Edward Paul Abbey (29 Januari 1927–14 Maret 1989) adalah seorang penulis novel dan esai asal Amerika Serikat yang terkenal akan advokasinya terhadap isu-isu lingkungan hidup, kritiknya terhadap kebijakan lahan publik, dan pandangan politik anarkisnya. Karya-karyanya yang terkenal ialah novelMonkey Wrench Gang dan esai berjudul Desert Solitaire.
Kehidupan awal dan pendidikan
Abbey lahir di Indiana, Pennsylvania pada tanggal 29 Januari 1927. Orang tuanya ialah Mildred Postlewait, ibunya yang bekerja sebagai guru sekolah dan organis gereja, dan Paul Revere Abbey. Ibunya mengajari Edward musik klasik dan sastra, sesuatu yang ia sukai, sementara ayahnya, yang seorang sosialis, anarkis, dan ateis, memengaruhi pemikiran Edward.[1]
Ketika bertugas di Angkatan Bersenjata Amerika Serikat,[4] Abbey melamar pekerjaan sebagai juru ketik, tetapi kemudian ditugaskan sebagai petugas polisi militer di Italia. Abbey dipromosikan dalam ketentaraan sebanyak dua kali, tetapi karena perangainya yang menentang otoritas, ia kemudian diturunkan pangkatnya dan diberhentikan secara hormat pada tahun 1947[5] dengan pangkat sersan. Pengalamannya di kemiliteran telah membentuk filosofinya yang tidak memercayai institusi besar dan aturan dan secara tidak langsung memengaruhi keyakinan anarkismenya dan karier kepenulisannya.[6]
Setelah keluar dari dinas militernya, ia berkuliah di Universitas New Mexico dan meraih gelar sarjana humaniora (B.A.) di program studi bahasa Inggris dan filosofi pada tahun 1951. Pada tahun 1956, ia meraih gelar magister filosofi pada tahun 1956.[5][7][8] Selama berkuliah, Abbey juga bekerja sampingan sebagai jurnalis surat kabar dan pramutama bar. Dalam pekerjaannya sebagai jurnalis untuk koran mahasiswa, ia mempublikasikan artikel yang berjudul "Some Implications of Anarchy". Kutipan dari artikel, yang sering kali dianggap sebagai kutipan Louisa May Alcott, menyatakan bahwa "manusia tidak akan pernah bebas sampai raja terakhir dicekik dengan isi perut pendeta terakhirnya". Pihak universitas kemudian menyita salinan terbitan yang berisi artikel tersebut dan mengeluarkan Abbey dari redaksi surat kabar mahasiswa.[9]
Abbey juga pernah berurusan dengan FBI terkait dengan pengiriman kembali surat pemberhentian secara terhormat kembali ke dinas militer dengan frasa "Return to Sender". Ini bukan hal yang pertama kalinya, mengingat pada tahun ia diberhentikan, ia menulis artikel mendesak orang-orang untuk membuang kartu wajib militer mereka.[10] Sepanjang hidupnya sejak saat itu, ia diawasi oleh FBI, terutama ketika ia menulis artikel mengenai penentangan wajib militer pada masa damai pada tahun 1952. Menjelang akhir hayatnya, Abbey mengetahui FBI selalu mengawasinya dan berkata "Saya akan tersinggung jika mereka tidak mengawasi saya".[6]
Setelah lulus kuliah sarjana, menikahi temannya Jean Schmechal, istri pertamanya sekaligus temannya selama berkuliah. Mereka berdua kemudian bepergian bersama ke Edinburgh, Skotlandia, di mana Abbey berkuliah di Universitas Edinburgh sebagai penerima Beasiswa Fullbright.[6][7] Selama di sana, Abbey dan Schmechal berpisah dan bercerai,[11] ketika ia mulai berselingkuh dengan Rita Deanin pada tahun 1951,[12] yang kemudian menjadi istri keduanya setahun kemudian. Deanin dan Abbey memiliki dua anak, Joshua N. Abbey dan Aaron Paul Abbey.[13]
Tesis magister Abbey membahas mengenai anarkisme dan moralitas kekerasan. Dalam tesis tersebut, Abbey membahas mengenai hubungan antara anarkisme dan kekerasan serta pembenaran penggunaan kekerasan dalam prinsip anarkisme.[14] Setelah mendapatkan gelar magister, Abbey kemudian melanjutkan studi di Universitas Stanford sebagai penerima Beasiswa Penulisan Kreatif Wallace Stegner.[7]
Karier
Dari tahun 1956 hingga 1957, Abbey memutuskan untuk bekerja paruh waktu sebagai jagawanaJawatan Taman Nasional di Monumen Nasional Arches (sekarang sudah menjadi taman nasional) dekat kota Moab, Utah. Abbey melakukan pekerjaan tersebut dari bulan April hingga September setiap tahunnya. Selama bekerja, ia umumnya melakukan pekerjaan biasa seperti memelihara jalan setapak, menyambut pengunjung, dan mengumpulkan biaya perkemahan. Ia juga tinggal di dalam trailer yang disediakan jawatan tersebut dan di dalam ramada yang ia bangun sendiri. Selama ia berada di monumen nasional tersebut, Abbey menulis berbagai catatan dan sketsa yang kemudian akan menjadi dasar dalam buku nonfiksinya, Desert Solitaire.[15]
Ia juga telah mengerjakan beberapa novel yang ia tulis seperti Jonathan Troy (1954) dan The Brave Cowboy (1956). Novel keduanya ini mendapatkan adaptasi film pada tahun 1961, dengan skenario ditulis oleh Dalton Trumbo dan disutradarai oleh Kirk Douglas di New Mexico. Film tersebut dirilis pada tahun 1962 dengan judul Lonely Are the Brave. Menurut Douglas, ketika Abbey mengunjungi lokasi syuting film tersebut, ia tampak dan berbicara mirip dengan temannya, Gary Cooper, sehingga membuat dirinya bingung. Namun, ketika Abbey meninggal 25 tahun kemudian, Douglas menulis bahwa ia "belum pernah menemuinya".[16]
Pada tahun 1965, ia dan Deanin bercerai.[17] Pada tanggal 16 Oktober pada tahun yang sama, Abbey menikah dengan Judy Pepper, yang menemaninya sebagai jagawana paruh waktu di EvergladesFlorida dan pengawas kebakaran di Taman Nasional Gunung Berapi Lassen.[18] Ketika Judy dan Abbey berpisah untuk sementara (Judy sedang berkuliah magister di Universitas Arizona), Abbey kemudian menjalani hubungan dengan beberapa wanita lain, menyebabkan pernikahan mereka mulai berantakan.[19] Pada tanggal 8 Agustus 1968, Judy melahirkan anak ketiga Abbey, Sussanah "Susie" Mildred Abbey. Edward Abbey kemudian membeli rumah keluarga di pinggiran kota Tucson.[20] Judy sendiri meninggal akibat leukemia dua tahun setelahnya. Kematiannya membuat Abbey mengalami "depresi dan rasa kesepian" selama bertahun-tahun. Novel keempatnya, Black Sun, didedikasikan untuk Judy. Meski demikian, isi novel tersebut mengenai wanita lain selingkuhannya pada tahun 1963. Novel itu sendiri mulai ditulis pada tahun 1968, dan novel tersebut menjadi "sumber perselisihan dalam pernikahan mereka".[21][22]
Buku nonfiksi pertamanya, Desert Solitaire, dirilis pada tahun 1968. Di dalam buku tersebut, Abbey menceritakan pengalamannya sebagai jagawana di Utah bagian tenggara pada tahun 1956 hingga 1957. Desert Solitaire dipuji sebagai sastra Amerika terbaik dalam hal menjelaskan narasi alam, dan telah dibandingkan dengan Walden karya Henry David Thoreau. Dalam buku tersebut, Abbey menjelaskan dengan jelas mengenai bentang alam Utah selatan dan bagaimana ia menikmati keterasingannya sebagai jagawana kawasan terpencil dengan menjelaskan petualangan dirinya ketika menjelajahi gunung dan ngarai wilayah tersebut. Buku tersebut juga berisi kritik Abbey terhadap "industri pariwisata" yang mengakibatkan pembangunan di taman nasional (yang ia sebut sebagai "lahan parkir nasional"). Ia juga mengencam pembangunan Bendungan Glen Canyon dan mengomentari berbagai topik lainnya terkait dengan lingkungan.[butuh rujukan]
Pada tahun 1973, Abbey menikah dengan Renee Downing. Namun, karena Abbey sering tidak berada di dalam rumah, mengakibatkan mereka bercerai empat tahun kemudian.[23]
Kehidupan setelahnya
Abbey kemudian menikahi istri kelima dan terakhirnya, Clarke Cartwright pada tahun 1982.[24] Dari pernikahan tersebut, mereka mendapatkan dua anak, Rebecca Claire Abbey dan Benjamin C. Abbey.[25]
Pada tahun 1984, Abbey kembali ke Universitas Arizona untuk mengajar mata kuliah menulis kreatif dan manajemen kesanggrahan. Selama mengajar, ia mengerjakan buku novel ketujuhnya, Fool's Progress.[26]
Pada bulan Juli 1987, Abbey mengunjungi Earth First! Rendevouz di tepian utara Grand Canyon. Ketika ia berada di sana, ia terlibat perdebatan sengit mengenai pandangannya tentang imigrasi dengan grup anarko-komunis bernama Alien Nation.[27] Perdebatan itu dan kegiatan lainnya selama Rendezvous membuat ia mendedikasikan sebuah bab dalam novel terbarunya Hayduke Lives.[28] Pada musim gugur 1987, majalah Utne Reader memuat tulisan dari Murray Bookchin yang menuduh bahwa Abbey, Garrett Hardin, dan anggota Earth First! lainnya rasis dan pelaku ekoteroris. Mengetahui hal itu, Abbey tersinggung dan menuntut permintaan maaf terbuka. Ia menyatakan bahwa ia bukanlah seorang rasis maupun pendukung terorisme. Menurutnya, tuduhan rasisme Bookchin dikarenakan ia dan dua pihak lain yang disebutkan menentang imigrasi ilegal ke Amerika Serikat, dengan alasan bahwa pertumbuhan penduduk di negara tersebut akan menyebabkan kerusakan lebih lanjut terhadap lingkungan. Adapun mengenai tuduhan ekoterorisme, Abbey menyatakan bahwa taktik yang ia dukung adalah upaya pertahanan diri untuk melawan terorisme, yang menurutnya dilakukan oleh pemerintah dan industri terhadap makhluk hidup dan lingkungan.[29]
Kematian
Edward Abbey meninggal pada tanggal 14 Maret 1989[30] di usianya yang ke-62 tahun di Tucson, Arizona.[31][32] Kematiannya disebabkan oleh pendarahan pada varises esofagus, yang kemungkinan disebabkan oleh sirosis hati alkoholik.[33]
↑For a detailed discussion of Abbey's college years, see Bishop, James (1995). "The Anarchist Emerges". Epitaph for a desert anarchist: the life and legacy of Edward Abbey. Simon & Schuster. ISBN978-0-684-80439-2.
↑Scheese, Donald. "Abbey, Edward". Encyclopedia of American Environmental History. Ed. Kathleen A. Brosnan. Vol. 1. New York: Facts on File, 2011. 75-76. Gale Virtual Reference Library. Web. 3 June 2013.
Prentiss, Sean. (2015). Finding Abbey: The Search for Edward Abbey And His Hidden Desert Grave. University of New Mexico Press. ISBN 978-0-8263-5591-1 .