Para ahli bahasa sekaligus penutur bahasa ibu dari bahasa Aceh membagi vokal menjadi beberapa kategori, yakni: monoftong lisan, diftong lisan (yang akan dibagi lebih jauh dengan adanya akhiran pepet /ə/ dan /i/), monoftong sengau, dan diftong sengau.[2]
Vokal lisan
Monoftong lisan pada bahasa Aceh ditunjukkan pada tabel berikut.[4]
konsonan /k/ dalam akhiran suku kata akan menghasilkan /ʔ/
/f/, /z/, dan /ʃ/ merupakan suara pinjam yang bukan berasal dari bahasa tersebut dan biasanya digantikan menjadi pelepasan /ph/, /d/, dan /ch/
Sengauan /m/,/n/,/ɲ/,/ŋ/ dilepaskan sebagai sengauan pasca-hentian (yang juga disebut sebagai "sengauan [yang] aneh") sebelum vokal lisan dan konsonan.[6][7] Konsonan tersebut berbeda dengan kelanjutan fonemik sengauan-hentian /mb/,/nd/,/ɲɟ/,/ŋɡ/, seperti dalam /banᵈa/ 'pelabuhan'.[8]
Lawler, John M. (1977). "A Agrees with B in Achenese: A Problem for Relational Grammar". Dalam Cole, P.; Sacock, J. (ed.). Grammatical Relations. Syntax and Semantics 8 (dalam bahasa Inggris). New York: Academic Press. hlm.219–248. doi:10.1163/9789004368866_010.
Pillai, Stefanie; Yusuf, Yunisrina Qismullah (2012). "An Instrumental Analysis of Acehnese Oral Vowels"(PDF). Language and Linguistics. 13 (6): 1029–1050. Diarsipkan dari asli(PDF) tanggal 2017-10-11. Diakses tanggal 2022-04-21.