Drosera glanduligera adalah spesies tanaman karnivora yang termasuk dalam famili Droseraceae. Tumbuhan ini endemik di bagian selatan Australia dan hanya ditemukan secara alami di wilayah tersebut. Ia merupakan tanaman tahunan musiman yang tumbuh selama musim dingin, dengan periode berbunga yang berlangsung dari Agustus hingga November.[3][4][5][6]
Drosera glanduligera merupakan herba berukuran kecil dengan 15 hingga 20 daun berbentuk spatula cekung, masing-masing sepanjang 8–20 mm (0,31–0,79 in), tersusun dalam roset yang cembung hingga hampir rata. Saat memasuki fase berbunga, tanaman ini menghasilkan tangkai tegak setinggi sekitar 10 mm (0,39 in), ditutupi rambut kelenjar, dan menampilkan beberapa bunga berwarna oranye. Spesies ini tidak membentuk umbi dan memiliki sistem akar serabut.[5][6]
Setiap helai daun dipenuhi tentakel kelenjar yang peka terhadap sentuhan: tentakel lengket berada di bagian tengah daun, sedangkan tentakel “penjepret” yang tidak lengket tersusun di tepinya. Cara menangkap mangsanya sangat khas karena menggabungkan prinsip perangkap lem dan perangkap jepret. Ketika terpicu, tentakel penjepret di bagian luar melontarkan mangsa menuju tentakel lengket di pusat daun. Dari sana, mangsa secara perlahan ditarik ke cekungan daun selama sekitar dua menit sebelum proses pencernaan dimulai. Pergerakan tentakel hanya terjadi sekali. Setelah menekuk dan patah, mekanisme tersebut tidak dapat digunakan kembali.[8]
Kultivasi
Drosera glanduligera tergolong menantang untuk dibudidayakan. Benihnya memerlukan kondisi suhu malam yang rendah, sekitar 1–8 °C, dan suhu siang yang lebih hangat, yakni 15–25 °C, agar dapat berkecambah dengan baik. Proses skarifikasi dapat meningkatkan keberhasilan perkecambahan. Selama pertumbuhan, tanaman perlu dirawat secara optimal untuk menghasilkan individu yang sehat dan mampu berbunga, baik dengan menyediakan mangsa alami maupun melalui pemberian pupuk daun yang sangat encer.[7]