Efek sorotan adalah fenomena psikologi di mana orang cenderung percaya bahwa mereka diperhatikan lebih dari yang sebenarnya. Karena seseorang terus-menerus berada di pusat dunianya sendiri, evaluasi yang akurat mengenai seberapa besar dirinya diperhatikan oleh orang lain menjadi hal yang jarang terjadi. Alasan terjadinya efek sorotan adalah kecenderungan bawaan untuk melupakan bahwa meskipun seseorang menjadi pusat dari dunianya sendiri, ia bukanlah pusat dari dunia orang lain. Kecenderungan ini sangat menonjol ketika seseorang melakukan sesuatu yang tidak biasa, seperti melakukan faux pas (kecerobohan sosial).[1]
Penelitian telah membuktikan secara empiris bahwa penilaian yang terlalu berlebihan secara drastis terhadap pengaruh diri sendiri pada orang lain adalah hal yang sangat umum terjadi. Banyak pakar di bidang psikologi sosial mendorong orang-orang untuk menyadari adanya efek sorotan ini dan membiarkan fenomena tersebut meredam sejauh mana seseorang meyakini bahwa dirinya sedang berada di bawah sorotan sosial.[2]
Sejarah
Istilah "efek sorotan" dicetuskan oleh Thomas Gilovich, Victoria Husted Medvec, dan Kenneth Savitsky.[3] Fenomena ini pertama kali muncul dalam dunia psikologi di jurnal Current Directions in Psychological Science pada tahun 1999. Meskipun waktu tersebut merupakan pertama kalinya efek ini diberi nama, fenomena ini sebenarnya sudah pernah dijelaskan sebelumnya. Terdapat beberapa penelitian lain sebelum tahun 1999 yang mengamati fenomena serupa dengan efek sorotan yang mereka jelaskan. Thomas Gilovich sendiri telah mempelajari fenomena ini selama bertahun-tahun dan menulis beberapa makalah penelitian sebelum akhirnya bekerja sama dengan Savitsky. Dalam penelitiannya bersama Husted Medvec dan Savitsky, ia menggabungkan berbagai efek berbeda yang ia amati sebelumnya untuk menggambarkan efek sorotan ini.[3] Gilovich bukan satu-satunya orang yang menyadari terjadinya efek ini. David Kenny dan Bella DePaulo melakukan penelitian untuk melihat apakah seseorang mengetahui bagaimana orang lain memandang mereka. Mereka menduga bahwa individu akan menilai apa yang dipikirkan orang lain tentang mereka berdasarkan persepsi diri mereka sendiri, alih-alih menggunakan umpan balik nyata yang diberikan. Penelitian tersebut menemukan bahwa pandangan individu tentang apa yang dipikirkan orang lain cenderung meleset jika dibandingkan dengan apa yang sebenarnya dipikirkan orang lain tentang diri mereka.[4]
Sebagai contoh, Kleck dan Strenta (1980) menguji bagaimana subjek mempersepsikan reaksi orang lain terhadap cacat fisik yang mereka miliki. Dalam penelitian tersebut, wajah para sukarelawan dirias agar memiliki luka parut yang menonjol, lalu mereka diperlihatkan luka tersebut di cermin. Setelah itu, penata rias mengoleskan krim yang dikatakan berfungsi untuk menjaga luka agar tidak mengering. Sukarelawan lalu masuk ke ruangan lain dan diminta melakukan percakapan biasa dengan orang baru mengenai topik tertentu. Setelah selesai, sukarelawan menilai reaksi orang lain terhadap luka parut mereka, seperti apakah orang tersebut terlihat lebih tegang dari biasanya, kurang melakukan kontak mata, menjadi lebih berjarak, atau bersikap merendahkan. Hasilnya menunjukkan bahwa para sukarelawan merasa diperlakukan secara berbeda secara signifikan karena luka parut tersebut. Namun pada kenyataannya, saat krim dioleskan sebelum memasuki ruangan, luka parut tersebut sebenarnya telah dihapus seluruhnya oleh penata rias tanpa disadari oleh sukarelawan. Dengan demikian, persepsi diperlakukan secara berbeda itu sepenuhnya muncul akibat rasa cemas dan kesadaran diri dari sukarelawan itu sendiri.[5]
Kaitan dengan konsep psikologi lain
Efek sorotan merupakan perluasan dari beberapa fenomena psikologi. Di antaranya adalah fenomena yang dikenal sebagai penjangkaran dan penyesuaian, yang menunjukkan bahwa individu akan menggunakan perasaan cemas internal mereka sendiri beserta representasi diri yang menyertainya sebagai tambatan, kemudian kurang menyesuaikannya dengan fakta bahwa orang lain tidak terlalu mengetahui perasaan tersebut jika dibandingkan dengan diri mereka sendiri. Akibatnya, mereka menilai secara berlebihan sejauh mana kecemasan mereka terlihat jelas oleh orang-orang di sekitar. Bahkan, Clark dan Wells (1995) menunjukkan bahwa orang yang mengalami fobia sosial memasuki situasi sosial dalam keadaan fokus pada diri sendiri yang meninggi, yaitu dari tambatan emosional yang tinggi. Keadaan yang berfokus pada diri sendiri ini mempersulit individu untuk mengesampingkan pengetahuan diri publik dan privat demi berfokus pada tugas yang dihadapi.[6]
Fenomena terkait lainnya disebut efek konsensus palsu. Efek konsensus palsu terjadi ketika individu menilai secara berlebihan sejauh mana orang lain memiliki pendapat, sikap, dan perilaku yang sama dengan mereka. Hal ini mengarah pada kesimpulan keliru yang dapat meningkatkan harga diri seseorang. Efek konsensus palsu merupakan teori yang berlawanan dengan efek keunikan palsu, yaitu kecenderungan seseorang untuk meremehkan sejauh mana orang lain memiliki sikap dan perilaku positif yang sama. Salah satu dari efek-efek ini dapat diterapkan pada efek sorotan.[6]
Bias diri-sebagai-target adalah fenomena lain yang berkaitan erat dengan efek sorotan. Konsep ini menggambarkan situasi ketika seseorang percaya bahwa berbagai peristiwa secara tidak proporsional diarahkan pada diri mereka sendiri. Sebagai contoh, jika seorang siswa harus mengumpulkan tugas di kelas dan tidak mempersiapkannya dengan baik, siswa tersebut mungkin mulai panik dan berpikir bahwa hanya karena mereka tidak bersiap dengan baik, guru akan mengetahuinya dan langsung menunjuk mereka untuk menjawab pertanyaan.[7]
Hal lain yang juga relevan dengan efek sorotan adalah ilusi transparansi, yaitu kecenderungan orang untuk menilai secara berlebihan sejauh mana keadaan mental pribadi mereka diketahui oleh orang lain. Manifestasi lain dari ilusi transparansi adalah kecenderungan orang untuk menilai secara berlebihan seberapa baik mereka memahami keadaan mental pribadi orang lain. Bias kognitif ini mirip dengan ilusi wawasan asimetris, di mana orang menganggap pengetahuan mereka tentang orang lain melampaui pengetahuan orang lain tentang diri mereka sendiri.[6]
Penelitian tentang efek sorotan memainkan peran penting dalam berbagai aspek psikologi dan masyarakat. Penelitian mengenai fenomena ini terutama dipelopori oleh empat orang: Thomas Gilovich, Kenneth Savitsky, Victoria Medvec, dan Justin Kruger. Fokus utama penelitian mereka berpusat pada penilaian sosial, penonjolan kontribusi individu, tindakan individu, serta bagaimana individu meyakini orang lain mempersepsikan mereka.
Penilaian sosial dan penonjolan
Dalam penilaian sosial, rasa malu memainkan peran besar terhadap sejauh mana efek sorotan termanifestasi. Penelitian oleh Asif, Medvec, dan Savitsky menunjukkan bahwa situasi tertentu yang melibatkan barang-barang yang memicu rasa malu, seperti kaus yang memalukan, meningkatkan tingkat efek sorotan yang dialami oleh seseorang. Waktu terjadinya paparan dalam situasi yang memalukan tersebut juga memengaruhi tingkat keparahan efek sorotan. Jika paparan terjadi seketika, efek sorotan meningkat secara signifikan dalam skenario pengambilan keputusan. Sebaliknya, paparan yang tertunda akan menurunkan intensitas efek sorotan.[3]
Penonjolan ide dan kontribusi penting dalam suatu kelompok adalah aspek lain dari penilaian sosial yang dipengaruhi oleh efek sorotan. Individu cenderung menilai secara berlebihan sejauh mana kontribusi mereka berdampak pada orang-orang di sekitar mereka. Dalam lingkungan kelompok, kontribusi tersebut dianggap oleh individu lebih signifikan daripada kontribusi anggota kelompok lainnya, dan mereka merasa anggota lain pun berpikiran sama tentang kontribusi mereka tersebut.[3]
Tindakan dan persepsi
Tindakan individu dan bagaimana mereka meyakini orang lain menilai kinerja mereka juga menjadi bagian penting dari penelitian efek sorotan. Gilovich, Medvec, dan Savitsky mengeksplorasi gagasan ini lebih lanjut. Dalam situasi yang melibatkan kelompok besar yang saling berinteraksi, terdapat satu detail umum yang menjelaskan mengapa perhatian orang lain tidak semata-mata terpusat pada individu tersebut. Dalam lingkungan seperti perkuliahan di kelas atau kompetisi atletik, perhatian terbagi antara fokus pada individu dan fokus pada tindakan kelompok. Ketidakmampuan untuk menyadari pembagian perhatian ini membuat individu menilai secara berlebihan kemungkinan bahwa rekan-rekan mereka akan memandang mereka secara buruk.[8]
Demikian pula, Gilovich, Medvec, dan Savitsky memperluas penelitian mereka dan menyimpulkan bahwa dalam situasi yang melibatkan penonton yang tujuan utamanya memang untuk mengamati, tingkat keparahan efek sorotan tidak dinilai secara berlebihan karena fokus perhatian penonton memang sepenuhnya berpusat pada individu yang sedang tampil.[8]