Ephorus adalah jabatan kepemimpinan gereja yang digunakan dalam beberapa tradisi protestan, khususnya dalam gereja-gereja Batak di Indonesia seperti Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) dan lainnya. Jabatan ini merujuk pada pemimpin tertinggi gereja yang berperan sebagai pemimpin utama dalam bidang teologi, pelayanan, serta administrasi gerejawi.
Etimologi
Istilah Ephorus berasal dari bahasa Yunani: ephoros (ἔφορος) yang berarti “pengawas” atau “penilik”. Dalam perkembangannya, istilah ini juga diserap ke dalam bahasa Jerman untuk merujuk pada jabatan gerejawi, yakni sebagai dekan dalam gereja Protestan atau pemimpin seminari teologi.[1]
Dalam konteks gereja, istilah ini diadopsi dalam tradisi Protestan Eropa sebagai sebutan bagi pemimpin gereja, yang dalam banyak hal setara dengan uskup (bishop).
Penggunaan dalam gereja Batak
Di Indonesia, istilah Ephorus paling dikenal dalam struktur gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP). Namun demikian, selain HKBP, terdapat pula sejumlah gereja Batak lainnya yang menggunakan Ephorus sebagai gelar bagi pemimpin tertinggi mereka.
Secara historis, jabatan ini pertama kali diemban oleh misionaris Jerman Ludwig Ingwer Nommensen, yang diutus oleh Rheinische Missionsgesellschaft (RMG) untuk memberitakan Injil di Tanah Batak. Kepemimpinan Nommensen kemudian menjadi dasar bagi pembentukan struktur organisasi dan sistem kepemimpinan gereja HKBP.
Selain HKBP, terdapat sejumlah gereja Batak lain di Indonesia yang juga menggunakan Ephorus sebagai gelar bagi pemimpin tertinggi gereja. Beberapa di antaranya adalah: