Ekspedisi Inggris ke Makassar adalah ekspedisi militer Inggris yang diadakan pada bulan Juni 1814 melawan Kesultanan Bone di Sulawesi Selatan modern. Kampanye militer ini ditujukan ke istana Sultan Bone, yang terletak di Makassar modern, untuk memaksa Bone mengakui otoritas Inggris di Sulawesi Selatan. Istana tersebut direbut dan dibakar, sementara Inggris juga menyita perpustakaan Bone.
Pada tahun 1812, La Mappatunruq (atau Muhammad Ismail Muhtajuddin) menjadi Sultan Bone yang baru.[3][4] Ia berusaha memperluas pengaruhnya di wilayah tersebut atas kerajaan-kerajaan yang lebih kecil, dan menunjukkan permusuhan terhadap pemerintahan Inggris yang baru. Pada awal Juni 1814, setelah menaklukkan raja Buleleng dalam sebuah ekspedisi ke Bali, pasukan Inggris tiba di Makassar di bawah komando Miles Nightingall.[2]
Ekspedisi
Pada tanggal 6 Juni 1814, Nightingall menuntut La Mappatunruq untuk tunduk kepada supremasi Inggris dengan menyerahkan regalia Kesultanan Gowa, yang saat itu berada di tangan Bone. La Mappatunruq diberi batas waktu sepuluh jam untuk melakukannya, tetapi tidak melakukannya.[2][3] Oleh karena itu, Nightingall memerintahkan serangan terhadap istana Bone di Bontoala, yang kini berada di dalam kota Makassar. Pasukan Inggris didukung oleh pasukan lokal dari Gowa dan Soppeng.[5]
Serangan tersebut terjadi pada tanggal 7[5] atau 8[4] Juni, dan istana tersebut dibanjiri korban jiwa yang besar di pihak Bone.[4] Lima meriam direbut oleh Inggris,[4] dan raja Bulukumba (sekutu Bone) tewas dalam pertempuran tersebut.[5] Pasukan Bone mundur menuju Maros setelah pertempuran tersebut.[4]
Akibat
Koleksi puisi Bugis yang diambil selama ekspedisi.
Setelah istana direbut, sejumlah manuskrip dari perpustakaan kerajaan Bone disita, dengan Crawfurd memperoleh 30 manuskrip yang ditulis dalam bahasa Bugis dan Makassar.[4] Manuskrip-manuskrip tersebut kini disimpan di Perpustakaan Britania. Sejumlah manuskrip masih tersisa, yang kemudian disita oleh Belanda dalam ekspedisi mereka pada tahun 1905. Istana tersebut kemudian dibakar.[4] Kebesaran Gowan juga direbut, dan diberikan kepada raja Soppeng.[5]
Pengaruh Inggris di wilayah tersebut tidak bertahan lama, karena Belanda kembali berkuasa pada tahun 1816.[3]