Eliza Urbanus Pupella atau E. U. Pupella (ejaan lama: Poepella, 24 April 1910 - 16 Agustus 1996) adalah seorang wartawan dan pemimpin nasionalis Indonesia asal Pulau Ambon pada masa pendudukan Jepang di Indonesia, masa Revolusi Nasional Indonesia, dan masa kemerdekaan Indonesia. Sebagai seorang penganut Kristen, Pupella memimpin kelompok nasionalis Liga Ambon sejak tahun 1938. Selama masa pendudukan Jepang, Pupella diangkat menjadi kepala administrasi yang baru di pulau tersebut karena ditahannya personel Belanda sepanjang masa perang.[1]
Pada masa pembentukan Negara Indonesia Timur, Pupella diangkat menjadi perwakilan dari Maluku Selatan. Kemudian, Pupella memimpin fraksi Populis dalam Badan Perwakilan Sementara. Setelah pengunduran diri Kabinet Diapari pada tanggal 25 April 1950, Pupella ditunjuk sebagai perdana menteri oleh Presiden Soekawati yang bertugas membentuk kabinet pemerintahan baru. Namun, Pupella tidak dapat membentuk kabinet pemerintahan yang baru, sehingga Presiden Soekawati memilih Martinus Putuhena untuk membentuk kabinet pemerintahan baru dan kemudian dilantik sebagai Perdana Menteri keenam dan terakhir pada tanggal 10 Mei 1950.[2]
Pupella kemudian menjabat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat di Jakarta (baik dalam bentuk Federal maupun Sementara) antara tahun 1950 dan 1956. Pupella meninggal di Ambon pada tanggal 16 Agustus 1996.[3]
Ia mendirikan toko buku "Masa" di Ambon. Toko buku satu-satunya di Ambon pada saat itu. Toko ini bertahan hingga puluhan tahun. Ia mengelola toko tersebut sampai tua.[4]
Karier
Kariernya dimulai sebagai jurnalis era Belanda dan Jepang. Sebagai jurnalis surat kabar Masa yang didirikan olehnya di Ambon, ia ikut meliput Konferensi Meja Bundar (KMB) dan Penyerahan Kedaulatan di Den Haag tahun 1949.[4]
Mosi Pupella
Ia populer dengan "Mosi Pupella" di Parlemen Negara Indonesia Timur (NIT) di Makassar pada April 1950. Dalam dua kali sidang, Mosi Pupella telah membuat Perdana Menteri Dapari mengundurkan diri. Momen ini menjadi momen penting dalam sejarah pembubaran NIT. Karena NIT dibubarkan, Pupella dan kawan-kawannya menyerahkan kekuasaan kepada Pemerintah Republik Indonesia di Yogyakarta. Sejak itu pula, Republik Indonesia Serikat (RIS) berakhir. Indonesia kemudian menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).[4]
Balai Pendidikan
Pada 1993, bersama istrinya Aan Latuansa, ia pergi bersekolah di Taman Siswa Yogyakarta. Ia dan istrinya tinggal dan belajar di rumah Ki Hajar Dewantara dan Nyi Hajar Dewantara. Setelah tujuh bulan, ia dan istrinya kembali ke Ambon untuk mendirikan Balai Pendidikan, semacam replikasi dari Taman Siswa Yogyakarta. Selama merintis Balai Pendidikan, ia sempat ragu karena yang mau belajar hanya anak-anak kristen. Ia lalu membujuk Ibu Guru Sukur, pemeluk Islam, untuk ikut mengajar di Balai Pendidikan. Warga Muslim Ambon pun mendaftarkan anak mereka di Balai Pendidikan.[4]
Melalui Balai Pendidikan, ia melakukan perlawanan terhadap pemerintah kolonial Belanda. Ia menolak membawa anak-anak ke Esplenade (sekarang bernama Lapangan Merdeka) untuk merayakan ulang tahun Ratu Belanda. Polisi Belanda menginterogasinya. Pupella berargumentasi bahwa tidak tepat anak-anak yang sedang belajar pergi merayakan hari ulang tahun satu orang nun jauh di sana yang tidak mereka kenal. Polisi Belanda pun terdiam.[4]
↑Gde Agung, Ide Anak Agung (1995). From the Formation of the State of East Indonesia Towards the Establishment of the United States of Indonesia (dalam bahasa Inggris). Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. hlm.770.
12345Aiyub, Azhari; Hartanto, Dwi; Poceratu, Eko Saputra; Aladjai, Erni; Nesi, Felix K. (2024). Dari Dewantara hingga Anak Rumput Tak Tahu Adat Sehimpun Laporan tentang Bantuan Pemerintah untuk Desa. Jakarta: Penerbit Buku Kompas. ISBN978-623-160-440-8.