Finasterid dipatenkan pada tahun 1984 dan disetujui untuk digunakan secara medis pada tahun 1992.[9] Obat ini telah tersedia sebagai obat generik.[10]
Kegunaan medis
Pembesaran prostat
Finasterid digunakan dalam pengobatan pembesaran atau hiperplasia prostat jinak (benign prostatic hyperplasia, BPH). Pemakaian obat ini dapat meredakan gejala terkait BPH seperti kesulitan buang air kecil, buang air kecil pada malam hari, rasa ragu saat sebelum dan setelah buang air kecil, serta air seni yang sedikit. Efek dari finasterid lebih lemah dibandingkan dengan bloker alfa-1 seperti tamsulosin dan muncul lebih lambat—pemakaian membutuhkan minimal 6 bulan untuk menentukan hasil.[6][11][12]
Kanker prostat
Sebuah ulasan tahun 2010 oleh Cochrane menemukan pengurangan risiko perkembangan kanker prostat sebesar 25–26% menggunakan kemoprofilaksis inhibitor 5α-reduktase.[13] Penelitian lanjutan oleh Medicare menyebutkan bahwa partisipan dalam percobaan pencegahan kanker prostat selama 10 tahun menunjukkan adanya pengurangan signifikan dari risiko kanker prostat yang tetap ada bahkan setelah obat berhenti dipakai.[14] Akan tetapi, terdapat pula penelitian inhibitor 5α-reduktase juga ditemukan dapat meningkatkan risiko perkembangan beberapa jenis kanker prostat yang langka dan ganas sebesar 27% meskipun terdapat pula penelitan yang membantah hal tersebut.[15] Tidak ditemukan dampak negatif dari inhibitor 5α-reduktase terhadap tingkat penyembuhan dari kanker prostat.[15]
Kebotakan
Finasterid juga digunakan untuk mengobati kebotakan (alopesia androgenik) pada pria.[16][17][18][7] Finasterid juga telah diuji dalam pengobatan kebotakan pada wanita. Tapi hasil yang ditemukan tidak lebih baik daripada obat plasebo.[19]
Hirsutisme
Finasterid telah ditemukan efektif dalam menangani hirsutisme (pertumbuhan bulu berlebih) pada wanita.[4]
Terapi hormon transgender
Finasterid terkadang disertakan dalam terapi hormon feminin bagi wanita transgender karena efek antiandrogenik yang dimilikinya untuk melengkapi estrogen. Akan tetapi, baru sedikit uji klinis yang telah dilakukan mengenai pemakaian finasterid seperti itu sehingga bukti, keamanan, serta keampuhannya hanya diketahui terbatas.[5] Finasterid juga harus diperhatikan bila akan diresepkan bagi wanit transgender karena efek sampingnya seperti depresi, ansietas, dan ide bunuh diri cenderung banyak ditemukan pada kelompok penduduk transgender.[20]
Kontraindikasi
Finasterid dapat meneybabkan kelainan pada janin laki-laki jika orang yang memakainya ataupun pasangannya berencana atau sedang hamil.[21][22] Finasterid dapat menimbulkan genitalia ambigu pada janin laki-laki dalam percobaan pada monyet rhesus.[11][17][23]
Efek samping
Sebuah ulasan tahun 2010 oleh Cochrane menyimpulkan bahwa efek samping dari finasterid jarang ditemukan dalam pemakaiannya sebagai obat BPH.[6] FDA pada tahun 1997 melaporkan bahwa finasterid ditoleransi dengan baik dan efek samping yang paling umum adalah masalah disfungsi seksual.[24]
Pada tahun 2011, FDA mengeluarkan peringatan mengenai penggunaan inhibitor 5α-reduktas yang berkaitan dengan perkembangan kanker prostat ganas. Karena pengobatan BPH menurunkan antigen spesifik prostat, penggunaan finasterid dapat menutupi perkembangan kanker prostat.[25][26] Terdapat pula hubungan finasterida dengan kanker payudara meskipun tidak ditemukan bukti terkait korelasi di antara keduanya.[17][27] Beberapa pria dapat terkena ginekomastia (perkembangan payudara) dari pemakaian finasterid.[28][29][30][31] Risiko ginekomastia dari inhibitor 5α-reduktase secara umum adalah sekitar 2,8%.[32] Gejala depresi dan ide bunuh diri juga dilaporkan ditemukan.[33]
Ulasan Cochrane tahun 2010 menemukan bahwa pria yang memakai finasterid memiliki risiko lebih terhadap impotensi, disfungsi ereksi, libido yang berkurang, serta gangguan ejakulasi dalam tahun pertama pemakaian. Tingkat efek-efek tersebut mereda hingga setara dengan plasebo setelah 2-4 tahun dan terus membaik.[6]Meta-analisis tahun 2016 menemukan bahwa disfungsi seksual termasuk hipospermia dapat terjadi pada 3,4 hingga 15,8% pria yang memakai finasterid atau dutasteride.[15] Hal ini dapat berpengaruh terhadap kualitas hidup yang pada gilirannya dapat mengganggu kesehatan jiwa serta hubungan sosial.[34]
12Blume-Peytavi, Ulrike; Whiting, David A.; Trüeb, Ralph M. (2008-06-26). Hair Growth and Disorders. Springer Science & Business Media. hlm.369. ISBN978-3-540-46911-7. Diarsipkan dari asli tanggal 2023-01-10. Diakses tanggal 2019-07-04.;
12Knezevich EL, Viereck LK, Drincic AT (2012). "Medical management of adult transsexual persons". Pharmacotherapy. 32 (1): 54–66. doi:10.1002/PHAR.1006. PMID22392828.
1234Tacklind J, Fink HA, Macdonald R, Rutks I, Wilt TJ (2010). "Finasteride for benign prostatic hyperplasia". The Cochrane Database of Systematic Reviews (10): CD006015. doi:10.1002/14651858.CD006015.pub3. PMID20927745.
123Varothai S, Bergfeld WF (2014). "Androgenetic alopecia: an evidence-based treatment update". American Journal of Clinical Dermatology. 15 (3): 217–30. doi:10.1007/s40257-014-0077-5. PMID24848508.
↑Unger JM, Hershman DL, Till C, Tangen CM, Barlow WE, Ramsey SD, Goodman PJ, Thompson IM (2018). "Using Medicare Claims to Examine Long-term Prostate Cancer Risk of Finasteride in the Prostate Cancer Prevention Trial". Journal of the National Cancer Institute. 110 (11): 1208–1215. doi:10.1093/jnci/djy035. PMID29534197.
↑"Evidence-based (S3) guideline for the treatment of androgenetic alopecia in women and in men - short version". Eur Acad Dermatol Venereol. 32 (1): 11–22. 2018. doi:10.1111/jdv.14624.
123"Propecia label"(PDF). Diarsipkan dari asli(PDF) tanggal 2017-02-10. Diakses tanggal 2019-07-04.
↑Habif, Thomas P. (23 April 2015). Clinical Dermatology. Elsevier Health Sciences. hlm.934–. ISBN978-0-323-26607-9. Diarsipkan dari asli tanggal 2023-01-10. Diakses tanggal 2019-07-04.;
↑Trüeb, Ralph M. (2017). "Discriminating in favour of or against men with increased risk of finasteride-related side effects?". Experimental Dermatology. 26 (6): 527–528. doi:10.1111/exd.13155. ISSN0906-6705. PMID27489125. [...] caution is recommended while prescribing oral finasteride to male-to-female transsexuals, as the drug has been associated with inducing depression, anxiety and suicidal ideation, symptoms that are particularly common in patients with gender dysphoria, who are already at a high risk.[9]
↑Gur S, Kadowitz PJ, Hellstrom WJ (January 2013). "Effects of 5-alpha reductase inhibitors on erectile function, sexual desire and ejaculation". Expert Opinion on Drug Safety. 12 (1): 81–90. doi:10.1517/14740338.2013.742885. PMID23173718.