Festival Legu Gam atau Legu Gam Moloku Kie Raha adalah pesta rakyat yang berasal dari Provinsi Maluku Utara. Festival ini merupakan sarana membaurnya keluarga Kesultanan Ternate dengan masyarakat. Festival ini sudah ada sejak lama, tetapi sempat terhenti pada 1950 dan baru kembali diadakan pada 2002, pada masa pemerintahan Sultan Ternate ke 48, Mudaffar Sjah.[1]
Sejarah
Festival Legu Gam telah ada sejak lama, namun dikemas dalam bentuk tarian sakral yang bernama tarian Legu. Tarian Legu adalah tarian yang hanya dapat ditarikan di dalam wilayah kesultanan, dan hanya diadakan dalam tiga acara Kesultanan Ternate. Tahun ke tahun, festival ini selalu diadakan, tetapi dihentikan pada 1950 akibat kerusuhan yang sempat terjadi di Maluku Utara.[2]
Festival Legu Gam baru diadakan kembali pada 2002, dalam rangka hari kelahiran Sultan Ternate ke 48, Mudaffar Sjah. Diprakarsai oleh Permaisuri Boki Nita Budi Susanti, Festival Legu Gam diubah oleh kesultanan menjadi sarana membaurnya keluarga kesultanan Ternate dengan masyarakat sebagai bentuk penghargaan atas kesetiaan dan keteguhan masyarakat.[1][2] Festival ini diadakan pada 13 April selama 17 hari dengan atraksi dari 29 suku yang mendiami Provinsi Maluku Utara, dan terus berlanjut hingga sekarang.[1]
Ciri Khas
Festival Legu Gam menyajikan berbagai atraksi budaya dan seni dari Provinsi Maluku Utara. Festival ini umumnya diawali dengan Pawai Obor Gam ma Cahaya pada malam sebelumnya, yang bertujuan untuk mendoakan Kota Ternate melalui arak-arak obor dari halaman Keraton Kesultanan Ternate. Festival ini kemudian dilanjutkan dengan pawai dari Keraton Kesultanan Ternate menuju Lapangan Ngaro Lamo di hari berikutnya, kemudian dilanjutkan dengan berbagai penampilan kesenian dari masyarakat. Penampilan dan atraksi budaya ini mewakili berbagai kabupaten, suku, dan persekutuan empat kerjaan (Kesultanan Ternate, Kesultanan Tidore, Kesultanan Bacan, dan Kesultanan Jailolo) dari Provinsi Maluku Utara, yang menjadikan festival ini sebagai daya tarik wisatawan di masa kini.[1]
Festival Legu Gam adalah festival yang menampilkan kemajemukan masyarakat Ternate, yang mencerminkan ragam etnik yang saling hidup berdampingan satu sama lainnya.[2] Festival ini juga melambangkan bahwa berbagai etnis dapat hidup berdampingan secara harmonis, walaupun memiliki perbedaan tata cara budaya dan agama.[3] Keberagaman budaya bukanlah untuk menjadi perbedaan, tetapi untuk dipersatukan menjadi ciri khas yang indah.[4]
Festival ini juga merupakan bentuk apresiasi dan sarana Kesultanan Ternate untuk mendekatkan diri kepada masyarakat.[3] Bertahannya Kesultanan Ternate selama lebih dari 800 tahun tidak bisa dipisahkan dari dukungan dan loyalits masyarakat, yang telah melalui berbagai masalah dan krisis bersama dengan Kesultanan Ternate.[1][3] Melalui festival ini, hubungan yang baik antara keluarga Kesultanan Ternate dan masyarakat dapat tergambar.[5]