DonPaulus Centis Ximenes da Silva (26 Juni 1902–16 Agustus 1972) adalah raja Sikka terakhir di Nusa Tenggara Timur, dan bupati pertamanya antara 1958 dan 1960 setelah Sikka diubah menjadi Kabupaten Sikka.
Kehidupan awal
Da Silva lahir pada 26 Juni 1902, di tengah wabah kolera di Kerajaan Sikka. Ayahnya adalah Mbako Ximenez da Silva, penguasa Sikka ketiga belas dari keluarga da Silva. Setelah menyelesaikan sekolah dasar di desa Sikka (selatan Maumere), ia belajar di sekolah kolonial sampai 1918. Pada tahun tersebut, ia pindah ke Manado untuk meneruskan pendidikan di sekolah tinggi. Ia menjadi guru di Sikka setelah kembali dari Manado pada 1922.[1]
Setelah lima tahun menjadi guru, da Silva datang ke Batavia untuk belajar pengobatan malaria, dan bekerja sebagai praktisioner kesehatan di Sikka selama tujuh tahun. Ia diangkat menjadi kepala distrik Lekeba'i (bagian dari Sikka) pada 1935 atau 1936 di bawah raja Sikka saat itu Don Thomas Ximenes da Silva (kakaknya).[1]
Raja dan bupati
Pada 1948, Don Thomas diangkat menjadi kepala regional seluruh pulau Flores, dan ini mengharuskannya untuk pindah ke Ende. Sehingga, da Silva memutuskan untuk menjalankan pemerintahan lokal di Sikka.[2] Don Thomas meninggal di Ende pada 18 Mei 1954.[3] Suksesi Thomas dipertanyakan, karena ia memiliki putra: Don Josephus Daniel da Silva, namun Ximenes da Silva akhirnya menggantikan saudaranya menjadi raja. Antropolog Daniel Lewis berteori bahwa ini karena Ximenes berusia lebih tua, dan sehingga otoritas Indonesia mengharapkannya untuk menjalankan peralihan dari monarki ke kabupaten biasa selama jangka panjang. Daniel da Silva kemudian mempersengketakan suksesi tersebut sampai kematiannya pada 1993.[3]
Pada saat ia menjadi raja Sikka, da Silva memnuat upaya untuk menghentikan banjir tahunan Maumere. Pada 1958, pemerintah Indonesia merombak wilayah tersebut dari jaringan otonomi menjadi divisi administratif biasa, dengan Sikka dijadikan sebagai kabupaten di bawah pemerintahan provinsi di Kupang. Da Silva diangkat menjadi pelaksana jabatan bupati Sikka, sampai ia digantikan oleh Paulus Samador da Cunha pada 1 Maret 1960.[1][4]
Kehidupan berikutnya
Ia meninggal pada 16 Agustus 1972 saat mengurusi perayaan peringatan kemerdekaan Indonesia ke-27, dan ia dimakamkan di Maumere.[1]