Dol sebagai bagian dari kebudayaan masyarakat keturunan Asia Selatan di Bengkulu – para lelaki Bengkulu juga mengenakan topi khas asal Dhaka[4] sebagai identitas asal-muasal nenek moyang Asia Selatan mereka.
Migrasi orang-orang Asia Selatan ke Indonesia, utamanya yang berasal dari India ke pulau Sumatra, menjadi titik mula Dol dikenal oleh masyarakat di berbagai daerah di Sumatra, khususnya di Bengkulu.[2] Masyarakat Bengkulu berketurunan India dan Nepal menjadikan Dol sebagai sarana penghubung untuk mengingat akan akar asal-usul mereka yang datang dari daratan subbenua India di Asia Selatan.[2] Berbagai pagelaran kebudayaan khas Bengkulu kerap kali menampilkan pertunjukkan Dol sebagai salah satu cerminan khazanah kemajemukan masyarakat Bengkulu yang menjaga tradisi musik nenek moyang Asia Selatan mereka.[2] Musik ini ditampilkan dalam upacara adat Tabot di Bengkulu pada tanggal 1 sampai dengan 10 Muharram.[5]
Perangkat musik dol di Bengkulu terdiri atas dua set tasa, sebuah keneng (cimbal), sebuah suling, dan 10 dol yang terbagi atas 2 kelompok pemain. Tasa, sejenis tamborin, dimainkan oleh dua orang secara unison dengan 2 alat penabuh serupa tabuh bedug.
Cara pembuatan
Dol terbuat dari bonggol kelapa, kulit sapi atau kulit kambing dengan dibentuk menyerupai bola setengah oval lalu dilubangi pada bagian tengah bonggolnya.
Selanjutnya bonggol kelapa yang sudah dilubangi dijemur kurang lebih sekitar satu bulan hingga kering. Setelah bonggol kelapa kering, dilanjutkan pengamplasan untuk di plitur. Kemudian bonggol diberi pewarnaan dengan menggunakan cat kayu dan dibiarkan hingga kering. Terakhir proses pemasangan kulit sapi yang telah kering, sama dengan bahan kulit bedug, dipasang ke bonggol kelapa dengan menggunakan paku khusus. Terakhir bonggol dipasangi rotan yang sebelumnya sudah dibentuk, dipasang antara kulit pinggir dol sampai ke bagian bawah dudukan Dol.[6]
Teknik
Ada tiga pola ritme dol termasuk Suwari, Sewena, dan Tamatam.[5] Teknik Suwena biasanya dol dimainkan dengan tempo lambat saat suasana duka cita. Teknik Tamatam biasanya dimainkan dengan suasana riang dengan tempo cepat dan konstan. Teknik Suwari dimainkan dengan tempo pukulan satu-satu dan biasanya dimainkan saat perjalanan panjang[7]