Enheduanna (Sumeria: 𒂗𒃶𒌌𒀭𒈾code: sux is deprecated [1]Enḫéduanna, juga ditransliterasikan sebagai Enheduana, En-he2-du7-an-na, atau ragam lainnya; fl.ca 2300 SM) adalah pendeta wanita agung (entu) dari dewa bulan Nanna (Sīn) di negara-kota Sumeria di Ur pada masa pemerintahan ayahnya, Sargon dari Akkadia (m.ca2334–ca2279 SM). Ia kemungkinan besar ditunjuk oleh ayahnya sebagai pemimpin kelompok keagamaan di Ur untuk mempererat ikatan antara agama Akkadia yang dianut sang ayah dengan agama asli bangsa Sumeria. Enheduanna telah diakui secara luas sebagai penulis bernama paling awal yang diketahui dalam sejarah dunia.
Sejumlah karya dalam Sastra Sumeria, seperti Peninggian Inanna, menampilkannya sebagai narator sudut pandang orang pertama, dan karya-karya lain, seperti Himne-himne Kuil Sumeria, diyakini dapat dikenali sebagai hasil gubahannya. Namun demikian, terdapat perdebatan yang cukup sengit di kalangan pakar Asiriologi modern, berdasarkan landasan linguistik maupun arkeologis, perihal apakah ia benar-benar menulis atau menggubah karya-karya yang ditemukan kembali tersebut yang dikaitkan dengan namanya. Selain itu, satu-satunya naskah dari karya-karya yang dinisbahkan kepadanya ditulis oleh para juru tulis pada masa Kekaisaran Babilonia Pertama enam abad setelah ia hidup, dan ditulis dalam dialek bahasa Sumeria yang lebih baru daripada yang mungkin ia tuturkan. Para juru tulis ini mungkin menyematkan karya-karya tersebut kepadanya sebagai bagian dari narasi legendaris wangsa Sargon dari Akkadia dalam tradisi Babilonia di kemudian hari.
Ingatan budaya mengenai Enheduanna beserta karya-karya yang dihubungkan dengannya lenyap beberapa waktu setelah runtuhnya Kekaisaran Babilonia Pertama. Eksistensinya baru ditemukan kembali oleh para pakar arkeologi modern pada tahun 1927, tatkala Sir Leonard Woolley menggali Giparu di kota kuno Ur dan menemukan sebuah cakram pualam dengan ukiran namanya, hubungannya dengan Sargon dari Akkadia, serta jabatannya di sisi baliknya. Berbagai rujukan mengenai namanya kemudian ditemukan pada karya-karya sastra Sumeria yang berhasil digali, yang memicu penyelidikan mengenai kemungkinan posisinya sebagai penulis karya-karya tersebut. Penemuan kembali Enheduanna secara arkeologis telah menarik perhatian besar dan memantik perdebatan ilmiah di era modern terkait posisinya sebagai penulis bernama pertama yang pernah diketahui. Sosoknya juga mendapat perhatian yang cukup besar dalam kajian feminisme, dan karya-karya yang dinisbahkan kepadanya juga telah ditelaah sebagai bentuk cikal bakal dari retorika klasik. Terjemahan bahasa Inggris dari karya-karyanya telah mengilhami sejumlah adaptasi dan representasi sastra.
Latar belakang
Ayah Enheduanna adalah Sargon dari Akkadia,[2] pendiri Kekaisaran Akkadia. Dalam sebuah prasasti yang masih bertahan, Sargon menggelari dirinya "Sargon, raja Akkadia, pengawas (mashkim) Inanna, raja Kish, yang diurapi (guda) oleh Anu, raja negeri [Mesopotamia], gubernur (ensi) Enlil".[3] Prasasti tersebut merayakan penaklukan Uruk dan kekalahan Lugal-zage-si, yang dibawa oleh Sargon "dengan leher terbelenggu ke gerbang Enlil":[3][4] Sargon kemudian menaklukkan Ur dan "membumihanguskan" wilayah dari Lagash hingga ke laut, [5] yang pada akhirnya menaklukkan setidaknya 34 kota secara keseluruhan.
Irene J. Winter menyatakan bahwa setelah menaklukkan Ur, Sargon kemungkinan besar berusaha untuk "mengkonsolidasikan hubungan wangsa Akkadia dengan masa lalu tradisional Sumeria di pusat pemujaan dan politik penting Ur"[6] dengan menunjuk Enheduanna pada posisi penting dalam kultus dewa bulan asli Sumeria. Winter menyatakan bahwa kemungkinan besar jabatan yang diembannya sudah ada sebelumnya, dan bahwa penunjukannya untuk peran ini, serta nisbahnya kepada Nanna akan membantunya menjalin sinkretisme antara agama Sumeria dan agama Semit. Setelah Enheduanna, peran pendeta wanita agung terus dipegang oleh anggota keluarga kerajaan. Joan Goodnick Westenholz mengemukakan bahwa peran pendeta wanita agung tampaknya memiliki tingkat kehormatan yang setara dengan seorang raja; sebagai pendeta wanita agung Nanna, Enheduanna akan bertugas sebagai perwujudan Ningal, pasangan Nanna, yang akan memberikan otoritas ilahi pada setiap tindakannya.[7] Akan tetapi, meskipun Giparu di Ur tempat pendeta wanita en dari Nanna beribadah telah dipelajari secara ekstensif oleh para arkeolog, tidak ada informasi definitif mengenai apa saja tugas mereka sebenarnya. [8]
Pemberontakan Lugal-Ane
Menjelang akhir masa pemerintahan cucu Sargon, yakni Narām-Sîn, sejumlah besar bekas negara-kota melancarkan pemberontakan terhadap kekuasaan pusat Akkadia. Berdasarkan sejumlah petunjuk dalam kidung Nin me šara ("Peninggian Inana"), serangkaian peristiwa tersebut dapat direkonstruksi dari sudut pandang Enheduanna: seorang tokoh bernama Lugal-Ane berhasil merebut kekuasaan di kota Ur, dan sebagai penguasa baru, ia berlindung di balik legitimasi dewa kota Nanna. Sosok Lugal-Ane ini kemungkinan besar adalah orang yang sama dengan Lugal-An-na atau Lugal-An-né, yang disebutkan dalam naskah-naskah sastra Babilonia kuno mengenai peperangan tersebut sebagai raja Ur. Lugal-Ane rupanya menuntut agar pendeta wanita agung yang juga merupakan permaisuri dewa bulan, Enheduanna, mengesahkan pengambilalihan kekuasaannya. En-ḫedu-anna, sebagai perwakilan wangsa Sargon, menolak tuntutan tersebut, yang kemudian berujung pada pencopotan dirinya dari jabatan dan pengusirannya dari kota tersebut. Penyebutan nama kuil E-ešdam-ku mengindikasikan bahwa ia kemudian menemukan tempat bernaung di kota Ĝirsu. Di dalam pengasingan inilah, ia menggubah kidung Nin me šara, yang pementasannya dimaksudkan untuk membujuk dewi Inanna (dalam wujud Ishtar, dewi pelindung wangsanya) agar bersedia turun tangan demi membela Kekaisaran Akkadia.[9]
Raja Narām-Sîn pada akhirnya berhasil menumpas pemberontakan Lugal-Ane beserta raja-raja lainnya, serta memulihkan otoritas pusat Akkadia pada sisa tahun-tahun masa pemerintahannya. Kemungkinan besar Enheduanna kemudian kembali menduduki jabatannya di kota Ur.[butuh rujukan]
Artefak arkeologis
Cakram Enheduanna, yang ditemukan oleh Leonard Woolley, memperlihatkan sang pendeta wanita agung tengah berdiri memanjatkan puja saat sosok yang ditafsirkan sebagai pria telanjang menuangkan persembahan curahan[10]
Pada tahun 1927, sebagai bagian dari upaya penggalian di Ur, arkeolog Inggris Sir Leonard Woolley menemukan sebuah cakram pualam yang hancur berkeping-keping, yang sejak saat itu telah direkonstruksi kembali. Sisi balik cakram tersebut menyebutkan Enheduanna sebagai istri Nanna dan putri Sargon dari Akkadia. Sisi depannya memperlihatkan sang pendeta wanita agung berdiri memanjatkan puja ketika sesosok yang ditafsirkan sebagai pria telanjang menuangkan persembahan curahan (libasi).[10]Irene Winter menyatakan bahwa "mengingat penempatan dan perhatian terhadap detail" pada sosok sentral tersebut, "ia telah dikenali sebagai Enheduanna".[11] Cakram tersebut kini menjadi artefak utama di Galeri Timur Tengah di Museum Penn. Staf museum telah memamerkan cakram tersebut kepada tamu-tamu istimewa museum, seperti Neil Gaiman.[12] Bersama benda-benda lain yang berkaitan dengan pendeta wanita tersebut, artefak ini dipajang dalam pameran tahun 2022–2023 yang berpusat pada dirinya, bertajuk She Who Wrote: Enheduanna and Women of Mesopotamia.[13]
Dua buah stempel yang memuat namanya, milik para pelayannya dan diperkirakan berasal dari periode Sargonik, telah digali di Giparu di Ur. [14]
Dua dari karya-karya yang dinisbahkan kepada Enheduanna, yakni "Himne Inanna" dan "Inanna dan Ebih", telah bertahan di dalam berbagai naskah berkat keberadaannya di dalam Dekade, sebuah kurikulum juru tulis tingkat lanjut pada masa Kekaisaran Babilonia Pertama di abad ke-18 dan ke-17 SM. [15] Black et al. mengemukakan bahwa "mungkin Enheduanna tetap lestari dalam sastra juru tulis" berkat "pesona yang tak kunjung pudar terhadap wangsa ayahnya, Sargon dari Akkadia".[16] Akan tetapi, mengaitkan popularitasnya dengan sosok sang ayah tampaknya merupakan salah satu contoh bias androsentrisme dalam ilmu arkeologi,[17] mengingat kedudukan abadi Enheduanna sebagai penulis pertama yang diakui eksistensinya dalam sejarah umat manusia.[18]
Binkley, Roberta A. (2004). "The Rhetoric of Origins and the Other: Reading the Ancient Figure of Enheduanna". Dalam Lipson, Carol; Binkley, Roberta A. (ed.). Rhetoric before and beyond the Greeks. Albany: State University of New York Press. hlm.47–59. ISBN978-0-7914-6100-6.
Black, Jeremy; Cunningham, Graham; Robson, Eleanor; Zólyomi, Gábor (2006). The Literature of Ancient Sumer. Oxford University Press. ISBN978-0-19-929633-0.
Civil, Miguel (1980). "Les limites de l'information textuelle". Centre National de la Recherche Scientifique.
Ebeling, Erich, ed. (1938). "Bd 2 Ber - Ezur und Nachträge". Ezur und Nachträge. Reallexikon der Assyriologie und Vorderasiatischen Archäologie (dalam bahasa Jerman). Vol.2. Berlin: De Gruyter. ISBN978-3-11-004450-8. Diakses tanggal 11 December 2021.
Delnero, Paul (1 July 2016). "Scholarship and Inquiry in Early Mesopotamia". Journal of Ancient Near Eastern History. 2 (2): 109–143. doi:10.1515/janeh-2016-0008. S2CID133572636.
Frayne, Douglas (1993). Sargonic and Gutian Periods, 2334-2113 BC (dalam bahasa Inggris). University of Toronto Press. hlm.10–12. ISBN978-0-8020-0593-9.
Godotti, Alhena (12 August 2016). "Mesopotamian Women's Cultic Roles in Late 3rd — Early 2nd millennia BCE". Dalam Budin, Stephanie Lynn; Turfa, Jean Macintosh (ed.). Women in Antiquity: Real Women across the Ancient World (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN978-1-317-21990-3.
Kramer, Samuel Noah (17 September 2010). The Sumerians: Their History, Culture, and Character (dalam bahasa Inggris). University of Chicago Press. ISBN978-0-226-45232-6.
Kuhrt, Amélie (1995). The Ancient Near East, C. 3000-330 BC (dalam bahasa Inggris). Psychology Press. ISBN978-0-415-16763-5.
Sjöberg, Åke W. (1 January 1975). "in-nin šà-gur4-ra. A Hymn to the Goddess Inanna by the en-Priestess Enḫeduanna". Zeitschrift für Assyriologie und Vorderasiatische Archäologie (dalam bahasa Jerman). 65 (2): 161–253. doi:10.1515/zava.1975.65.2.161. ISSN1613-1150. S2CID161560381.
Weigle, Marta (Autumn 1978). "Women as Verbal Artists: Reclaiming the Sisters of Enheduanna". Frontiers: A Journal of Women Studies. 3 (3): 1–9. doi:10.2307/3346320. JSTOR3346320.
Westenholz, Joan Goodnick (1989). "Enḫeduanna, En-Priestess, Hen of Nanna, Spouse of Nanna". Dalam Behrens, Hermann; Loding, Darlene; Roth, Martha T. (ed.). DUMU-E-DUB-BA-A: Studies in Honor of Åke W. Sjöberg. Philadelphia, PA: The University Museum. hlm.539–556. ISBN0-934718-98-9.
Winter, Irene (2009). "Women In Public: The Disk Of Enheduanna, The Beginning Of The Office Of En-Priestess, And The Weight Of Visual Evidence". Dalam Winter, Irene (ed.). On Art in the Ancient Near East Volume II: From the Third Millennium BCE (dalam bahasa Inggris). BRILL. hlm.65–84. ISBN978-90-474-2845-9.
Zgoll, Annette (2014). "Nin-me-šara – Mythen als argumentative Waffen in einem rituellen Lied der Hohepriesterin En-ḫedu-Ana". Dalam Janowski, Bernd; Schwemer, Daniel (ed.). Weisheitstexte, Mythen und Epen. Texte aus der Umwelt des Alten Testaments Neue Folge 8. Gütersloh: Gütersloher Verlagshaus. hlm.5–67. doi:10.14315/9783641219949-003. ISBN978-3-641-21994-9. S2CID198766340.
Zgoll, Annette (2021). "Innana and En-ḫedu-ana: Mutual Empowerment and the myth INNANA CONQUERS UR". Dalam Droß-Krüpe, Kerstin; Fink, Sebastian (ed.). Perception and (Self-)Presentation of Powerful Women in the Ancient World, Proceedings of the 8th Melammu Workshop, Kassel 31 January - 1 February 2019. Melammu Workshops and Monographs. Vol.4. Münster: Zaphon. hlm.13–56. ISBN978-3-96327-138-0.
Bacaan lanjutan
Pryke, Louise M. (2017). "Enheduanna and Ancient Literature." Ishtar: Gods and heroes. London and New York, Routledge, pp.16–18. ISBN978-1-138-86073-5
Wilcke, Claus (1972). "Der aktuelle Bezug der Sammlung der sumerischen Tempelhymnen und ein Fragment eines Klageliedes". Zeitschrift für Assyriologie und Vorderasiatische Archäologie. 62 (1). doi:10.1515/zava.1972.62.1.35. S2CID163266334.