Kisah
Nama Penguasa Aratta, yang tak disebutkan dalam kisah sebelumnya, kini muncul dalam pengantar singkat. Para ahli membacanya dengan dua cara: Ensuhgirana menurut tafsir kuneiform lama, dan Ensuhkešdanna menurut bacaan yang lebih baru. Disebut pula para pembesar kedua raja: Ansigaria, tangan kanan Ensuhkešdanna, dan Namena-tuma, pengikut setia Enmerkar. Kota Unug dan Kulaba, di bawah kuasa Enmerkar, dilukiskan sebagai "kota yang menjulang dari langit hingga bumi" [sic].
Dari sini kisah pun bergulir. Ensuhkešdanna menitipkan sepucuk pesan kepada utusannya. Ia menuntut agar Enmerkar tunduk kepada Aratta, sambil menyombongkan diri bahwa kasih dan restu dewi Inanna lebih dekat kepadanya ketimbang kepada penguasa Unug.
Utusan itu menempuh perjalanan menuju Unug dan menyampaikan titah tersebut. Enmerkar menjawab dengan tenang, menegaskan bahwa Inanna bersemayam bersamanya di kuil, dan bahwa sang dewi tak akan berpindah ke Aratta bahkan untuk lima atau sepuluh tahun lamanya. Terhadap kesombongan lawannya, ia membalas dengan sindiran yang menggigit, penuh kiasan erotis dan tawa ejekan: “meski ia bukan anak itik, jeritnya nyaring bak suara itik.”
Utusan kembali ke Aratta, dan Ensuhkešdanna pun guncang. Ia merasa kata-kata Enmerkar telah meruntuhkan wibawanya. Para penasehat menasihati agar ia menghindari perseteruan, tetapi sang penguasa bersumpah dengan angkuh: ia tidak akan pernah tunduk, sekalipun Aratta harus hancur menjadi debu.
Di saat genting itu datanglah Urgirinuna, seorang penyihir dari negeri Hamazi yang telah jatuh. Ia berjanji kepada Ansigaria bahwa dengan sihirnya ia akan menundukkan Enmerkar bagi Aratta. Dengan dukungan menteri itu, Urgirinuna berangkat ke Eresh, kota suci dewi Nisaba, dan di sana ia merusak ternak perah milik Enmerkar dengan tipu daya gaib.
Namun perbuatannya tak luput dari mata dua penggembala, Mashgula dan Uredina. Mereka berseru kepada Utu, dewa matahari, memohon pertolongan. Doa mereka dijawab dengan kehadiran seorang penyihir perempuan dari Eresh, yang dikenal sebagai "Perempuan Bijak Sagburu". Ia menantang Urgirinuna dalam adu kesaktian. Setiap kali ia menebar benih ikan dan memanggil seekor makhluk dari air, Sagburu memanggil pula seekor pemangsa yang lebih buas, yang segera memangsa hasil sihirnya. Berkali-kali Urgirinuna dipatahkan, hingga akhirnya Sagburu, dengan kuasa yang lebih agung, menolak mengampuni nyawanya. Ia mencampakkan penyihir itu ke dalam arus deras Efrat, menenggelamkannya selamanya.
Mendengar kabar kekalahan sekutunya, Ensuhkešdanna pun akhirnya menundukkan diri kepada Enmerkar. Bagian akhir kisah terlalu rapuh dan terpecah-pecah dalam lauh tanah liat yang tersisa, sehingga sisanya tak lagi dapat dibaca dengan pasti.