ENSIKLOPEDIA
Ftalat
Ftalat atau ester ftalat merupakan ester dari asam ftalat. Senyawa ini terutama digunakan sebagai pemlastis, yaitu zat yang ditambahkan ke plastik untuk meningkatkan fleksibilitas, transparansi, daya tahan, dan umur pakainya. Ftalat terutama digunakan untuk melunakkan polivinil klorida (PVC). Meskipun ftalat umumnya digunakan sebagai pemlastis, tidak semua pemlastis adalah ftalat. Kedua istilah tersebut spesifik, unik, dan tidak digunakan secara bergantian.
Ftalat dengan berat molekul rendah biasanya digantikan dalam banyak produk di Amerika Serikat, Kanada, dan Uni Eropa karena kekhawatiran kesehatan.[1][2] Ftalat tersebut digantikan oleh ftalat dengan berat molekul lebih tinggi serta pemlastis non-ftalat.
Terdapat banyak bentuk ftalat yang tidak diatur oleh pemerintah.
Produksi
Ester ftalat diproduksi secara industri melalui reaksi ftalat anhidrida dengan alkohol berlebih. Anhidrida ftalat seringkali meleleh. Monoesterifikasi terjadi dengan mudah, tetapi langkah kedua berlangsung lambat:
- C6H4(CO)2O + ROH → C6H4(CO2R)(CO2H)
- C6H4(CO2R)(CO2H) + ROH → C6H4(CO2R)2 + H2O
Konversi dilakukan pada suhu tinggi untuk menghilangkan air. Katalis tipikal berbasis alkoksida atau karboksilat timah atau titanium.[3]
Sifat ftalat dapat diubah dengan mengganti alkohol.[4] Sekitar 30 jenis ftalat penting secara komersial, baik saat ini maupun di masa lalu. Pangsa pasar pemlastis global ftalat telah menurun sejak sekitar tahun 2000, namun total produksinya meningkat, dengan sekitar 5,5 juta ton diproduksi pada tahun 2015,[5] naik dari sekitar 2,7 juta ton pada tahun 1980-an.[6] Penjelasannya adalah meningkatnya ukuran pasar pemlastis, sebagian besar didorong oleh peningkatan produksi PVC, yang hampir berlipat ganda antara tahun 2000 dan 2020.[7] Republik Rakyat Cina adalah konsumen terbesar, menyumbang sekitar 45% dari seluruh penggunaan. Eropa dan Amerika Serikat bersama-sama menyumbang sekitar 25% dari penggunaan, dengan sisanya tersebar luas di seluruh dunia.[5]
| Nama | Singkatan | Nomor karbon alkohol | Berat molekul (g/mol) | Nomor CAS | Sifat-sifat yang menjadi perhatian bagi kesehatan manusia (klasifikasi ECHA 2022)[8] |
|---|---|---|---|---|---|
| Dimetil ftalat | DMP | 1 | 194,18 | 131-11-3 | |
| Dietil ftalat | DEP | 2 | 222,24 | 84-66-2 | Sedang dalam penilaian sebagai disruptor endokrin |
| Dialil ftalat | DAP | 3 | 246,26 | 131-17-9 | Sensitizer kulit |
| Di-n-propil ftalat | DPP | 3 | 250,29 | 131-16-8 | |
| Di-n-butil ftalat | DBP | 4 | 278,34 | 84-74-2 | Toksik bagi reproduksi, disruptor endokrin. |
| Diisobutil ftalat | DIBP | 4 | 278,34 | 84-69-5 | Toksik bagi reproduksi, disruptor endokrin |
| Di-2-metoksietil ftalat | DMEP | 3 | 282,29 | 117-82-8 | Toksik bagi reproduksi |
| Butil sikloheksil ftalat | BCP | 4 – 6 | 304,38 | 84-64-0 | |
| Di-n-pentil ftalat | DNPP | 5 | 306,4 | 131-18-0 | Toksik bagi reproduksi |
| Disikloheksil ftalat | DCP | 6 | 330,42 | 84-61-7 | Toksik bagi reproduksi, disruptor endokrin, sensitizer kulit |
| Butil benzil ftalat | BBP | 4 – 7 | 312,36 | 85-68-7 | Toksik bagi reproduksi, disruptor endokrin |
| Di-n-heksil ftalat | DNHP | 6 | 334,45 | 84-75-3 | Toksik bagi reproduksi |
| Diisoheksil ftalat | DIHxP | 6 | 334,45 | 146-50-9 | Toksik bagi reproduksi |
| Diisoheptil ftalat | DIHpP | 7 | 362,5 | 41451-28-9 | Toksik bagi reproduksi |
| Butil desil ftalat | BDP | 4 – 10 | 362,5 | 89-19-0 | |
| Dibutoksi etil ftalat | DBEP | 6 | 366,45 | 117-83-9 | |
| Di(2-etilheksil) ftalat | DEHP, DOP | 8 | 390,56 | 117-81-7 | Toksik bagi reproduksi, disruptor endokrin |
| Di(n-oktil) ftalat | DNOP | 8 | 390,56 | 117-84-0 | Tidak diklasifikasikan tetapi beberapa penggunaannya dibatasi |
| Diisooktil ftalat | DIOP | 8 | 390,56 | 27554-26-3 | Toksik bagi reproduksi |
| n-Oktil n-desil ftalat | ODP | 8 – 10 | 418,61 | 119-07-3 | |
| Diisononil ftalat' | DINP | 9 | 418,61 | 28553-12-0 | |
| Di(2-propilheptil) ftalat | DPHP | 10 | 446,66 | 53306-54-0 | Sedang dalam penilaian sebagai disruptor endokrin |
| Diisodesil ftalat | DIDP | 10 | 446,66 | 26761-40-0 | |
| Diundesil ftalat | DUP | 11 | 474,72 | 3648-20-2 | |
| Diisoundesil ftalat | DIUP | 11 | 474,72 | 85507-79-5 | |
| Ditridesil ftalat | DTDP | 13 | 530,82 | 119-06-2 | |
| Diisotridesil ftalat | DITP | 13 | 530,82 | 68515-47-9 |
Kegunaan
Pemlastis PVC

Antara 90 dan 95% dari semua ftalat digunakan sebagai pemlastis untuk produksi PVC fleksibel.[9][10][11] Sebagian besar digunakan dalam film dan selubung kabel.[12] PVC fleksibel dapat terdiri dari lebih dari 85% pemlastis berdasarkan massa, namun PVC yang tidak diplastiskan (UPVC) seharusnya tidak mengandung pemlastis sama sekali. Ftalat adalah senyawa penting komersial pertama untuk peran ini,[13] sebuah keunggulan historis yang telah menyebabkan senyawa ini tertanam kuat dalam teknologi PVC fleksibel. Di antara plastik umum, PVC unik dalam penerimaannya terhadap sejumlah besar pemlastis dengan perubahan bertahap dalam sifat fisik dari padatan kaku menjadi gel lunak. Ftalat yang berasal dari alkohol dengan 7–13 atom karbon menempati posisi istimewa sebagai pemlastis serbaguna, cocok untuk hampir semua aplikasi PVC fleksibel.[14][15] Ftalat yang lebih besar dari ini memiliki kompatibilitas terbatas dalam PVC, dengan di(isotridesil) ftalat mewakili batas atas praktis. Sebaliknya, pemlastis yang berasal dari alkohol dengan 4–6 atom karbon terlalu mudah menguap untuk digunakan sendiri, tetapi telah digunakan bersama senyawa lain sebagai pemlastis sekunder, di mana mereka meningkatkan fleksibilitas suhu rendah. Senyawa yang berasal dari alkohol dengan 1–3 atom karbon sama sekali tidak digunakan sebagai pemlastis dalam PVC, karena menghasilkan uap yang berlebihan pada suhu pemrosesan (biasanya 180–210 °C).[14]
Secara historis, DINP, DEHP, BBP, DBP, dan DIHP telah menjadi ftalat yang paling penting, namun banyak dari senyawa ini sekarang menghadapi tekanan regulasi dan penghapusan bertahap. Hampir semua ftalat yang berasal dari alkohol dengan jumlah karbon antara 3 dan 8 diklasifikasikan sebagai toksik oleh ECHA, termasuk Bis(2-etilheksil) ftalat (DEHP atau DOP), yang telah lama menjadi ftalat yang paling banyak digunakan, dengan produksi komersial dimulai pada tahun 1930-an.[16][12] Di Uni Eropa, penggunaan DEHP dibatasi berdasarkan REACH dan hanya dapat digunakan dalam kasus-kasus tertentu jika telah diberikan izin; pembatasan serupa ada di banyak yurisdiksi lain. Meskipun demikian, penghapusan DEHP berjalan lambat dan masih merupakan pemlastis yang paling sering digunakan pada tahun 2018, dengan perkiraan produksi global sebesar 3,24 juta ton.[12] DINP dan DIDP digunakan sebagai pengganti DEHP dalam banyak penggunaan, karena tidak diklasifikasikan sebagai bahan berbahaya.[17] Pemlastis non-ftalat juga semakin banyak digunakan.
| Kandungan pemlastis (% DINP berdasarkan berat) | Gravitasi spesifik (20 °C) | Kekerasan penopang (tipe A, 15 s) | Kekakuan lentur (Megapascal) | Kekuatan tarik (Megapascal) | Pemanjangan saat putus (%) | Contoh penggunaan | |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Rigid | 0 | 1,4 | 900 | 41 | <15 | PVC tanpa pemlastis (UPVC): kusen dan ambang jendela, pintu, pipa rigid | |
| Semi-rigid | 25 | 1,26 | 94 | 69 | 31 | 225 | Lantai vinil, pipa fleksibel, film tipis (bungkus plastik regang tinggi), spanduk iklan |
| Fleksibel | 33 | 1,22 | 84 | 12 | 21 | 295 | Insulasi kawat dan kabel, pipa fleksibel |
| Sangat fleksibel | 44 | 1,17 | 66 | 3,4 | 14 | 400 | Sepatu bot dan pakaian, barang tiup |
| Luar biasa fleksibel | 86 | 1,02 | < 10 | Umpan tiruan, lempung polimer, tinta plastisol |
Bahan Pemlastik Non-PVC
Sistem polimer yang diplastiskan lainnya termasuk polivinil butiral (terutama bentuk yang digunakan untuk membuat kaca laminasi), PVA dan kopolimernya seperti PVCA. Ftalat juga kompatibel dengan nilon, polistirena, poliuretana, dan karet alami tertentu; tetapi penggunaannya dalam bahan-bahan ini sangat terbatas.[11]
Pelarut dan flegmatiser
Ester ftalat banyak digunakan sebagai pelarut untuk peroksida organik yang sangat reaktif. Ribuan ton dikonsumsi setiap tahun untuk tujuan ini. Keunggulan utama yang ditawarkan oleh ester ini adalah sifatnya yang bersifat flegmatiser, yaitu meminimalkan kecenderungan eksplosif dari sekelompok senyawa kimia yang berpotensi berbahaya untuk ditangani.[19]
Penggunaan Lain
Sejumlah kecil ftalat digunakan dalam produk perawatan pribadi seperti eyeshadow, pelembap, cat kuku, sabun cair, dan semprot rambut.[20][21][3] Ftalat dengan berat molekul rendah seperti dimetil ftalat dan dietil ftalat digunakan sebagai fiksatif untuk parfum.[22][23] Dimetil ftalat juga telah digunakan sebagai penolak serangga dan sangat berguna melawan caplak Ixodidae penyebab penyakit Lyme,[24] dan spesies nyamuk seperti Anopheles stephensi, Culex pipiens, dan Aedes aegypti,[25][26][27]
Sifat-Sifat
Mekanisme ftalat dan senyawa terkait dalam memplastiskan polimer polar telah menjadi subjek penelitian intensif sejak tahun 1960-an.[28] Mekanisme tersebut adalah interaksi polar antara pusat polar molekul ftalat (fungsi C=O) dan area bermuatan positif dari rantai vinil, yang biasanya berada pada atom karbon ikatan karbon-klorin. Untuk mewujudkan hal ini, polimer harus dipanaskan dengan adanya pemlastis, pertama di atas Tg polimer dan kemudian hingga mencapai keadaan leleh. Hal ini memungkinkan terbentuknya campuran polimer dan pemlastis yang intim, dan terjadinya interaksi ini. Ketika didinginkan, interaksi ini tetap ada dan jaringan rantai PVC tidak dapat terbentuk kembali (seperti yang ada pada PVC yang tidak diplastiskan, atau PVC-U). Rantai alkil ftalat kemudian juga melindungi rantai PVC satu sama lain. Mereka tercampur dalam artikel plastik sebagai hasil dari proses manufaktur.[29]
Alternatif

Karena murah, tidak toksik (dalam arti akut), tidak berwarna, tidak korosif, dapat terurai secara hayati, dan dengan sifat fisik yang mudah disesuaikan, ester ftalat hampir merupakan pemlastis yang ideal. Di antara banyak pemlastis alternatif adalah dioktil tereftalat (DEHT) (suatu isomer tereftalat dengan DEHP) dan ester diisononil asam dikarboksilat 1,2-sikloheksana (DINCH) (versi terhidrogenasi dari DINP). Baik DEHT maupun DINCH telah digunakan dalam jumlah besar untuk berbagai produk yang bersentuhan dengan manusia sebagai pemlastis alternatif untuk DEHP dan DINP. Beberapa produk tersebut termasuk alat medis, mainan, dan kemasan makanan. DEHT dan DINCH lebih hidrofobik daripada alternatif ftalat lainnya seperti bis(2-etilheksil) adipat (DEHA) dan diisodesil adipat (DIDA). Karena pemlastis alternatif seperti DEHT dan DINCH lebih mungkin mengikat materi organik dan partikel udara di dalam ruangan, paparan terjadi terutama melalui konsumsi makanan dan kontak dengan debu.[30]
Banyak pemlastis berbasis bio yang terbuat dari minyak nabati telah dikembangkan.[31]
Kejadian dan paparan
Paparan pada manusia
Karena banyaknya plastik yang dipolimerisasi, orang sering terpapar ftalat. Misalnya, sebagian besar warga Amerika yang diuji oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat memiliki metabolit dari beberapa ftalat dalam urin mereka.[32] Paparan ftalat lebih mungkin terjadi pada wanita dan orang kulit berwarna.[33] Perbedaan ditemukan antara warga Amerika keturunan Meksiko, warga Amerika keturunan Afrika, dan warga Amerika keturunan Kaukasia dalam hal risiko keseluruhan gangguan homeostasis glukosa. Dengan warga Amerika keturunan Meksiko mengalami peningkatan glukosa darah puasa (FBG) sebesar 5,82 mg/dL; warga Amerika keturunan Afrika mengalami peningkatan glukosa darah puasa sebesar 3,63 mg/dL; dan warga Amerika keturunan Kaukasia mengalami peningkatan glukosa darah puasa sebesar 1,79 mg/dL; terdapat bukti peningkatan risiko bagi kelompok minoritas.[33] Secara keseluruhan, penelitian ini menyimpulkan bahwa ftalat dapat mengubah homeostasis glukosa dan sensitivitas insulin. Tingkat metabolit ftalat yang lebih tinggi dikaitkan dengan peningkatan FBG, insulin puasa, dan resistensi insulin. Wanita kulit hitam non-Hispanik dan wanita Hispanik memiliki tingkat metabolit ftalat yang lebih tinggi.[34]
Konsentrasi DEHP dalam debu yang lebih tinggi ditemukan di rumah-rumah anak-anak dengan asma dan alergi, dibandingkan dengan rumah-rumah anak-anak yang sehat. Penulis penelitian menyatakan, "Konsentrasi DEHP ditemukan secara signifikan terkait dengan mengi dalam 12 bulan terakhir seperti yang dilaporkan oleh orang tua." Ftalat ditemukan di hampir setiap rumah yang disampel di Bulgaria. Studi yang sama menemukan bahwa DEHP, BBzP, dan DnOP berada dalam konsentrasi yang jauh lebih tinggi dalam sampel debu yang dikumpulkan di rumah-rumah tempat bahan pemoles digunakan. Data tentang bahan lantai dikumpulkan, tetapi tidak ada perbedaan signifikan dalam konsentrasi antara rumah yang tidak menggunakan pemoles lantai yang memiliki lantai balatum (PVC atau linoleum) dan rumah dengan lantai kayu. Frekuensi pembersihan debu yang tinggi memang menurunkan konsentrasi.[35]
Secara umum, paparan ftalat pada anak-anak lebih besar daripada pada orang dewasa. Dalam sebuah studi Kanada tahun 1990-an yang memodelkan paparan lingkungan, diperkirakan bahwa paparan harian DEHP adalah 9 μg/kg berat badan/hari pada bayi, 19 μg/kg berat badan/hari pada balita, 14 μg/kg berat badan/hari pada anak-anak, dan 6 μg/kg berat badan/hari pada orang dewasa.[36] Bayi dan balita memiliki risiko paparan terbesar karena perilaku mereka yang suka memasukkan benda ke mulut. Produk perawatan tubuh yang mengandung ftalat merupakan sumber paparan bagi bayi. Para penulis studi tahun 2008 "mengamati bahwa penggunaan losion bayi, bedak bayi, dan sampo bayi yang dilaporkan dikaitkan dengan peningkatan konsentrasi metabolit ftalat dalam urin bayi, dan hubungan ini paling kuat pada bayi yang lebih muda. Temuan ini menunjukkan bahwa paparan dermal dapat berkontribusi secara signifikan terhadap beban ftalat dalam tubuh pada populasi ini." Meskipun mereka tidak meneliti hasil kesehatan, mereka mencatat bahwa "Bayi muda lebih rentan terhadap potensi efek samping ftalat mengingat peningkatan dosis per unit luas permukaan tubuh, kemampuan metabolisme, dan sistem endokrin dan reproduksi yang sedang berkembang."[37]
Bayi dan anak-anak yang dirawat di rumah sakit sangat rentan terhadap paparan ftalat. Perangkat medis dan selang dapat mengandung 20–40% Di(2-etilheksil) ftalat (DEHP) berdasarkan berat, yang "mudah larut dari selang ketika dipanaskan (seperti dengan larutan garam/darah hangat)". Beberapa perangkat medis mengandung ftalat termasuk, tetapi tidak terbatas pada, selang infus, sarung tangan, selang nasogastrik, dan selang pernapasan. Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) melakukan penilaian risiko ekstensif terhadap ftalat dalam lingkungan medis dan menemukan bahwa bayi baru lahir mungkin terpapar lima kali lebih banyak daripada asupan harian yang dapat ditoleransi. Temuan ini menyebabkan kesimpulan FDA bahwa, "anak-anak yang menjalani prosedur medis tertentu mungkin merupakan populasi yang berisiko lebih tinggi terhadap efek DEHP".[38]
Pada tahun 2008, Badan Perlindungan Lingkungan Denmark (EPA) menemukan berbagai ftalat dalam penghapus dan memperingatkan risiko kesehatan ketika anak-anak secara teratur mengisap dan mengunyahnya. Namun, Komite Ilmiah Komisi Eropa tentang Risiko Kesehatan dan Lingkungan (SCHER) menganggap bahwa: bahkan dalam kasus ketika anak-anak menggigit potongan penghapus dan menelannya, kecil kemungkinan paparan ini menyebabkan konsekuensi kesehatan.[39]
Pada tahun 2008, Dewan Riset Nasional Amerika Serikat merekomendasikan agar efek kumulatif ftalat dan antiandrogen lainnya diselidiki. Hal ini mengkritik pedoman EPA AS yang menetapkan bahwa ketika memeriksa efek kumulatif, bahan kimia yang diperiksa harus memiliki mekanisme kerja yang serupa atau struktur yang serupa, sehingga dianggap terlalu ketat. Sebaliknya, hal ini merekomendasikan agar efek bahan kimia yang menyebabkan dampak buruk yang serupa diperiksa secara kumulatif.[40]
Makanan
Ftalat ditemukan dalam makanan,[41] terutama makanan cepat saji. Ftalat DnBP terdeteksi dalam 81 persen sampel, sedangkan DEHP ditemukan dalam 70 persen. Dietilheksil tereftalat (DEHT) selaku alternatif utama DEHP, terdeteksi dalam 86%.[42] Sebuah studi tahun 2024 oleh Consumer Reports menemukan ftalat di semua produk toko bahan makanan dan makanan cepat saji yang mereka uji kecuali satu.[43]
Diet diyakini sebagai sumber utama DEHP dan ftalat lainnya pada populasi umum. Makanan berlemak seperti susu, mentega, dan daging merupakan sumber utama. Studi menunjukkan bahwa paparan ftalat lebih besar dari konsumsi makanan tertentu, daripada paparan melalui botol air, seperti yang paling sering dipikirkan pertama kali dengan bahan kimia plastik.[44] Ftalat dengan berat molekul rendah seperti DEP, DBP, BBzP dapat diserap melalui kulit. Paparan inhalasi juga signifikan dengan ftalat yang lebih mudah menguap.[36] Tabung PVC, sarung tangan vinil yang digunakan dalam penanganan makanan, dan kemasan makanan dapat menjadi sumber potensial kontaminasi ftalat dalam makanan cepat saji.[45]
Sebuah studi yang dilakukan antara tahun 2003 dan 2010 yang menganalisis data dari 9.000 individu, menemukan bahwa mereka yang melaporkan telah makan di restoran cepat saji memiliki kadar dua ftalat terpisah (DEHP dan DiNP) yang jauh lebih tinggi dalam sampel urin mereka. Bahkan konsumsi makanan cepat saji dalam jumlah kecil pun menyebabkan peningkatan kadar ftalat. "Orang yang melaporkan hanya makan sedikit makanan cepat saji memiliki kadar DEHP yang 15,5 persen lebih tinggi dan kadar DiNP yang 25 persen lebih tinggi daripada mereka yang mengatakan tidak makan sama sekali. Untuk orang yang melaporkan makan dalam jumlah besar, peningkatannya masing-masing adalah 24 persen dan 39 persen."[46] Ftalat memiliki waktu paruh yang singkat yakni kurang dari lima jam, sehingga keberadaannya yang meluas kemungkinan menunjukkan paparan terus-menerus daripada akumulasi jangka panjang di dalam tubuh.[47]
Udara
Konsentrasi udara luar ruangan lebih tinggi di daerah perkotaan dan pinggir kota daripada di kawasan perdesaan dan terpencil.[48] Mereka juga tidak menimbulkan toksisitas akut.[19]
Pemlastis umum seperti DEHP hanya mudah menguap. Suhu udara yang lebih tinggi mengakibatkan konsentrasi ftalat yang lebih tinggi di udara. Lantai PVC menyebabkan konsentrasi BBP dan DEHP yang lebih tinggi, yang lebih banyak terdapat dalam debu.[48] Sebuah studi Swedia tahun 2012 terhadap anak-anak menemukan bahwa ftalat dari lantai PVC diserap ke dalam tubuh mereka, menunjukkan bahwa anak-anak dapat menelan ftalat tidak hanya dari makanan tetapi juga melalui pernapasan dan melalui kulit.[49]
Kemunculan alami
Berbagai tumbuhan dan mikroorganisme menghasilkan sejumlah kecil ester ftalat, yang disebut ftalat endogen.[50][51] Biosintesis diyakini melibatkan jalur sikimat yang dimodifikasi.[52][53] Sejauh mana produksi alami ini belum sepenuhnya diketahui, tetapi dapat menciptakan latar belakang polusi ftalat.
Biodegradasi
Ftalat tidak bertahan lama di lingkungan karena biodegradasi yang cepat, seperti yang telah dibuktikan oleh banyak penelitian. Bakteri aerob dan anaerob mendorong oksidasi cincin untuk menghasilkan turunan fenolik yang selanjutnya terdegradasi. Bahkan tanpa adanya bakteri, tetapi terutama dengan adanya tanah, ester ftalat mengalami hidrolisis menjadi ftalat serta proses lain yang mempengaruhi ikatan ester.[54]
Fotodegradasi adalah jalur degradasi lainnya.[55]
Penelitian

Ftalat sedang diteliti sebagai kelas disruptor endokrin potensial, zat yang dapat mengganggu respons hormonal normal dalam berbagai kondisi lingkungan.[56][57][58] Kekhawatiran ini telah memicu tuntutan untuk melarang atau membatasi penggunaan ftalat dalam mainan bayi.[59]
Sebuah tinjauan tahun 2024 menunjukkan bahwa paparan ibu terhadap ftalat lingkungan dapat memiliki dampak buruk pada kehamilan, seperti tingkat keguguran yang lebih tinggi dan berat lahir yang lebih rendah.[56] Tinjauan lain menunjukkan penurunan kecil fungsi paru-paru pada remaja dan anak-anak yang telah terpapar ftalat.[60]
Sebuah tinjauan tahun 2017 menunjukkan cara-cara untuk menghindari paparan ftalat: (1) mengonsumsi makanan seimbang untuk menghindari konsumsi terlalu banyak pengganggu endokrin dari satu sumber, (2) menghilangkan makanan kaleng atau kemasan untuk membatasi konsumsi ftalat DEHP yang terlepas dari plastik, dan (3) menghilangkan penggunaan produk perawatan pribadi seperti pelembap, parfum, atau kosmetik yang mengandung ftalat.[61] Paparan ftalat dapat meningkatkan risiko asma.[62]
Sebuah studi tahun 2018 menunjukkan bahwa paparan ftalat selama tahap perkembangan di masa kanak-kanak dapat berdampak negatif pada fungsi jaringan adiposa dan homeostasis metabolik, yang mungkin meningkatkan risiko obesitas.[63]
Status Hukum
Pemerintah Australia, Selandia Baru, Kanada, AS (termasuk California) telah menetapkan bahwa banyak ftalat tidak berbahaya bagi kesehatan manusia atau lingkungan dalam jumlah yang biasanya ditemukan, dan oleh karena itu secara hukum tidak diatur.[64][65][66][67] Fokus regulasi di yurisdiksi ini terutama pada dietil ftalat (DEHP), yang umumnya dianggap sebagai toksin karsinogenik yang memerlukan regulasi.[65][66][67][68]
Badan Kimia Eropa menganggap orto-ftalat seperti DEHP, dibutil ftalat, diisobutil ftalat, dan benzil butil ftalat berpotensi berbahaya bagi kesuburan, bayi yang belum lahir, dan sistem endokrin. Uni Eropa juga mengatur beberapa ftalat untuk melindungi lingkungan.[69]
Australia dan Selandia Baru
Survei tahun 2017 tentang makanan dan kemasan di Australia dan Selandia Baru menghasilkan pengakuan DEHP dan diisononil ftalat sebagai salah satu kontaminan yang berpotensi membahayakan kesehatan manusia, sehingga menghasilkan beberapa peraturan tentang ftalat ini di kedua negara tersebut.[64] Australia memiliki larangan permanen terhadap produk anak-anak tertentu yang mengandung DEHP, yang dianggap beracun jika produk yang mengandungnya dimasukkan ke dalam mulut anak-anak hingga usia tiga tahun.[68]
Kanada
Pada tahun 1994, penilaian Health Canada menemukan bahwa DEHP dan produk ftalat lainnya, yakni B79P, berbahaya bagi kesehatan manusia. Pemerintah federal Kanada menanggapi dengan melarang penggunaannya dalam kosmetik dan membatasi penggunaannya dalam penggunaan lain, seperti mainan lunak dan produk perawatan anak.[70] Pada tahun 1999, DEHP dimasukkan ke dalam Daftar Zat Beracun nasional, berdasarkan Undang-Undang Perlindungan Lingkungan Kanada tahun 1999, dan pada tahun 2021 zat ini dianggap berisiko bagi lingkungan.[65][71] Zat ini termasuk dalam Daftar Bahan yang Dilarang Digunakan dalam Produk Kosmetik.[71]
Dua puluh dari 28 zat ftalat yang berada di bawah program penyaringan nasional dianggap berpotensi berisiko bagi kesehatan manusia atau lingkungan. Hingga tahun 2021, peraturan untuk melindungi lingkungan dari DEHP dan B79P belum diberlakukan.[65]
Uni Eropa

Beberapa ftalat telah dibatasi di Uni Eropa untuk digunakan dalam mainan anak-anak sejak tahun 1999.[69][72]
Secara umum, ftalat dengan berat molekul tinggi DINP, DIDP, dan DPHP telah terdaftar di bawah REACH dan telah menunjukkan keamanannya untuk digunakan dalam aplikasi saat ini. Mereka tidak diklasifikasikan untuk efek kesehatan atau lingkungan apa pun.
Produk dengan berat molekul rendah BBP, DEHP, DIBP, dan DBP ditambahkan ke Daftar Kandidat Zat untuk Otorisasi berdasarkan REACH pada tahun 2008–09, dan ditambahkan ke Daftar Otorisasi, Lampiran XIV, pada tahun 2012.[1] Ini berarti bahwa sejak Februari 2015, produk-produk tersebut tidak diizinkan untuk diproduksi di Uni Eropa kecuali otorisasi telah diberikan untuk penggunaan spesifik, meskipun masih dapat diimpor dalam produk konsumen.[69][73] Pembuatan berkas Lampiran XV, yang dapat melarang impor produk yang mengandung bahan-bahan kimia ini, sedang dipersiapkan bersama oleh ECHA dan otoritas Denmark, dan diharapkan akan diserahkan pada April 2016.[74]
Sejak tahun 2021, Arahan Kerangka Kerja Limbah Eropa mewajibkan produsen, importir, dan distributor produk yang mengandung ftalat dalam Daftar Kandidat REACH untuk memberitahu Badan Kimia Eropa.[69]
Pada bulan November 2021, Komisi Eropa menambahkan sifat pengganggu endokrin pada DEHP dan ftalat lainnya, yang berarti bahwa perusahaan harus mengajukan otorisasi REACH untuk beberapa penggunaan yang sebelumnya dikecualikan, termasuk dalam kemasan makanan, alat kesehatan, dan kemasan obat.[69]
Peraturan tambahan
| Tanggal | Aksi | Referensi |
|---|---|---|
| Desember 14, 2005 | Uni Eropa membatasi penggunaan ftalat pada beberapa mainan anak-anak. | [butuh rujukan] |
| Juni 8, 2011 | Menjamin penjualan produk electronik bebas ftalat. | [75] |
| Juli 4, 2017 | Termasuk dalam daftar kandidat yang disebut sebagai toksikan bagi reproduksi. | [76] |
| November 23, 2021 | DIBP dinyatakan sebagai zat kimia pengganggu endokrin. | [77] |
| Augustus 11, 2021 | Parlemen Eropa melarang DIBP dan ftalat lainnya dari produk sanitasi. | [78] |
Amerika Serikat
Pada bulan Agustus 2008, Kongres Amerika Serikat mengesahkan dan Presiden George W. Bush menandatangani Undang-Undang Peningkatan Keamanan Produk Konsumen (CPSIA), yang menjadi undang-undang publik 110–314.[79] Pasal 108 undang-undang tersebut menetapkan bahwa mulai tanggal 10 Februari 2009, "adalah melanggar hukum bagi siapa pun untuk memproduksi untuk dijual, menawarkan untuk dijual, mendistribusikan dalam perdagangan, atau mengimpor ke Amerika Serikat mainan anak-anak atau barang perawatan anak yang mengandung konsentrasi lebih dari 0,1 persen" DEHP, DBP, atau BBP dan "adalah melanggar hukum bagi siapa pun untuk memproduksi untuk dijual, menawarkan untuk dijual, mendistribusikan dalam perdagangan, atau mengimpor ke Amerika Serikat mainan anak-anak yang dapat dimasukkan ke dalam mulut anak atau barang perawatan anak yang mengandung konsentrasi lebih dari 0,1 persen" DINP, DIDP, dan DnOP. Lebih lanjut, undang-undang tersebut mewajibkan pembentukan dewan peninjau permanen untuk menentukan keamanan ftalat lainnya. Sebelum undang-undang ini, Komisi Keamanan Produk Konsumen telah menetapkan bahwa penarikan sukarela DEHP dan diisononil ftalat (DINP) dari mainan gigit bayi, dot, dan mainan kerincingan telah menghilangkan risiko bagi anak-anak, dan menyarankan untuk tidak memberlakukan larangan ftalat.[80]
Pada tahun 1986, pemilih California menyetujui sebuah inisiatif untuk mengatasi kekhawatiran tentang paparan bahan kimia beracun. Inisiatif itu menjadi Undang-Undang Air Minum Aman dan Penegakan Hukum Bahan Kimia Beracun tahun 1986, juga disebut Proposisi 65.[81] Pada bulan Desember 2013, DINP terdaftar sebagai bahan kimia "yang diketahui oleh Negara Bagian California menyebabkan kanker".[82] Mulai Desember 2014, perusahaan dengan sepuluh karyawan atau lebih yang memproduksi, mendistribusikan, atau menjual produk yang mengandung DINP diharuskan untuk memberikan peringatan yang jelas dan masuk akal untuk produk tersebut. Kantor Penilaian Bahaya Kesehatan Lingkungan California, yang bertugas memelihara daftar Proposisi 65 dan menegakkan ketentuannya, telah menerapkan "Tingkat Risiko Tidak Signifikan" sebesar 146 μg/hari untuk DINP.[66]
CDC memberikan pernyataan kesehatan masyarakat tahun 2011 tentang dietil ftalat yang menjelaskan peraturan dan pedoman mengenai kemungkinan efek kesehatan yang berbahaya. Berdasarkan undang-undang untuk lokasi Superfund, Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (EPA) menyebut dietil ftalat sebagai zat berbahaya. Administrasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (OSHA) menyatakan bahwa jumlah maksimum dietil ftalat yang diizinkan di udara ruang kerja selama 8 jam kerja sehari, 40 jam kerja seminggu, adalah 5 miligram per meter kubik.[67]
Identifikasi dalam plastik

Ftalat digunakan dalam beberapa formulasi PVC, tetapi tidak semua, dan tidak ada persyaratan pelabelan khusus untuk ftalat. Plastik PVC biasanya digunakan untuk berbagai wadah dan kemasan keras, selang dan kantong medis, dan diberi label "Tipe 3". Namun, keberadaan ftalat, bukan pemlastis lain, tidak ditandai pada barang-barang PVC. Hanya PVC tanpa pemlastis (uPVC), yang terutama digunakan sebagai bahan konstruksi keras, yang tidak mengandung pemlastis. Jika diperlukan pengujian yang lebih akurat, analisis kimia, misalnya dengan kromatografi gas atau kromatografi cair, dapat menentukan keberadaan ftalat.
Polietilena tereftalat (PET, PETE, Terylene, Dacron) adalah zat utama yang digunakan untuk mengemas air minum dalam botol dan banyak minuman soda. Produk yang mengandung PETE diberi label "Tipe 1" (dengan angka "1" di dalam segitiga daur ulang). Meskipun kata "ftalat" muncul dalam namanya, PETE tidak menggunakan ftalat sebagai pemlastis. Polimer tereftalat PETE dan pemlastis ester ftalat adalah zat yang berbeda secara kimia.[84] Meskipun demikian, banyak penelitian telah menemukan ftalat, seperti DEHP dalam air kemasan dan soda. Salah satu hipotesisnya adalah bahwa zat-zat ini mungkin telah masuk selama proses daur ulang plastik.[85]
Lihat juga
- Xenoestrogen
- Pemlastis non-ftalat seperti
- Ester diisononil asam dikarboksilat 1,2-sikloheksana,
- Dioktil tereftalat
- Sitrat
- Antiandrogen pada lingkungan
Referensi
- 1 2 Templat:CELEX
- ↑ "Phthalates | Assessing and Managing Chemicals Under TSCA". www.epa.gov (dalam bahasa Inggris). 21 September 2015. Diakses tanggal 7 April 2017.
- 1 2 Peter M. Lorz, Friedrich K. Towae, Walter Enke, Rudolf Jäckh, Naresh Bhargava, Wolfgang Hillesheim "Phthalic Acid and Derivatives" in Ullmann's Encyclopedia of Industrial Chemistry, 2007, Wiley-VCH, Weinheim. DOI:10.1002/14356007.a20_181.pub2
- ↑ Krauskopf LG (September 1993). "Plasticizer structure/performance relationships". Journal of Vinyl and Additive Technology. 15 (3): 140–147. doi:10.1002/vnl.730150306.
- 1 2 Holland M (6 Juni 2018). "Socio-economic assessment of phthalates". Organisation for Economic Co-operation and Development. OECD Environment Working Papers: 15. doi:10.1787/a38a0e34-en. S2CID 134543052.
- ↑ "TR 019 – An Assessment of Occurrence and Effects of Dialkyl-o-Phthalates in the Environment" (PDF). ECETOC. 29 Mei 1985.
- ↑ Geyer, Roland; Jambeck, Jenna R.; Law, Kara Lavender (Juli 2017). "Production, use, and fate of all plastics ever made". Science Advances. 3 (7) e1700782. Bibcode:2017SciA....3E0782G. doi:10.1126/sciadv.1700782. PMC 5517107. PMID 28776036.
- ↑ "Search for Chemicals – ECHA". echa.europa.eu. European Chemicals Agency. Diakses tanggal 9 Juni 2022.
Enter CAS No's to validate manually
- ↑ Latini G, De Felice C, Verrotti A (November 2004). "Plasticizers, infant nutrition and reproductive health". Reproductive Toxicology. 19 (1): 27–33. Bibcode:2004RepTx..19...27L. doi:10.1016/j.reprotox.2004.05.011. PMID 15336709.
- ↑ Bi M, Liu W, Luan X, Li M, Liu M, Liu W, Cui Z (Oktober 2021). "Production, Use, and Fate of Phthalic Acid Esters for Polyvinyl Chloride Products in China". Environmental Science & Technology. 55 (20): 13980–13989. Bibcode:2021EnST...5513980B. doi:10.1021/acs.est.1c02374. PMID 34617437. S2CID 238422673.
- 1 2 Cadogan DF, Howick CJ (15 Juni 2000). "Plasticizers". Ullmann's Encyclopedia of Industrial Chemistry. 27: 613–614. doi:10.1002/14356007.a20_439. ISBN 3-527-30673-0.
- 1 2 3 "Market Report Plasticizers: Industry Analysis|Market Research". www.ceresana.com. Diakses tanggal 19 Mei 2022.
- ↑ Semon WL, Stahl GA (April 1981). "History of Vinyl Chloride Polymers". Journal of Macromolecular Science: Part A – Chemistry. 15 (6): 1263–1278. doi:10.1080/00222338108066464.
- 1 2 Krauskopf LG (2009). "3.13 Plasticizers". Plastics additives handbook (Edisi 6.). Munich: Carl Hanser Verlag. hlm. 485–511. ISBN 978-3-446-40801-2.
- ↑ Godwin A (26 Juli 2010). "Uses of Phthalates and Other Plasticizers" (PDF). cpsc.gov. ExxonMobil Chemical Company. Diakses tanggal 19 Mei 2022.
- ↑ IARC Monographs on the Evaluation of the Carcinogenic Risk of Chemicals to Humans Volume 29: Some industrial chemicals and dyestuffs (PDF). [Lyon]: International Agency for Research on Cancer. 1982. hlm. 271. ISBN 978-92-832-1229-4.
- ↑ Ventrice P, Ventrice D, Russo E, De Sarro G (Juli 2013). "Phthalates: European regulation, chemistry, pharmacokinetic and related toxicity". Environmental Toxicology and Pharmacology. 36 (1): 88–96. Bibcode:2013EnvTP..36...88V. doi:10.1016/j.etap.2013.03.014. PMID 23603460.
- ↑ Krauskopf LG (2009). Plastics additives handbook (Edisi 6th). Munich: Carl Hanser Verlag. hlm. 495. ISBN 978-3-446-40801-2.
- 1 2 "Peroxy Compounds, Organic", Ullmann's Encyclopedia of Industrial Chemistry, Weinheim: Wiley-VCH, 2005, doi:10.1002/14356007.a19_199
- ↑ Koo HJ, Lee BM (Desember 2004). "Estimated exposure to phthalates in cosmetics and risk assessment". Journal of Toxicology and Environmental Health. Part A. 67 (23–24): 1901–1914. Bibcode:2004JTEHA..67.1901K. doi:10.1080/15287390490513300. PMID 15513891. S2CID 30617587.
- ↑ Hubinger JC, Havery DC (Maret 2006). "Analysis of consumer cosmetic products for phthalate esters". Journal of Cosmetic Science. 57 (2): 127–137. PMID 16688376.
- ↑ Al-Saleh I, Elkhatib R (Januari 2016). "Screening of phthalate esters in 47 branded perfumes". Environmental Science and Pollution Research International. 23 (1): 455–468. Bibcode:2016ESPR...23..455A. doi:10.1007/s11356-015-5267-z. PMID 26310707. S2CID 22840018.
- ↑ "Phthalates in Cosmetics". U.S. Food and Drug Administration (FDA) (dalam bahasa Inggris). 19 Mei 2022. Diakses tanggal 2 November 2022.
- ↑ Brown M, Hebert AA (Februari 1997). "Insect repellents: an overview". Journal of the American Academy of Dermatology. 36 (2 Pt 1): 243–249. doi:10.1016/S0190-9622(97)70289-5. PMID 9039177.
- ↑ Karunamoorthi K, Sabesan S (Mei 2010). "Laboratory evaluation of dimethyl phthalate treated wristbands against three predominant mosquito (Diptera: Culicidae) vectors of disease". European Review for Medical and Pharmacological Sciences. 14 (5): 443–448. PMID 20556923.
- ↑ Nathan SS, Kalaivani K, Murugan K (Oktober 2005). "Effects of neem limonoids on the malaria vector Anopheles stephensi Liston (Diptera: Culicidae)". Acta Tropica. 96 (1): 47–55. doi:10.1016/j.actatropica.2005.07.002. PMID 16112073.
- ↑ Kalyanasundaram M, Mathew N (Mei 2006). "N,N-diethyl phenylacetamide (DEPA): A safe and effective repellent for personal protection against hematophagous arthropods". Journal of Medical Entomology. 43 (3): 518–525. doi:10.1603/0022-2585(2006)43[518:NPDASA]2.0.CO;2 (tidak aktif 1 Juli 2025). PMID 16739410. S2CID 22623121. Pemeliharaan CS1: DOI nonaktif per Juli 2025 (link)
- ↑ Daniels PH (Desember 2009). "A brief overview of theories of PVC plasticization and methods used to evaluate PVC-plasticizer interaction". Journal of Vinyl and Additive Technology. 15 (4): 219–223. doi:10.1002/vnl.20211. S2CID 137535663.
- ↑ Wilkes CE, Summers JW, Daniels CA, Berard M (2005). PVC handbook. Hanser. ISBN 978-3-446-22714-9. OCLC 488962111.Templat:Page?
- ↑ Bui TT, Giovanoulis G, Cousins AP, Magnér J, Cousins IT, de Wit CA (Januari 2016). "Human exposure, hazard and risk of alternative plasticizers to phthalate esters". The Science of the Total Environment. 541: 451–467. Bibcode:2016ScTEn.541..451B. doi:10.1016/j.scitotenv.2015.09.036. PMID 26410720.
- ↑ "Bio-based plasticizer". University of Minnesota. Diarsipkan dari asli tanggal 6 April 2012. Diakses tanggal 7 Oktober 2011.
- ↑ Pthalates Fact Sheet (PDF) (Report). Centers for Disease Control and Prevention. November 2009.
- 1 2 Huang T, Saxena AR, Isganaitis E, James-Todd T (Februari 2014). "Gender and racial/ethnic differences in the associations of urinary phthalate metabolites with markers of diabetes risk: National Health and Nutrition Examination Survey 2001–2008". Environmental Health. 13 (1) 6. Bibcode:2014EnvHe..13....6H. doi:10.1186/1476-069X-13-6. PMC 3922428. PMID 24499162.
- ↑ James-Todd TM, Meeker JD, Huang T, Hauser R, Seely EW, Ferguson KK, et al. (Maret 2017). "Racial and ethnic variations in phthalate metabolite concentration changes across full-term pregnancies". Journal of Exposure Science & Environmental Epidemiology. 27 (2): 160–166. Bibcode:2017JESEE..27..160J. doi:10.1038/jes.2016.2. PMC 4980273. PMID 26860587.
- ↑ Kolarik B, Bornehag CG, Naydenov K, Sundell J, Stavova P, Nielsen OF (Desember 2008). "The concentrations of phthalates in settled dust in Bulgarian homes in relation to building characteristic and cleaning habits in the family". Atmospheric Environment. 42 (37): 8553–8559. Bibcode:2008AtmEn..42.8553K. doi:10.1016/j.atmosenv.2008.08.028. S2CID 96190203.
- 1 2 Heudorf U, Mersch-Sundermann V, Angerer J (Oktober 2007). "Phthalates: toxicology and exposure". International Journal of Hygiene and Environmental Health. 210 (5): 623–634. Bibcode:2007IJHEH.210..623H. doi:10.1016/j.ijheh.2007.07.011. PMID 17889607.
- ↑ Sathyanarayana S, Karr CJ, Lozano P, Brown E, Calafat AM, Liu F, Swan SH (Februari 2008). "Baby care products: possible sources of infant phthalate exposure". Pediatrics. 121 (2): e260 – e268. doi:10.1542/peds.2006-3766. PMID 18245401. S2CID 22218732.
- ↑ Sathyanarayana S (Februari 2008). "Phthalates and children's health". Current Problems in Pediatric and Adolescent Health Care. 38 (2): 34–49. doi:10.1016/j.cppeds.2007.11.001. PMID 18237855.
- ↑ Opinion on phthalates in school supplies (PDF) (Report). Scientific Committee on Health and Environmental Risks, European Commission. 17 Oktober 2008.
- ↑ National Research Council (US) Committee on the Health Risks of Phthalates (2008). Phthalates and Cumulative Risk Assessment: The Tasks Ahead (dalam bahasa Inggris). National Research Council. doi:10.17226/12528. ISBN 978-0-309-12841-4. PMID 25009926.
- ↑ "Methods for the determination of phthalates in food" (PDF). European Commission, Joint Research Centre. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 20 Juli 2011.
- ↑ Edwards L, McCray NL, VanNoy BN, Yau A, Geller RJ, Adamkiewicz G, Zota AR (Oktober 2021). "Phthalate and novel plasticizer concentrations in food items from U.S. fast food chains: a preliminary analysis". Journal of Exposure Science & Environmental Epidemiology (dalam bahasa American English). 32 (3): 366–373. doi:10.1038/s41370-021-00392-8. PMC 9119856. PMID 34702987.
- ↑ "The Plastic Chemicals Hiding in Your Food". Consumer Reports (dalam bahasa American English). 4 Januari 2024. Diakses tanggal 17 Januari 2024.
- ↑ Erythropel HC, Maric M, Nicell JA, Leask RL, Yargeau V (Desember 2014). "Leaching of the plasticizer di(2-ethylhexyl)phthalate (DEHP) from plastic containers and the question of human exposure". Applied Microbiology and Biotechnology. 98 (24): 9967–9981. doi:10.1007/s00253-014-6183-8. PMID 25376446. S2CID 11715151.
- ↑ Nicole, Wendee (2016). "Phthalates in fast food: A potential dietary source of exposure". Environmental Health Perspectives. 124 (10): A191. doi:10.1289/ehp.124-A191. PMC 5047790. PMID 27689318.
- ↑ Zota AR, Phillips CA, Mitro SD (Oktober 2016). "Recent Fast Food Consumption and Bisphenol A and Phthalates Exposures among the U.S. Population in NHANES, 2003–2010". Environmental Health Perspectives. 124 (10): 1521–1528. Bibcode:2016EnvHP.124.1521Z. doi:10.1289/ehp.1510803. PMC 5047792. PMID 27072648.
- ↑ Genuis, Stephen J; Beesoon, Sanjay; Lobo, Rebecca A; Birkholz, Detlef (31 Oktober 2012). "Human elimination of phthalate compounds: Blood, urine, and sweat (BUS) study". ScientificWorldJournal. 2012 615068. doi:10.1100/2012/615068. PMC 3504417. PMID 23213291.
- 1 2 Rudel RA, Perovich LJ (Januari 2009). "Endocrine disrupting chemicals in indoor and outdoor air". Atmospheric Environment. 43 (1): 170–181. Bibcode:2009AtmEn..43..170R. doi:10.1016/j.atmosenv.2008.09.025. PMC 2677823. PMID 20047015.
- ↑ Carlstedt F, Jönsson BA, Bornehag CG (Februari 2013). "PVC flooring is related to human uptake of phthalates in infants". Indoor Air. 23 (1): 32–39. Bibcode:2013InAir..23...32C. doi:10.1111/j.1600-0668.2012.00788.x. PMID 22563949.
- ↑ Zhang H, Hua Y, Chen J, Li X, Bai X, Wang H (3 Juli 2018). "Organism-derived phthalate derivatives as bioactive natural products". Journal of Environmental Science and Health. Part C, Environmental Carcinogenesis & Ecotoxicology Reviews. 36 (3): 125–144. Bibcode:2018JESHC..36..125Z. doi:10.1080/10590501.2018.1490512. PMID 30444179. S2CID 53565519.
- ↑ Roy RN (November 2020). "Bioactive natural derivatives of phthalate ester". Critical Reviews in Biotechnology. 40 (7): 913–929. doi:10.1080/07388551.2020.1789838. PMID 32683987. S2CID 220654942.
- ↑ Tian C, Ni J, Chang F, Liu S, Xu N, Sun W, et al. (Februari 2016). "Bio-Source of di-n-butyl phthalate production by filamentous fungi". Scientific Reports. 6 (1) 19791. Bibcode:2016NatSR...619791T. doi:10.1038/srep19791. PMC 4746570. PMID 26857605.
- ↑ Enikeev AG, Semenov AA, Permyakov AV, Sokolova NA, Gamburg KZ, Dudareva LV (Mei 2019). "Biosynthesis of ortho-Phtalic Acid Esters in Plant and Cell Cultures". Applied Biochemistry and Microbiology. 55 (3): 294–297. doi:10.1134/S0003683819020066. S2CID 174809331.
- ↑ Liang, Da-Wei; Zhang, Tong; Fang, Herbert H. P.; He, Jianzhong (2008). "Phthalates biodegradation in the environment". Applied Microbiology and Biotechnology. 80 (2) 183. doi:10.1007/s00253-008-1548-5. PMID 18592233.
- ↑ Boll, Matthias; Geiger, Robin; Junghare, Madan; Schink, Bernhard (2020). "Microbial degradation of phthalates: Biochemistry and environmental implications". Environmental Microbiology Reports. 12 (1): 3–15. Bibcode:2020EnvMR..12....3B. doi:10.1111/1758-2229.12787. PMID 31364812.
- 1 2 Liu B, Lu X, Jiang A, Lv Y, Zhang H, Xu B (Januari 2024). "Influence of maternal endocrine disrupting chemicals exposure on adverse pregnancy outcomes: A systematic review and meta-analysis". Ecotoxicology and Environmental Safety. 270 115851. Bibcode:2024EcoES.27015851L. doi:10.1016/j.ecoenv.2023.115851. PMID 38157800.
- ↑ Zamkowska D, Karwacka A, Jurewicz J, Radwan M (Juli 2018). "Environmental exposure to non-persistent endocrine disrupting chemicals and semen quality: An overview of the current epidemiological evidence". International Journal of Occupational Medicine and Environmental Health. 31 (4): 377–414. doi:10.13075/ijomeh.1896.01195. PMID 30160090.
- ↑ Bansal A, Henao-Mejia J, Simmons RA (Januari 2018). "Immune System: An Emerging Player in Mediating Effects of Endocrine Disruptors on Metabolic Health". Endocrinology. 159 (1): 32–45. doi:10.1210/en.2017-00882. PMC 5761609. PMID 29145569.
- ↑ Diamanti-Kandarakis E, Bourguignon JP, Giudice LC, Hauser R, Prins GS, Soto AM, et al. (Juni 2009). "Endocrine-disrupting chemicals: an Endocrine Society scientific statement". Endocrine Reviews. 30 (4): 293–342. doi:10.1210/er.2009-0002. PMC 2726844. PMID 19502515.
- ↑ Boissiere-O'Neill T, Lee WR, Blake TL, Sly PD, Vilcins D (Februari 2024). "Exposure to endocrine-disrupting plasticisers and lung function in children and adolescents: A systematic review and meta-analysis". Environmental Research. 243 117751. Bibcode:2024ER....24317751B. doi:10.1016/j.envres.2023.117751. PMID 38061586.
- ↑ Braun JM (Maret 2017). "Early-life exposure to EDCs: role in childhood obesity and neurodevelopment". Nature Reviews. Endocrinology. 13 (3): 161–173. doi:10.1038/nrendo.2016.186. PMC 5322271. PMID 27857130.
- ↑ Dodson RE, Nishioka M, Standley LJ, Perovich LJ, Brody JG, Rudel RA (Juli 2012). "Endocrine disruptors and asthma-associated chemicals in consumer products". Environmental Health Perspectives. 120 (7): 935–943. Bibcode:2012EnvHP.120..935D. doi:10.1289/ehp.1104052. PMC 3404651. PMID 22398195.
- ↑ Xia B, Zhu Q, Zhao Y, Ge W, Zhao Y, Song Q, et al. (Desember 2018). "Phthalate exposure and childhood overweight and obesity: Urinary metabolomic evidence". Environment International. 121 (Pt 1): 159–168. Bibcode:2018EnInt.121..159X. doi:10.1016/j.envint.2018.09.001. PMID 30208345.
- 1 2 "Chemicals in food packaging (updated 6 December 2023)". Food Standards – Australia/New Zealand. Agustus 2018. Diakses tanggal 26 November 2024.
- 1 2 3 4 "Phthalate Substance Grouping – information sheet". canada.ca (dalam bahasa Inggris). Government of Canada. 18 Juni 2021. Diakses tanggal 25 November 2024.
- 1 2 3 "Current Proposition 65 No Significant Risk Levels (NSRLs) Maximum Allowable Dose Levels (MADLs)". California Office of Environmental Health Hazard Assessment. 1 Oktober 2021. Diakses tanggal 23 Maret 2022.
- 1 2 3 "Public health statement for diethyl phthalate". Agency for Toxic Substances and Disease Registry, US Centers for Disease Control and Prevention. 21 Oktober 2011. Diakses tanggal 24 November 2024.
- 1 2 "DEHP in children's plastic items ban". Australian Competition and Consumer Commission, Product Safety. 2024. Diakses tanggal 26 November 2024.
- 1 2 3 4 5 "Phthalates". European Chemicals Agency. November 2021. Diakses tanggal 25 November 2024.
- ↑ "Phthalates" (dalam bahasa Inggris). Government of Canada. 6 Oktober 2017. Diakses tanggal 11 Juli 2019.
- 1 2 "Di(2-ethylhexyl) phthalate (DEHP) in Canadians". Government of Canada. 23 Agustus 2023. Diakses tanggal 25 November 2024.
- ↑ Templat:CELEX
- ↑ "Echa and Denmark to prepare phthalates restriction".
- ↑ "Registry of Intentions – ECHA".
- ↑ "Directive 2011/65/EU of the European Parliament and of the Council of 8 June 2011 on the restriction of the use of certain hazardous substances in electrical and electronic equipment (recast) Text with EEA relevance". EUR-Lex – 32011L0065 – EN – EUR-Lex.
- ↑ "Commission Implementing Decision (EU) 2017/1210 of 4 July 2017 on the identification of bis(2-ethylhexyl) phthalate (DEHP), dibutyl phthalate (DBP), benzyl butyl phthalate (BBP) and diisobutyl phthalate (DIBP) as substances of very high concern according to Article 57(f) of Regulation (EC) No 1907/2006 of the European Parliament and of the Council (notified under document C(2017) 4462)". EUR-Lex – 32017D1210 – EN – EUR-Lex. (n.d.-b).
- ↑ "Commission Regulation (EU) 2021/2045 of 23 November 2021 amending Annex XIV to Regulation (EC) No 1907/2006 of the European Parliament and of the Council concerning the Registration, Evaluation, Authorisation and Restriction of Chemicals (REACH)". EUR-Lex – 32021R2045 – EN – EUR-Lex.
- ↑ "Commission Delegated Directive (EU) 2021/1978 of 11 August 2021 amending, for the purposes of adapting to scientific and technical progress, Annex IV to Directive 2011/65/EU of the European Parliament and of the Council as regards an exemption for the use of bis(2-ethylhexyl) phthalate (DEHP), butyl benzyl phthalate (BBP), dibutyl phthalate (DBP) and diisobutyl phthalate (DIBP) in spare parts recovered from and used for the repair or refurbishment of medical devices". EUR-Lex – 32021L1978 – EN – EUR-Lex.
- ↑ GovTrack.us. "H.R. 4040 – 110th Congress (2007): Consumer Product Safety Improvement Act of 2008, GovTrack.us (database of federal legislation). Retrieved 14 August 2009.
- ↑ Hamilton, Jon (1 April 2009). "Public Concern, Not Science, Prompts Plastics Ban". NPR.
- ↑ "OEHHA Proposition 65: Proposition 65 in Plain Language!". ca.gov.
- ↑ "OEHHA Proposition 65 (2013) Diisononyl Phthalate (DINP) listed". ca.gov.
- ↑ "Types of Plastic – I-Cycle". www2.illinois.gov. Diakses tanggal 23 Maret 2022.
- ↑ "Learn the Facts About Food Packaging and Phthalates". Plasticsmythbuster.org. Diarsipkan dari asli tanggal 6 Juli 2009. Diakses tanggal 23 September 2013.
- ↑ Sax L (April 2010). "Polyethylene terephthalate may yield endocrine disruptors". Environmental Health Perspectives. 118 (4): 445–448. Bibcode:2010EnvHP.118..445S. doi:10.1289/ehp.0901253. PMC 2854718. PMID 20368129.
Bacaan lanjutan
- Tickner JA, Schettler T, Guidotti T, McCally M, Rossi M (Januari 2001). "Health risks posed by use of Di-2-ethylhexyl phthalate (DEHP) in PVC medical devices: a critical review". American Journal of Industrial Medicine. 39 (1): 100–111. doi:10.1002/1097-0274(200101)39:1<100::AID-AJIM10>3.0.CO;2-Q. PMID 11148020. S2CID 23676863.
- Kohn MC, Parham F, Masten SA, Portier CJ, Shelby MD, Brock JW, Needham LL (Oktober 2000). "Human exposure estimates for phthalates". Environmental Health Perspectives. 108 (10): A440 – A442. doi:10.2307/3435033. JSTOR 3435033. PMC 1240144. PMID 11097556.
- Centers for Disease Control. "National Report on Human Exposure to Environmental Chemicals. Updated Tables, February 2011". Diarsipkan dari asli tanggal 4 Januari 2010.
Pranala luar
- ACC Addresses Phthalates Safety di YouTube: video of Steve Risotto of the American Chemistry Council, 23 October 2009
| Internasional | |
|---|---|
| Nasional | |
| Lain-lain | |
