Surat Penganugerahan Salib Jasa dari pemerintah Belanda kepada Eliezer Jan Bonay atas jasa-jasanya semasa Perang Dunia II.
Eliezer lahir pada tanggal 24 Agustus 1924 di Serui Laut. Pada tahun 1941, ia mulai bekerja sebagai juru tulis di kantor Distrik Serui.[4] Pada tanggal 20 Oktober 1944, Eliezer yang waktu itu bekerja sebagai juru tulis pembantu bertolak dari Hollandia (kini Jayapura) ke Pulau Rumberpon untuk membantu proses evakuasi penduduk setempat sekaligus secara pribadi mengumpulkan informasi mengenai tentara Jepang dan membantu tentara Sekutu dalam melakukan penjagaan dan pengiriman patroli. Kegiatan itu ia lakukan hingga tanggal 2 Maret 1945. Sebanyak 1.600 penduduk Rumberpon berhasil dievakuasi berkat usahanya, 200 di antaranya dibebaskan dari tawanan Jepang. Atas jasanya, pada tanggal 7 November 1947, pemerintah Belanda menganugerahinya Salib Jasa (Kruis van Verdienste).[4]
Pada tahun 1945, Eliezer ditunjuk menjadi Calon Administrator Pembantu (candidaat-bestuursassistent), di Distrik Demta.[4] Ia juga menjadi juru tulis di Kantor Conica (Commanding Officer NICA) di Hollandia. Eliezer kemudian dipindahkan dari Demta ke berbagai distrik di pedalaman Afdeling Hollandia seperti Arso dan Wembi (keduanya kini bagian dari Kabupaten Keerom) hingga akhir tahun 1949. Ia di sana bertugas sebagai kepala distrik.[4]
Diploma (ijazah) Eliezer dari OSIBA, 25 Juli 1957.
Setahun kemudian, Eliezer menjadi kepala distrik Waropen Hulu (Boven-Waropen) dan diberi tugas untuk meningkatkan status Waropen Hulu menjadi sebuah sub-afdeling (onderafdeeling). Pada tahun 1957, Eliezer lulus dari OSIBA (Opleidingsschool voor Inheemsche Bestuursambtenaren) di Hollandia dan ditugaskan menjadi kepala distrik Biak Timur. Kemudian pada bulan Agustus 1960, Eliezer dipindahtugaskan ke Serui dan menjadi kepala distrik Yapen Selatan.[4]
Kematian dan kehidupan pribadi
Eliezer wafat pada tanggal 14 Maret 1990 di Rumah Sakit Sint-Joseph, Deventer, di usia 65 tahun. Jenazahnya dikremasi pada tanggal 19 Maret 1990 di Zwolle dengan upacara politik dan keagamaan.[5] Selama hidupnya, ia pernah menikah sebanyak tiga kali. Dengan istri pertamanya yang bernama Ana, ia dikaruniai tiga orang anak. Dengan istrinya yang kedua, Ester Airori, Eliezer dikaruniai tujuh orang anak. Terakhir, dengan istrinya yang ketiga, Djuariah, ia dikaruniai dua orang putri.[6]