Dominee Izaak Samuel Kijne (1899–1970) adalah misionaris dan pendeta asal Belanda yang mendedikasikan hidupnya bagi pendidikan di Nederlands-Nieuw-Guinea. (Papua) Melalui sekolah guru yang ia dirikan di Aitumeri, Teluk Wondama, Kijne dikenal luas sebagai salah satu tokoh utama peletak dasar peradaban modern bagi masyarakat Papua. [1]
Latar Belakang dan Persiapan Misi
Dominee Izaak Samuel Kijne lahir di Vlaardingen, Belanda, pada 1 Mei 1899. Ia merupakan putra dari Hugorinus Kijne, seorang tukang kayu, dan Maria Fige’e, seorang guru keturunan Yahudi-Belanda. Keluarga Kijne dikenal sebagai anggota jemaat yang taat di Gereja Hervormd Belanda.
Setelah menyelesaikan pendidikan menengah pada tahun 1914, Kijne melanjutkan ke sekolah guru di Klokkenburg, Nijmegen, hingga lulus pada 1918. Meski memiliki peluang mengajar di kota kelahirannya, panggilan jiwa untuk melayani di pulau Papua mendorongnya mengambil pendidikan tambahan, yakni Akta Kepala Sekolah (Hoofdakte) pada 1918–1920 serta kursus bahasa Melayu dan etnologi pada 1921.
Sebagai lulusan terbaik, ia mendapat rekomendasi untuk memperdalam ilmu musik, seni suara, lukis, dan kebudayaan di Tübingen, Jerman. Sebelum akhirnya bertolak ke Papua pada tahun 1923, Kijne menjalani masa persiapan akhir di Pusat Zending Oegstgeest (1921–1922) bersama dua rekannya, Frederik Slump dan Johanes Eygendaal.[2]
Panggilan pelayanan di tanah Papua
Ketertarikan Kijne terhadap Papua bermula dari kisah-kisah heroik yang disampaikan teman sekolahnya, Willem Van Hasselt. Willem merupakan anak dan cucu dari perintis zending di Papua, Frans Johannes Frederik van Hasselt dan Johannes Ludwig van Hasselt, yang telah mengabdi selama 67 tahun di sana.
Kijne akhirnya berangkat dari Rotterdam bersama dua rekannya, Frederik Slump dan Johanes Eygendaal. Setelah menempuh pelayaran panjang dan sempat tertahan di Batavia serta Ternate untuk urusan administratif, Kijne melanjutkan perjalanan melalui rute Makassar dan Ternate. Setelah menempuh total perjalanan selama lima bulan, ia akhirnya tiba di Pulau Mansinam, Manokwari, pada 23 Juni 1923.[3]
Awal pelayanan di pulau Mansinam (1923–1925)
Pada juni 1923 Izaak Samuel Kijne memulai karirnya sebagai kepala sekolah, guru, dan pendeta di Mansinam Samuel Kijne melakukan pengamatan terhadap perilaku anak-anak didiknya disana baik watak dan karakter, budaya dan adat istiadat, kemampuan bermusik, bernyanyi, bekerja dan status social mereka.
Izaak Samuel Kijne juga telah menerima laporan bahwa pemuda Papua yang dikirim untuk menempuh pendidikan di pulau Ambon, Tobelo dan Sangihe kembali ke Tanah Papua dengan kapal yang di tumpangi mereka, karena terdapat perbedaan dalam metode pendekatan pengajaran yang belum sepenuhnya selaras dengan latar belakang pendidikan dasar yang mereka terima di kampung halaman.
Sebaliknya, di Mansinam, pemuda Papua juga menjalani proses pendidikan bersama-sama dengan pemuda dari Ambon, Tobelo dan Sangihe.
Bukit Aitumeri
Atas usul Zendeling Daniel Bartholomeus Starrenburg dan Daniel Cornelis Adriaan Bout, Kijne melakukan perjalanan ke Teluk Wondama pada awal Januari 1925. Setelah meninjau berbagai aspek, ia memutuskan untuk menutup sekolah di Mansinam dan memindahkan pusat pendidikan guru ke Bukit Aitumeri, Miei.[1]
Tempat ini dipilih karena panoramanya yang indah dan tanahnya yang subur untuk pertanian. Lokasinya yang jauh dari hiruk-pikuk kota namun dekat dengan perkampungan warga sangat ideal untuk sekolah berpola asrama. Di sinilah Kijne mendidik para siswa untuk bekerja keras dan hidup mandiri demi masa depan tanah dan bangsanya.[2]
Awal Peradaban Bangsa Papua dari Bukit Aitumeri
Berdasarkan kesimpulan tersebut, Izaak Samuel Kijne memutuskan untuk menutup sekolah di Mansinam dan mencari lokasi baru. Atas usulan Zendeling Daniel Bartholomeus Starrenburg dan Daniel Cornelis Adriaan Bout, ia melakukan perjalanan ke Teluk Wondama pada Januari 1925.
Izaak Samuel Kijne akhirnya memilih Bukit Aitumeri di Miei sebagai pusat pendidikan baru karena lokasinya yang menjanjikan. Selain memiliki pemandangan indah dan tanah yang subur untuk pertanian, tempat ini juga jauh dari hiruk pikuk keramaian sehingga sangat ideal untuk membangun sekolah berpola asrama. Lingkungan tersebut dianggap sangat cocok untuk mendidik siswa agar terbiasa bekerja keras dan hidup lebih mandiri.
Pada tanggal 25 Oktober 1925, Izaak Samuel Kijne tiba di Miei bersama 35 murid dari Mansinam. Pada sore hari keesokan harinya, ia berjalan menuju sebuah batu di Bukit Aitumeri. Dikisahkan, setelah bergumul dan berdoa di atas batu tersebut, Kijne berkata:
“Di atas Batu ini, saya meletakkan peradaban Bangsa Papua, sekalipun orang memiliki kepandaian tinggi, akal budi dan marifat tetapi tidak dapat memimpin Bangsa ini, Bangsa ini akan Bangkit dan Memimpin Dirinya Sendiri.”[4]
Isi Pesan dari Bapak Peradaban Bangsa Papua ini memiliki makna bahwa suatu saat nanti Bangsa Papua akan tampil sebagai Pemimpin di atas tanah leluhurnya sendiri, meskipun, ada banyak orang dengan berbagai latar belakang yang berdatangan dari berbagai daerah, dengan beragam kepentingan.
Mengingat kemungkinan loyalitas dari kepemimpinan orang yang memiliki kepentingan itu, kembali Tokoh Pendidikan Bangsa Papua itu pernah menitipkan catatan penting buat kehidupan di Tanah Papua. Catatannya tersebut tidak hanya untuk Anak Negeri Papua. Akan tetapi dialamatkan untuk semua orang. Entah itu Papua maupun Non-Papua yang hendak akan berkarya di atas Tanah Papua.
"Barang Siapa yang bekerja di Tanah ini dengan setia, jujur dan dengar-dengaran, maka ia akan berjalan dari tanda heran yang satu ke tanda heran yang lain.”[5]
Pesan religius tersebut menegaskan bahwa siapa pun yang berkarya di Tanah Papua baik pendatang maupun Bangsa Papua akan menuai hasil sesuai dengan baktinya. Berdasarkan prinsip hukum tabur tuai, mereka yang bekerja dengan setia, jujur, dan taat akan menyaksikan mukjizat ilahi yang di luar nalar manusia. Sebaliknya, mereka yang mengabaikan nilai-nilai tersebut justru akan mengalami "tanda-tanda heran" yang buruk.[6]
Dalam sejarahnya, pendidikan di Aitumeri terus berkembang dari sekolah sambungan hingga menjadi Sekolah Guru Jemaat (Sekolah Normal) pada tahun 1931 yang resmi diakui pemerintah. Di tengah masa pelayanan tersebut, tepatnya pada tahun 1932, Kijne kembali ke Belanda untuk meminang Johanna Regina Uitenbogaard (Mama Jopie). P
asangan ini kemudian melayani bersama di Bukit Aitumeri sejak 1933 hingga 1941. Selama periode 1925–1941, Kijne berhasil meluluskan 780 siswa Papua yang kemudian tersebar menjadi guru dan pelayan jemaat di seluruh pelosok Tanah Papua.
Tawanan perang dunia II & Tekad Membangun Kembali Tanah Papua
Pada Agustus 1941 – Maret 1942, Izaak Samuel Kijne dan Mama Jopie mengambil cuti pendek dan berlibur ke Malang, Jawa Timur. Setelah pecah Perang Dunia II dan pendudukan Jepang pada tahun 1942, mereka ditangkap di Malang (April–Mei 1942) dan diasingkan secara terpisah di Balige, Sumatera Utara, selama tiga tahun (1942–1945). Selama masa penahanan terpisah, Mama Jopie melahirkan anak kedua mereka, Maria Caroline Kijne, di dalam tahanan. pada saat Kijne harus dipisahkan dan Anak - anak oleh tentara Jepang yang begitu jahat.
Setelah Perang Dunia II, Kijne mengirim pulang keluarganya ke Belanda, ia melakukan perjalanan orientasi ke Papua (Bulan Mei – Desember 1946) untuk melihat dari dekat bangunan- bangunan sekolah, gereja dan rumah-rumah penduduk yang rusak akibat perang Nippon (Jepang) dan Sekutu. Sarana transportasi, pelabuhan dan beberapa kapal laut telah hancur dalam perang tersebut, hal ini membuat membuat kesedihan Kijne yang mendalam bahwa segala sesuatu yang telah di bangun di Tanah Papua sejak awal hancur.
Kerugian yang dialami bukan sekadar materi atau harta benda, melainkan juga nyawa yang tak ternilai harganya. Tercatat sebanyak tujuh orang zendeling beserta istri dan lima anak mereka meninggal dunia. Sementara itu, berdasarkan catatan Zendeling Johanes Eygendaal, sekitar 25 guru asal Ambon turut menjadi korban pembantaian. Kehancuran kian lengkap dengan pengeboman kapal-kapal milik zending di wilayah Manokwari, Biak Numfor, dan Teluk Wondama.
Di tengah situasi yang serba sulit dan penuh duka tersebut, Kijne harus mengambil keputusan besar untuk membangun kembali kepercayaan yang sempat runtuh. Bersama para zendeling lainnya serta para guru dari Papua, Sangihe, Ambon, dan Manado, mereka menyatukan tekad untuk bangkit dan membangun kembali peradaban dari sisa-sisa kehancuran perang tersebut.[7]
Panggilan Melayani dan Penghormatan dari Ratu Belanda
Setelah Perang Dunia II berakhir, Ratu Juliana dari Belanda memanggil Kijne untuk menemuinya di Istana. Kijne sempat melayani sebagai pendeta di Medan (Oktober 1945 – Mei 1946) sebelum kembali ke Papua untuk membangun kembali sekolah dan gereja yang rusak akibat perang.[8]
Ia menolak tawaran menggiurkan untuk bekerja di Malang dan Medan dengan gaji tiga kali lipat. Pada Januari 1947, Kijne kembali ke Belanda dan bertemu Ratu Juliana, yang menganugerahinya penghargaan sebagai "Bapak Orang Nieuw Guinea Orange."
Sekembalinya ke Papua, Izaak Samuel Kijne mendirikan Institute Joka (1949–1951) untuk mendidik anak-anak Papua agar siap berkarir di bidang Pamong Praja, kepolisian, pertukangan, medis, hingga keguruan. Selama periode 1949–1953, ia merangkap jabatan sebagai Direktur Institute Joka sekaligus Ketua Zending keempat.[9]
Setelah menyerahkan tongkat estafet kepemimpinan kepada Freerk Christiaansz Kamma, pada akhirnya Kijne pindah ke Serui pada tahun 1953 untuk mendirikan Sekolah Theologi Reis-en-Ambt-Zendeling. Langkah ini bertujuan mencetak pendeta dan guru jemaat guna mempersiapkan kemandirian gereja. Puncaknya, melalui kerja keras Izaak Samuel Kijne dan rekan-rekan zendeling lainnya, Gereja Kristen Injili (GKI) di Irian Barat resmi berdiri secara mandiri pada 26 Oktober 1956.
Seruling Emas Mengiringi Kepergian Izaak Samuel Kijne
Sebelum pulang ke Belanda setelah bertugas di Serui 1958, Izaak Samuel Kijne mengunjungi seluruh murid-murid dan rekan kerjanya baik di Jayapura, Teluk Wondama dan Kepala Burung Tanah Papua (bahasa Belanda: Vogelkop), dan berangkat dari Biak dengan pesawat KLM (Koninklijke Luchtvaart Maatschappij). Disalaminya mereka satu per satu disertai pesan-pesan serta melaksanakan perjamuan dengan mereka.[10]
Di Wondama murid-muridnya berbaris rapi di sepanjang jalan menuju pelabuhan sambil mengucapkan kalimat perpisahan dalam Bahasa Wandamen:
"masa pandita, tabea au so, sjen Jesus be berkat au."
Samuel Kijne berjalan sambil melambaikan tangan kepada semua orang yang menghantarnya diiringi music suling tambur.[11] Sesekali jalannya harus terhenti karena murid-muridnya menyanyikan lagu Seruling Emas 33 “ Kami Dengar Bapa Mau Berangkat dan Mulialah bentangan langit bersandar pada “ Wondiboy”.
Kakinya terasa berat untuk melangkah menaiki kapal yang akan membawanya pergi, bibir tersenyum namun hatinya sedih karena harus meninggalkan mereka untuk selama-lamanya. Kapal Zen yang membawanya berputar mengelilingi Wasior Ke Miei sebanyak tiga kali kemudian membelah samudera menghilang meninggalkan Teluk Wondama.[12]
Pepera dan akhir hayat Izaak Samuel Kijne
Pulang ke negerinya tidak berarti Izaak Samuel Kijne memutus hubungan dengan Tanah dan Bangsa Papua. Izaak Samuel Kijne tetap bekerja di pusat Zending dan menjadi dosen yang mengajarkan mata kuliah Etno Sosiology dan Antropology Budaya Gereja-Gereja di Indonesia hingga 1959 dan menjadi penulis dan kepala perpustakaan sejak tahun 1964-1969.
Karena kecintaan Kijne memiliki harapan sangat besar untuk Bangsa Papua dapat memimpin dirinya sendiri, setiap perkembangan pekerjaan Zending maupun politik di Tanah Papua diikutinya dengan baik. Ketika mendengar hasil Penentuan Pendapat Rakyat dimana Rakyat Papua memilih bergabung dengan Indonesia, Kijne merasa terpukul dan sangat kecewa sekali, kesehatannya mulai menurun drastis.[4]
Setelah pelaksanaan Pepera tahun 1969, Izaak Samuel Kijne berkata kepada istrinya Mama Jopie di Vlaardingen (February 1970) bahwa orang Papua memilih bergabung dengan Indonesia dibawah intimidasi dan manipulasi politik sebab Utusan PPB Ortizan pun dibawah tekanan militer Indonesia, hal ini membuat Izaak Samuel Kijne prihatin dan menyesal hal yang sangat buruk akan menimpa Bangsa dan Tanah Papua.
“ Hal yang buruk dalam sejarah peradaban Bangsa Papua dan dikemudian hari membuat Tanah dan Bangsa Papua akan menyesal seumur hidupnya di Tanah yang diberkati namun tidak dihargai oleh Bangsa Papua sendiri."
Ketika dinyatakan oleh Holvast wartawan Harian Leiden kenapa anda pulang Ke Belanda padahal tenaga dan pikiran mu masih dibutuhkan disana? Samuel Kijne mengatakan, sebenarnya saya tidak mau pulang karena pasti disana saya akan diberikan tempat oleh Bangsa Papua untuk seluruh keluarga dan anak cucu namun saya harus pulang ke negeri Belanda dengan terpaksa karena situasi politik yang tidak baik antara Belanda, Indonesia dan Penguasa Dunia (Amerika dan sekutunya, Rusia & China).
"Saya pulang dengan keyakinan bahwa Tanah dan Bangsa Papua akan dikuasai oleh mereka yang mempunyai kepentingan politik atas segala kekayaan dari hasil tanah itu tetapi mereka tidak akan membangun bangsa Papua dengan kasih sayang, sebab kebenaran dan keadilan akan diputar balikkan serta banyak hal baru yang akan membuat Bangsa Papua menyesal, tetapi itu bukan maksud Tuhan, karena itu keinginan manusia Sebab, pasti suatu saat Bangsa Papua akan melihat maksud Tuhan untuk Tanah dan Alamnya yang masih penuh misteri, rahasia dan kepastian untuk sebuah masa depan yang pasti."[8]
Akhir hayat Bapak peradaban Bangsa Papua
Tepat pada Sabtu, 14 Maret 1970, sebuah telegram duka tiba di Kantor Sinode Gereja Kristen Injili di Tanah Papua. Sang Bapak Peradaban Bangsa Papua, Izaak Samuel Kijne, telah mengembuskan napas terakhirnya pada 11 Maret 1970 akibat serangan jantung di Oegstgeest, Belanda. Ia pergi dengan membawa cinta yang tak pernah padam untuk tanah Papua yang ia berkati di atas batu Aitumeri.[13]