Karena banyak orang Franka (orang Prancis) yang bergabung menjadi anggota bala tentara Perang Salib Pertama, dan bahasa Prancis Kuno menjadi bahasa yang dominan di negara-negara Tentara Salib pada abad ke-12 (terutama di Kepangeranan Antiokhia), maka istilah "orang Franka" yang digunakan di kawasan Syam dapat saja berarti semua orang Kristen Eropa Barat (baik orang Franka, orang Saksen, orang Vlaams, maupun bangsa-bangsa Eropa lainnya). Istilah "Frangistan" tidak memiliki batasan makna yang jelas, sehingga dapat saja berarti negeri mana pun yang dianggap oleh umat Muslim pada zaman itu sebagai wilayah Kristen.
Istilah "Frangistan" masih digunakan pada zaman Kesultanan Utsmaniyah dalam sumber-sumber tertulis selambat-lambatnya sampai abad ke-17.[2] Akan tetapi di Persia, kata ini masih terus digunakan sampai dengan berakhirnya zaman wangsa Qajar, sebagaimana yang tampak pada berbagai macam surat-menyurat dan dokumen-dokumen pemerintahan di masa itu, sebagai sebutan bagi negara-negara Eropa.[3] Turunan lain dari kata ini seperti Farang (kata benda), Farangi (kata sifat), dan frasa seperti Farangi Ma'āb (artinya "kebarat-baratan"; arti harfiahnya adalah "lagak Prancis"), digunakan dalam bahasa Persia Modern, meskipun tidak terlampau sering dan tanpa konotasi negatif.[4] Dalam bahasa Hindi di India sekarang ini, semua orang Eropa secara umum masih disebut "Firang". Kata ini juga menjadi cikal bakal dari kata "peringgi", "peranggi", "perangai", dan "pirang" dalam bahasa Indonesia.
↑Bernard Lewis, "Some Reflections on the Decline of the Ottoman Empire", Studia Islamica, No. 9. (1958), hlmn. 111-127.
↑روزنامه خاطرات ناصرالدين شاه در سفر سوم فرنگستان (Tawarikh karya Nasir al-Din Syah dari kunjungan kali ketiganya ke Farangestān (Eropa)), disunting oleh Dr. Mohammad Esmā'eel Rezvāni & Fātemeh Ghāzihā, Penerbit Organisasi Dokumen Nasional Iran, Teheran, 1378 Tarikh Syamsi Hijriyah (1999 Tarikh Masehi).