Fenoksietanol adalah senyawa organik dengan rumus kimia C6H5OC2H4OH. Senyawa ini berupa cairan berminyak tak berwarna. Senyawa ini dapat diklasifikasikan sebagai eter glikol dan eter fenol. Senyawa ini merupakan pengawet umum dalam formulasi vaksin.[4] Senyawa ini memiliki aroma seperti mawar yang samar.[5]
Sejarah dan sintesis
Fenoksietanol pertama kali dibuat oleh W. H. Perkin Jr. dan mahasiswa pascasarjananya Edward Haworth pada tahun 1896.[6] Mereka mereaksikan natrium, fenol, dan 2-kloroetanol dalam etanol anhidrat.[7] Sejak tahun 1920-an, senyawa ini telah tersedia secara komersial sebagai pelarut selulosa asetat dengan merek dagang "Phenyl cellosolve".[8]
Senyawa ini diproduksi dalam industri melalui hidroksietilasi fenol (sintesis Williamson), misalnya dengan adanya hidroksida logam alkali atau borohidrida logam alkali.[1]
Penggunaan
Fenoksietanol memiliki sifat germisidal dan germistatik.[9] Sering digunakan bersama dengan senyawa amonium kuarterner.
Fenoksietanol adalah pengawet vaksin dan alergen potensial, yang dapat mengakibatkan reaksi nodular di tempat suntikan. Gejala yang mungkin terjadi termasuk ruam, eksem, dan kemungkinan kematian.[17] Fenoksietanol menghambat arus ion yang dimediasi reseptor NMDA secara reversibel.[18]
Pertimbangan lingkungan
Mengingat penggunaan fenoksietanol yang luas, biodegradasinya telah diteliti. Salah satu jalur memerlukan konversi awal menjadi fenol dan asetaldehida.[19]
↑Meyer, Brian K.; Ni, Alex; Hu, Binghua; Shi, Li (2007). "Antimicrobial preservative use in parenteral products: Past and present". Journal of Pharmaceutical Sciences. 96 (12): 3155–3167. doi:10.1002/jps.20976. PMID17722087.
↑Wineski LE, English AW (1989). "Phenoxyethanol as a nontoxic preservative in the dissection laboratory". Acta Anat (Basel). 136 (2): 155–8. doi:10.1159/000146816. PMID2816264.
↑Tokunaga H, Takeuchi O, Ko R, Uchino T, Ando M (2003). "市販化粧水中のフェノキシエタノールおよびパラベン類の分析法に関する研究"[Studies for analyzing phenoxyethanol and parabens in commercial lotions](PDF). Kokuritsu Iyakuhin Shokuhin Eisei Kenkyūjo Hōkoku (dalam bahasa Jepang) (121): 25–9. PMID14740401.
↑M. H. Beck; S. M. Wilkinson (2010), "Contact Dermatitis: Allergic", dalam Tony Burns; Stephen Breathnach; Neil Cox; Christopher Griffiths (ed.), Rook's Textbook of Dermatology, vol.2 (Edisi 8th), Wiley-Blackwell, hlm.26.46, ISBN978-1-4051-6169-5