Simpang Temu Dukuh Atas (dahulu dikenal sebagai kawasan berorientasi transit Dukuh Atas atau KBT Dukuh Atas) adalah sebuah kawasan pembangunan berorientasi transit yang terletak dibelah Kanal Banjir Barat, di Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan. KBT ini merupakan salah satu dari beberapa KBT yang dibangun di seantero Jakarta untuk memfasilitasi perpindahan orang pada sejumlah moda transportasi umum yang berbeda.
Kawasan ini telah disebut sebagai titik transit utama di Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan.[4]
Sejarah
Bagian ini memerlukan pengembangan. Anda dapat membantu dengan mengembangkannya.
Nama Dukuh Atas diperkirakan berasal dari perkebunan buah duku yang pernah tumbuh di sekitar wilayah tersebut. Wilayah ini juga menjadi tempat perdagangan buah duku pada masanya.[5][6] Perkampungan bernama Dukuh ini kemudian terpisah menurut lokasi, yakni Dukuh Atas yang terletak lebih tinggi dan kawasan lainnya bernama Dukuh Bawah. Dukuh Bawah sendiri kini termasuk ke dalam wilayah Kelurahan Setiabudi, Kecamatan Setiabudi, Jakarta Selatan.[7]
Dukuh Atas sejak lama menjadi kawasan kehidupan malam Jakarta yang melayani kebutuhan kawasan menengah ke atas sejak tahun 1960-an. Sejumlah bar dan kelab malam berjajar di kawasan ini. Selain itu, terdapat pula kawasan pedagang kaki lima yang biasa menjadi tempat makan siang pekerja dari kantor-kantor yang berlokasi di dekatnya.[7]
Pengembangan
Ada taman di bidang miring yang berada di barat Jalan Jenderal Sudirman hingga ke Jalan Tanjung Karang, yang mana di bawahnya terdapat Stasiun Dukuh Atas BNI dari MRT Jakarta. Dari Stasiun MRT Dukuh Atas, sebuah jalur pejalan kaki sepanjang 700 meter dibangun untuk menghubungkan Jalan Kendal dengan Jalan Blora.[8][9] Sebuah gedung transit setinggi 20 lantai, yang diberi nama Transport Hub Dukuh Atas, kini juga telah dibangun yang akan menjadi tempat bagi kantor pusat MRT Jakarta dan sejumlah fasilitas lain.[10] Sebagian besar jalan Blora dan Kendal yang melewati depan Stasiun Sudirman telah ditutup permanen dari lalu lintas kendaraan bermotor dan diubah menjadi koridor pejalan kaki yang lebar. Arus lalu lintas dari Jalan Sudirman ke Jalan Latuharhary dialihkan ke Jalan Juana dan Pati, yang menjadi letak dari gedung plaza transit.[11] Dua rute pengumpan Transjakarta telah dimodifikasi untuk melayani gedung Transport Hub Dukuh Atas.[12]
Di sisi selatan KBT, terdapat Taman Spot Budaya Dukuh Atas yang telah dipugar dan diresmikan pada tahun 2019. Taman ini juga berfungsi sebagai penghubung jalur pejalan kaki di sisi timur Jalan Jenderal Sudirman dan Halte Transjakarta Galunggung.[13][14] Sebuah jembatan penyeberangan orang (JPO) telah dibangun untuk menghubungkan Stasiun LRT Dukuh Atas dengan Stasiun Sudirman, sehingga dapat memudahkan masyarakat untuk berpindah moda dari kedua sisi KBT.[15][16][17] Jembatan bernama "Serambi Temu Dukuh Atas" ini dibuka bersamaan dengan pengoperasian perdana LRT Jabodebek pada tanggal 28 Agustus 2023. Jembatan penyeberangan tersebut memiliki panjang 250 meter dan dibagi menjadi tiga zona, serta dilengkapi dengan area komersial. Selain itu, jembatan ini juga dapat dilalui sepeda.[18] Jembatan penyeberangan multiguna "Serambi Temu Dukuh Atas", diresmikan oleh Menteri PerhubunganBudi Karya Sumadi dan Pj. Gubernur DKI JakartaHeru Budi Hartono pada tanggal 14 September 2023.[19]
Selain JPM Serambi Temu Dukuh Atas, sebuah jembatan melingkar akan dibangun untuk mempermudah arus penumpang yang ingin transit antara Stasiun KRL Sudirman dan BNI City, Stasiun MRT, halte Transjakarta Dukuh Atas, dan rencana Stasiun LRT Jakarta Dukuh Atas. Jembatan tersebut didesain dengan bentuk seperti "cincin donat" yang terdiri dari beberapa lantai, dan akan dibangun di atas Jalan Sudirman dan Kanal Banjir Barat. Pembangunan jembatan tersebut diharapkan selesai pada tahun 2027.[20]
Transportasi
Beberapa unit bus MetroTrans sedang berhenti di pemberhentian Simpang Temu Dukuh Atas.
Sejak pertengahan 2022, kawasan Dukuh Atas, khususnya taman bidang miring di atas Stasiun MRT Dukuh Atas menjadi tempat berkumpulnya remaja untuk berinteraksi sekaligus memamerkan gaya busana mereka yang belakangan diberi istilah Citayam Fashion Week.[21][22]