan politik yang krusial. Apabila penyair yang mengikuti kontes ini tampil menonjol akan maka dia dan kerabatnya akan mendapat banyak manfaat.[1][19][20]
Teika bekerja selama lebih dari dua minggu untuk menyelesaikan sekuens puisi lengkapnya. Sekretaris Go-Toba, Minamoto Ienaga, menyimpan buku harian yang secara eulogis berkaitan dengan kegiatan Go-Toba yang berhubungan dengan puisi. Dari catatan tersebut diketahui bahwa itu adalah puisi urutan seratus oleh Teika. Lebih khusus lagi, puisi nomor 93 ini membuat Teika mendapatkan izin spesial untuk diterima di istana mantan Kaisar yang sangat penting untuk patronasinya di masa depan.[8][21]
Berikut ini adalah puisi no 93 yang ditulis oleh Teika:[22]
| Rōmaji | English |
Kimi ga yo ni
Kasumi o wakeshi
Ashitazu no
Sara ni sawabe no
Ne o ya nakubeki. |
In our Lord's gracious reign,
Will I still have cause to cry aloud
As cries the crane
That now stalks desolate in reedy marshes
Far from its former cloudland of spring haze? |
|
Antologi kekaisaran adalah koleksi waka superior yang disusun oleh perintah kekaisaran. Koleksi-koleksi ini adalah mekanisme untuk menampilkan kekuatan budaya, dan ini tentu saja dapat digunakan untuk menegaskan kekuatan politik.[9]
Teika dan Go-Toba memiliki hubungan yang akrab dan produktif. Teika membantu penyusunan antologi puisi kekaisaran kedelapan dari puisi waka, berjudul Shin-kokin-wakash sekitar 1205. Teika mendapat kehormatan untuk membantu menyusun antologi ini dan mendapatkan kesempatan untuk memasukkan 46 puisinya. Pada Shinkokinshu secara pribadi diawasi oleh Kaisar Gotoba. Walaupun pada umumnya seorang kaisar tidak banyak terlibat dalam proses penyusunan tersebut.[9][18][23]
Pada 1232, dia ditunjuk oleh kaisar Go-Horikawa untuk menyusun antologi kekaisaran kesembilan, Shin chokusenshu. Teika adalah orang pertama yang pernah menjadi penyusun dua antologi kekaisaran.[1][16][24] Shinkokinshu Ini terdiri dari dua puluh volume dengan total 1.376 puisi.[25]
Pada tahun-tahun berikutnya, Go-Toba tidak hanya mempermasalahkan kepribadian Teika, tetapi juga puisinya. Ia mengeluhkan gaya yang lebih bebas yang digunakan Teika yang "tidak memperhatikan topik puisi". Mungkin faktor lain adalah politik. Pada 1209 Teika dipilih sebagai guru puisi untuk shogun baru dan muda, Minamoto no Sanetomo. Keshogunan adalah saingan dan otoritas yang lebih tinggi dari kaisar dan lingkungan kekaisaran.[8][23]