Divisi Infanteri ke-18 adalah divisi infanteri dari Heer di bawah Wehrmacht. Pada bulan November 1940, divisi ini ditingkatkan menjadi unit bermotor dan sejak saat itu dikenal sebagai Divisi Infanteri Bermotor ke-18 (18. Infanterie-Division (mot.)). Pada tahun 1943, divisi ini berganti nama lagi menjadi Divisi Panzergrenadier ke-18.
Sejarah
Divisi ini berpartisipasi dalam Invasi Polandia, Pertempuran Prancis, serta Front Timur. Selama serangan besar-besaran Soviet dalam Operasi Bagration pada tahun 1944, divisi ini hancur di timur Minsk dan dibentuk kembali pada tahun yang sama. Pada awal tahun 1945, divisi ini kembali hancur dalam Serangan Prusia Timur. Di dekat Eberswalde, Divisi Infanteri ke-18 dibentuk untuk ketiga kalinya, lalu dikerahkan pertama kali di sepanjang Sungai Oder sebelum akhirnya diterjunkan untuk Pertempuran Berlin.
Pembentukan
Setelah kekalahan Kekaisaran Jerman dalam Perang Dunia I, angkatan bersenjata Jerman tunduk pada pembatasan ketat yang ditetapkan oleh Perjanjian Versailles. Angkatan bersenjata kekaisaran dibubarkan dan Reichswehr dibentuk sebagai gantinya. Struktur organisasi Angkatan Darat (Reichsheer) saat itu terbagi menjadi dua komando kelompok (Berlin dan Kassel), tiga divisi Kaveleri, serta tujuh divisi infanteri.
Pasca-wafatnya Paul von Hindenburg dan pengucapan sumpah setia angkatan bersenjata kepada Adolf Hitler, Rencana-A milik Reichswehr yang telah dirancang sejak tahun 1932 mulai diimplementasikan, sehingga jumlah divisi melonjak menjadi 21 divisi. Dalam pengembangan ini, para perwira lama tetap dipertahankan untuk memimpin divisi-divisi tersebut. Untuk menjaga kerahasiaan (tujuan kamuflase), komando wilayah militer menggunakan penamaan rahasia yang disesuaikan dengan distrik militer (Wehrkreis) masing-masing. Sebagai contoh, komandan divisi dari Divisi ke-3 di Komando Distrik Militer III (Berlin) menggunakan gelar samaran Infanterieführer III (Pemimpin Infanteri III). Penamaan resmi secara terbuka baru mulai digunakan pada 15 Oktober 1934.[1]
Pada 1 Oktober 1934, GeneralmajorHermann Hoth selaku Infanterieführer III di Liegnitz/Schlesien, memimpin langsung proses pembentukan Divisi Infanteri ke-18, yang elemen pasukan serta materielnya diambil dari bagian Divisi ke-3 dan ke-4.[2] Proses pembentukan unit ini berada di bawah yurisdiksi Wehrkreis VIII (Distrik Militer VIII).
Pasukan divisi ini terlibat dalam pertempuran sengit di sepanjang Sungai Bzura untuk membendung serangan balik taktis pasukan Polandia yang mencoba menerobos kepungan.[3] Setelah berhasil menetralisir perlawanan tersebut, divisi ini melanjutkan pergerakan ofensifnya ke arah timur dan ikut serta dalam pengepungan serta penaklukan kota Warsawa hingga menyerahnya ibu kota Polandia tersebut pada akhir September 1939.
Selama invasi ke Polandia, divisi ini kehilangan lebih dari 10% dari kekuatan awal mereka sebesar 17.734 orang. Dengan jumlah gugur sebanyak 717 orang, terluka sebanyak 1.278 orang atau hilang sebanyak 10 orang.[4]
Garis pergerakan taktis divisi ini dimulai dengan menerobos wilayah Belgia, menyeberangi Terusan Albert, dan menguasai kota Leuven. Pasukan divisi kemudian terus mendesak ke arah barat menuju pesisir utara Prancis dan terlibat langsung dalam aksi penguncian kepungan pasukan Sekutu selama Pertempuran Dunkirk.
Pada fase kedua kampanye militer Prancis (Fall Rot), divisi ini dikerahkan untuk menyeberangi Sungai Somme dan Sungai Aisne. Divisi Infanteri ke-18 terus melakukan penetrasi taktis jauh ke dalam wilayah Prancis, mendesak mundur sisa-sisa pasukan lawan hingga mencapai wilayah Sungai Loire sebelum gencatan senjata ditandatangani pada akhir Juni 1940. Pasca-kampanye tersebut, divisi ini tetap ditempatkan di Prancis sebagai pasukan pendudukan hingga musim gugur tahun 1940, sebelum akhirnya ditarik kembali ke yurisdiksi komando asalnya untuk bersiap menjalani proses reorganisasi total.
Divisi Infanteri Bermotor ke-18
Mulai bulan November 1940, proses motorisasi Divisi Infanteri ke-18 dimulai[5][6]. Proses ini diselesaikan pada bulan Mei 1941, bersamaan dengan perubahan namanya menjadi Divisi Infanteri Bermotor ke-18 (18. Infanterie-Division (mot.)). Selama proses motorisasi tersebut, divisi ini berada di bawah komando Angkatan Darat ke-11 yang tetap menjadi bagian dari Grup Angkatan Darat C.
Pada 23 Juni 1943, saat berada di Yelnya, divisi ini berganti nama menjadi Divisi Panzergrenadier ke-18 dan mendapat tambahan Batalion Tank 118 (Panzer-Abteilung 118) yang dilengkapi dengan Sturmgeschütz. Pada bulan September, unit ini ditempatkan di bawah Angkatan Darat ke-4 dalam Grup Angkatan Darat Tengah dan bertempur di dekat Orscha hingga akhir tahun 1943.[5]
Saat Soviet meluncurkan Operasi Bagration pada awal 1944, pertahanan Grup Angkatan Darat Tengah berhasil ditembus. Divisi Panzergrenadier ke-18 pun ikut terjebak dalam Kantong Bobruisk. Demi menghindari penawanan oleh pasukan musuh, komandan divisi GeneralleutnantKarl Zutavern melakukan bunuh diri pada 6 Juli 1944.
Komandan
Divisi Infanteri ke-18
Generalleutnant Hermann Hoth – 1 Oktober 1934 hingga 1 April 1938
Generalleutnant Erich von Manstein – 1 April 1938 hingga 26 Agustus 1939
Generalmajor/Generalleutnant Friedrich-Carl Cranz – 26 Agustus 1939 hingga 1 November 1940
Divisi Infanteri Bermotor ke-18
Generalleutnant Friedrich-Carl Cranz – 1 November 1940 hingga 24 Maret 1941 (gugur akibat kecelakaan)
Generalmajor/Generalleutnant Friedrich Herrlein – 28 Maret hingga 15 Desember 1941
Oberst/Generalmajor/Generalleutnant Werner von Erdmannsdorff – 15 Desember 1941 hingga 23 Juni 1943
Divisi Panzergrenadier ke-18
Generalleutnant Werner von Erdmannsdorff – 23 Juni hingga 9 Agustus 1943
Generalmajor/Generalleutnant Karl Zutavern – 9 Agustus 1943 hingga 14 April 1944
Generalleutnant Curt Jahn – 14 April hingga 24 Mei 1944
Generalleutnant Karl Zutavern – 24 Mei hingga 6 Juli 1944 (bunuh diri)
Generalmajor Hans Boelsen – 6 Juli 1944 hingga 1 Januari 1945
Oberst/Generalmajor Josef Rauch – 1 Januari hingga 8 Mei 1945
↑Joachim Engelmann: Die 18. Infanterie- und Panzergrenadier-Division 1934–1945. Ed. Dörfler im Nebel-Verlag, Eggolsheim 2004, ISBN 3-89555-176-7, S. 5.
↑Gregory Liedtke(dalam bahasa Jerman),[ pada Google BooksEnduring the Whirlwind: The German Army and the Russo-German War 1941-1943],Helion and Company,hal.67,ISBN978-1-911096-87-0, pada Google Books
↑Gregory Liedtke(dalam bahasa Jerman),[ pada Google BooksEnduring the Whirlwind: The German Army and the Russo-German War 1941-1943],Helion and Company,hal.78,ISBN978-1-911096-87-0, pada Google Books