Penelitian mengenai hubungan antara besaran termodinamikentropi dengan asal mula dan evolusi kehidupan mulai berkembang sekitar pergantian abad ke-20. Pada tahun 1910, sejarawan Amerika Henry Adams mencetak dan mendistribusikan ke perpustakaan universitas serta profesor sejarah sebuah buku kecil berjudul A Letter to American Teachers of History yang mengemukakan teori sejarah berdasarkan hukum kedua termodinamika dan prinsip entropi.[1][2]
Buku tahun 1944 berjudul What is Life? karya fisikawan peraih Nobel, Erwin Schrödinger, mendorong penelitian lebih lanjut di bidang ini. Dalam bukunya, Schrödinger awalnya menyatakan bahwa kehidupan bergantung pada entropi negatif, atau kadang disebut negentropi. Namun dalam edisi berikutnya, ia memperbaiki pernyataannya menanggapi kritik dan menjelaskan bahwa sumber sejati kehidupan adalah energi bebas. Penelitian-penelitian yang lebih mutakhir membatasi pembahasan pada energi bebas Gibbs, karena proses biologis di Bumi umumnya berlangsung pada suhu dan tekanan konstan, seperti di atmosfer atau di dasar lautan, dan tidak bervariasi keduanya dalam waktu singkat pada organisme tunggal. Penerapan kuantitatif keseimbangan entropi dan pertimbangan energi bebas Gibbs pada sel individu merupakan salah satu prinsip dasar dalam pertumbuhan dan metabolisme.[3]
Gagasan tentang hubungan antara entropi dan makhluk hidup telah mengilhami berbagai hipotesis serta spekulasi dalam banyak konteks, termasuk psikologi, teori informasi, asal mula kehidupan, dan kemungkinan adanya kehidupan luar bumi.
Referensi
↑Adams, Henry. (1986). History of the United States of America During the Administration of Thomas Jefferson (hlm. 1299). Library of America.
↑Adams, Henry. (1910). A Letter to American Teachers of History. Google Books, Scanned PDF. Washington.