Do Da Idi atau dodaidi adalah tradisi lisan berupa lagu pengantar tidur asal dari provinsi Aceh yang sarat dengan berbagai unsur Islami.[1]
Do da idi disusun dalam empat baris dengan sajak a-a-a-a atau a-b-a-b.[2] Lagu ini biasa dilantunkan oleh seorang ibu dalam menidurkan anaknya. Dalam praktiknya, seorang ibu akan meletakkan anaknya di ija kroeng (kain sarung) atau ija sawak (kain selendang) yang digantung pada batang kayu kemudian diayun secara pelan-pelan. Adakalanya, kain ini juga digantung di pohon depan rumah agar anak dapat tidur lebih nyaman.[1] Perkembangan teknologi yang pesat membuat tradisi ini kini sudah jarang dipraktikkan.[3]
Doda idi berasal dari dua kata dalam bahasa Aceh, yakni doda dan idi. Doda atau peudoda memiliki arti 'bergoyang', semenatara idi berarti 'berayun'.[2]
Istilah ini juga diambil dari bunyi syairnya yakni "Allah hai do kudoda idi" yang acapkali dilantunkan pada hampir setiap bait. Oleh karena itu, tradisi lisan ini dikenal dengan nama do da idi.[1]
Sejarah
Do da idi tercipta karena terinspirasi dari puisi perang berjudul "Hikayat Prang Sabi" karya adik TeungkuChik di Tiro yang ditulis pada pertengahan abad ke-19. Tradisi ini dipraktikkan oleh ibu-ibu di Aceh pada masa perang Aceh pada akhir abad ke-19. Tak hanya untuk menidurkan anak, syair ini juga dilantukan oleh para ibu untuk menyampaikan pesan kepada anaknya agar berani melawan Belanda yang saat itu menjajah Indonesia.[5]
Tradisi ini kemudian terkenal setelah dipopulerkan oleh Cut Saja Rizka dalam album Nyawoung pertama.[3]
Isi
Syair dalam do da idi biasanya memuat tentang nasihat, akhlak, budi pekerti, dan semangat perjuangan masyarakat Aceh dalam menghadapi penjajah.[3] Adakalanya syair ini juga berisikan tentang sejarah dan akhlak-akhlak para nabi.[2]
Contoh
Berikut adalah syair pengantar tidur dalam do da idi yang berisikan tentang pesan perlawanan:[5]