Sebagai pemain sepak bola, Fandi juga bermain untuk tim nasional Singapura dan mendapatkan 101 caps serta mencetak 55 gol, sebuah rekor yang masih bertahan hingga saat ini. Dia juga memenangkan tiga medali perak di SEA Games dan menjadi kapten dari tahun 1993 sampai 1997.[3] Setelah pensiun, Fandi memulai karier manajerialnya pada tahun 2000 dengan melatih klub lamanya, SAFFC, sebelum pindah ke PelitaJaya di Indonesia dan Johor Darul Takzim di Malaysia. Dia juga beberapa kali menjadi asisten pelatih tim nasional dan menjalankan Akademi Fandi Ahmad[4] miliknya sendiri.
Kehebatannya itu membuat Fandi dianggap sebagai legenda nasional di Singapura. Pada tahun 1994, dia dianugerahi Pingat Bakti Masyarakat karena prestasinya, termasuk menjadi pemain sepak bola Singapura pertama yang bermain di Eropa, olahragawan miliuner pertama di Singapura, dan olahragawan Singapura pertama yang memiliki biografi yang diterbitkan.[5] Dia memiliki lima anak dengan istrinya, model Afrika Selatan Wendy Jacobs,[6] dan ayahnya adalah Ahmad Wartam, mantan penjaga gawang nasional. Pada tahun 1999, Fandi menduduki peringkat keenam dalam daftar 50 Atlet Terbesar Abad Ini oleh The Straits Times.[7] Anak-anaknya, terutama Ikhsan, Ilhan,[8] dan Irfan, juga adalah pesepak bola profesional.
Masa Kecil
Fandi Ahmad tumbuh sebagai anak tengah dari tiga bersaudara, dengan seorang kakak perempuan yang merupakan pelari sprint juara di sekolahnya, dan adik laki-laki. Ayahnya, Ahmad Wartam, mantan penjaga gawang tim nasional Singapura pada tahun 1960-an, telah menanamkan cinta pada olahraga kepada anak-anaknya. Fandi, terinspirasi oleh ayahnya, bermimpi menjadi pemain sepak bola nasional.[9]
Saat masih kecil, Fandi dan keluarganya tinggal di rumah dinas pegawai di Woodbridge Hospital, tempat ayahnya bekerja. Untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga, Fandi menjual nasi lemak di lingkungan rumah sakit.[10] Ia bersekolah di Yio Chu Kang Primary School,[butuh rujukan] di mana ia mulai menunjukkan ketertarikan besar pada sepak bola.[11] Meski awalnya enggan, ia berhasil membujuk ayahnya untuk membawanya ke pertandingan dan sesi latihan Piala Malaysia.
Setiap akhir pekan, Fandi, yang berusia sembilan tahun, bergabung dengan anak-anak lain di kampungnya untuk mengikuti sesi latihan yang dipimpin oleh ayahnya. Sesi latihan dimulai dengan lari bersama sebagai tim diikuti oleh latihan sepak bola. Fandi sangat menghargai bagaimana ayahnya selalu menjadi contoh dan pembimbing selama latihan tersebut. Di kampungnya, sekitar 40 anak laki-laki bermain bersama, termasuk beberapa sepupu Fandi yang tinggal bersamanya dan neneknya. Latihan ini perlahan menjadi bagian penting dari perjalanan karier sepak bolanya, memberikan kepercayaan diri karena kepercayaan yang diberikan teman-temannya dan membantunya mengembangkan otot kaki yang berguna untuk kariernya nanti.[12]
Awalnya bermain sebagai penjaga gawang seperti ayahnya, Fandi beralih ke posisi gelandang serang atas saran gurunya saat bermain untuk Yio Chu Kang Primary. Guru tersebut juga merekomendasikan Fandi dan empat rekan satu timnya untuk bergabung dengan Milo Soccer Scheme, program untuk pemain sepak bola muda yang berbakat, tetapi aplikasi pertamanya tidak berhasil. Situasi keluarganya berubah ketika orang tuanya bercerai saat ia berusia 12 tahun, dan ia pindah untuk tinggal dengan kakek neneknya di sebuah kampong di Jalan Eunos.
Fandi melanjutkan pendidikannya di Serangoon Gardens Secondary School dan berlatih dengan Kaki Bukit Constituency Sports Club. Dengan dorongan dari pelatih klub, Rahim Yati, Fandi mencoba lagi untuk Milo Soccer Scheme dan kali ini ia diterima. Dia terus melanjutkan studinya di Singapore Vocational Institute, di mana ia berhasil mendapatkan kualifikasi National Trade Certificate 3 pada tahun 1979. Dengan dedikasi dan dukungan dari keluarganya serta mentor-mentornya, Fandi terus mewujudkan mimpinya untuk menjadi seorang pemain sepak bola profesional.
Karier
Pemain sepak bola profesional (1982–1999)
Klub sepak bola NIAC Mitra (1982–1983)
Pada tahun 1982, Fandi Ahmad menjadi pemain sepak bola profesional dengan bergabung dengan NIAC Mitra yang merupakan sebuah klub sepak bola di Indonesia.[13] Fandi Ahmad menjadi salah satu pemain asing asal Singapura yang dikontrak oleh NIAC Mitra untuk mengikuti kompetisi ketiga dari Divisi I Galatama yang dimulai pada tanggal 28 Agustus 1982.[14] Ia bergabung dengan NIAC Mitra selama satu tahun dan mengikuti kompetisi sepak bola di Indonesia.[15] Fandi Ahmad bersama dengan pemain lainnya berhasil menjadikan NIAC Mitra sebagai juara kompetisi Divisi I Galatama. NIAC Mitra menempati peringkat pertama dalam klasemen akhir kompetisi Divisi I Galatama dengan hasil sebanyak 18 kali kemenangan, 6 kali seri dan 4 kali kekalahan.[16]
Klub sepak bola FC Groningen (1983–1985)
Pada tanggal 1 Juli 1983, Fandi Ahmad menandatangani kontrak sebagai pemain sepak bola untuk sebuah klub sepak bola di Belanda yaitu FC Groningen.[15][17] Ia menandatangani kontrak untuk bermain selama dua tahun untuk FC Groningen.[17] Fandi Ahmad bergabung ketika FC Groningen telah menempati urutan keempat dalam klasemen akhir pada kompetisi Eredivisie dan memperoleh jatah untuk bertanding dalam Piala UEFA 1983.[18] Dalam pertandingan-pertandingan Piala UEFA 1983, FAndi Ahmad bermain sebagai penyerang bagi FC Groningen dan menjadikannya sebagai pemain sepak bola asal Singapura yang pertama kali berkompetisi pada Piala UEFA.[18][17] Pada pertandingan melawan Inter Milan dalam Piala UEFA 1983, Fandi Ahmad berhasil mencetak satu gol yang memenangkan FC Groningen atas Inter Milan dengan skor 2-0.[19] Keberhasilan mencetak gol dalam pertandingan Piala UEFA 1983 menjadikan Fandi Ahmad sebagai pemain sepak bola asal Singapura yang pertama kali mencetak gol pada Piala UEFA.[19][17]