Parameswara dan D'Mood Jazz Band (1996 - 1999)
Tahun 1995, Erik tamat SMA, ia mantap mengawali perjalanan kariernya dengan bermain piano tunggal, sambil menjalani bandnya kala itu, Paremeswara. Tatkala itu, mulai timbul ketertarikan Erik terhadap aliran musik Jazz sehingga ia mengambil keputusan untuk mengambil kursus di Piano Jazz Bandung, yang ia jalani selama setahun. Tidak puas di situ, ia juga mengambil kursus di Swara Harmony Music School, Bandung. Erik kemudian bersama bandnya Parameswara kemudian berangkat ke kota Yogyakarta pada tahun 1996 selama 3 bulan. Namun, Erik akhirnya menetap di kota Yogyakarta dan melanjutkan kariernya bermusik di sini bersama D'Mood Jazz Band yang beranggotakan Erik (keyboard), Agung Prasetya (bass), Bagus Djatmiko atau BJ (drum), Yohanes (trombone), Finggo van Leun (gitar) dan Septa Suryoto (saksofon). D'Mood Jazz Band, kemudian mengukir prestasi sebagai juara pertama dalam ajang Jazz Goes to Campus, yang diselenggarakan di Jakarta pada tahun 1999.
Svara Band (2002 - 2005)
Pada tahun 2002, lahirlah Svara Band, yang terdiri dari Erik Sondhy (keyboard), Rio Sidik (trumpet), Koko Harsue (gitar), Doddy Sambodo (bass) dan Oni Pah (drum). Svara Band juga kerap mengikuti berbagai ajang Jazz, seperti Jazz Merah Putih dan Indonesian Open Jazz. Erik pun bermain dalam Koko Harsue Quartet, yang melahirkan sebuah album yang dirilis pada tahun 2002 bertajuk Mainan. 3 tahun kemudian, 2005, Erik Sondhy mulai menjajaki kembali bersolo karier, selain bermain solo piano di Jazz Merah Putih ia pun tampil di Java Jazz bersama Bertha and Friends. Pada tahun 2007, Erik merilis album perdananya bertajuk Introducing Trio yang digarapnya bersama dengan Helmy Agustrian (bass) dan I Made Niko (drum).
Erik Sondhy Project (E.S.P) (2009 - sekarang)
Erik yang telah menapaki perjalanan yang cukup panjang ini, dalam karier bermusiknya merasa bahwa penampilan yang baik harus organik dan sinergi, Erik kerap berada di antara penonton terlebih dahulu sebelum naik ke panggung untuk merasakan energinya secara langsung, sehingga totalitas dapat tercipta dalam setiap penampilannya.
Erik yang mengagumi gairah dan energi Keith Jarrett ketika bermain di panggung, mulai memiliki sebuah impian untuk dapat melakoni banyak kreasi, sebuah project tanpa batas dalam bermusik. Sehingga, pada Agustus 2009, lahirlah Erik Sondhy Project atau lebih dikenal luas hingga sekarang dengan nama E.S.P. Pada kesempatan yang berbeda, pada tanggal 17 Juni 2009, Erik turut tampil dalam World Peace Orchestra oleh Dwiki Dharmawan . Masih pada tahun yang sama, terbentuk kelompok jazz yang dinamakan Jazz Empat Orang oleh pemain saksofon Donny Koeswinarno bersama Rayendra (drum), Indra Perkasa (bass) dan Erik Sondhy (piano). Mereka kemudian mengambil beragam inspirasi dari kultur Jazz yang kaya. Donny Koeswinarno sendiri adalah pendiri dan pemimpin kelompok jazz Pitoelas, juga menulis lagu dan membuat aransemen bagi big band yang beranggotakan 17 orang itu. Personel lain seperti Rayendra jebolan Berklee College of Music kala itu aktif sebagai sideman di beberapa band selain mendirikan Parkdrive, sedangkan Indra Perkasa merupakan bassis Tomorrow People Ensemble yang menyelesaikan studinya di Institut Musik Daya. Pada tanggal 11 Oktober 2009 Jazz Empat Orang tampil di Salihara. Satu bulan kemudian, tanggal 6 November 2009, Erik tampil bersama Balawan, Barry Likumahuwa, Karen (finalis Indonesian Idol) dan Sandy Winarta, dengan special performance Bubi Chen dalam Big Jazz Return. Tanpa menunggu lama, setelah Erik merintis project-nya, pada tanggal 29 November 2009, Erik Sondhy Project (E.S.P) tampil pertama kalinya di ajang Jazz Goes to Campus.
Menginjak tahun 2010, tanggal 14 Februari 2010, Erik tampil bersama dengan Sandy Winarta dan Dira Sugandi. Ia juga tampil di Java Jazz bersama Revelation, beranggotakan Jeffrey Tahalele, Sandy Winarta, Oele Pattiselano, Sierra Soetedjo dan Arief Setiady. Tanggal 9 November 2011, Erik Sondy Project (E.S.P), tampil di Festival Seni Surabaya.
Karma Jazz Trio
Pada tahun 2012 Erik Sondhy Project, menggarap trio bernama Karma Trio, yang beranggotakan Erik Sondhy (rhodes), Sandy Winarta (drum) dan Indra Gupta (bass). Dan menghasilkan album bertajuk Karma yang memuat tiga track free improvisation yang berisikan elemen jazz serta nuansa gamelan Bali pada scale yang digunakan serta pada beat rhythm.
Mister Fingers
Pada tahun 2012 Erik mulai kerap dijuluki Mister Fingers, karena ulasan dalam The Yak Magazine, pada tahun ini Erik Sondhy Project (E.S.P), kembali menggarap grup trio yang dinamakan Erik Sondhy Trio dan tampil di Java Jazz beranggotakan Erik Sondhy (keyboard), Sandy Winarta (drum) dan Kevin Joshua (bass). Dan Erik juga bermain di Ngayogjazz Festival yang mengambil tema “Dengan Jazz Kita Tingkatkan Swasembada Jazz”.
Langganan tampil di Java Jazz setiap tahun sejak 2005, Erik Sondhy yang pada tahun 2013, terpilih sebagai salah satu nominasi Yak Man of the Year dari The Yak Magazine ini, kerap tampil dengan banyak project dan band, di antaranya Erik Sondhy Trio (E.S.P.), Karma Jazz Trio (E.S.P.), Bertha and Friends, Dewa Budjana, The Revelation dan masih banyak musisi Jazz kenamaan lainnya. Pertama kali Erik tampil di Java Jazz adalah bersama Bertha and Friends pada tahun 2005. Erik juga bermain di Braga Jazz Festival pada tahun yang sama bersama Pra Budi Dharma (bass) dan penyanyi Trie Utami.
Tahun 2014, Erik tampil di Bali Live International Festival, dan di 2015, Erik Sondhy telah tampil di Jazz Café Ubud Bali, Ubud Village Jazz Festival, Bali Live International Jazz Festival, berkolaborasi dengan DJ Wilson dan Rio Sidik dalam acara Midnight Madness Velvet Hypnotized. Tampil di Java Jazz sebagai featuring dari band Maruli Tampubolon, bersama dengan Mus Mujiono dan Rio Sidik.
Abbey Road Studios, London
Pada bulan Juni 2015, Erik Sondhy berangkat ke London, Inggris, untuk merekam album ketiganya di Abbey Road Studios, studio yang membesarkan nama band sang idola The Beatles. Sebuah album yang akan ia rilis awal tahun 2016. Dulunya Abbey Road Studios di London sering disebut sebagai EMI Studio, berlokasi di 3 Abbey Road, St John’s Wood, City of Westminster, London, Inggris. Seperti mimpi yang jadi kenyataan, The Beatles merupakan alasan kenapa Erik Sondhy memilih karier sebagai musisi.
Proses rekaman Erik di Abbey Studio ditangani oleh Chris Bolster, pria asal New Zealand yang telah menangani beragam musisi termasuk di antara Al Di Meola, Jamie Cullum, Herbie Hancock, dan banyak lagi lainnya. Kesempatan untuk berangkat ke London dan rekaman didapat Erik dengan bantuan dari seorang penggemar beratnya. di sana, Erik sempat bermain di klab jazz kenamaan Ronnie Scott's dan berkesempatan ngejam bersama Andy Davies (trumpet), Mark Lewandowski (bass) dan Saleem Raman (drums).