Taejo dari Joseon mendirikan "Kerajaan Joseon Agung" pada tahun 1392-1393, dan dia mendirikan dinasti Joseon yang akan mempertahankan kekuasaan di semenanjung Korea selama lima ratus tahun. Sebagai langkah awal, sebuah misi diplomatik dikirim ke Tiongkok dan ke Jepang pada tahun 1402. Misi-misi selanjutnya mengembangkan dan memupuk kontak dan pertukaran antara negara-negara tetangga ini.
Misi diplomatik secara konvensional terdiri dari tiga utusan — utusan utama, wakil utusan, dan seorang pejabat dokumen. Juga termasuk satu atau lebih penulis atau pencatat resmi yang membuat catatan rinci tentang misi tersebut.[2]
Pada abad ke-20, hubungan bilateral Dinasti Joseon dipengaruhi oleh semakin banyaknya kontak internasional yang memerlukan adaptasi dan jenis diplomasi baru.[3]
Kang, Etsuko Hae-jin. (1997). Diplomacy and Ideology in Japanese-Korean Relations: from the Fifteenth to the Eighteenth Century. Basingstoke, Hampshire; Macmillan. ISBN978-0-312-17370-8; OCLC243874305
Kang, Jae-eun and Suzanne Lee. (2006). The Land of Scholars: Two Thousand Years of Korean Confucianism. Paramus, New Jersey: Homa & Sekey Books. ISBN978-1-931907-37-8; OCLC 60931394
Kang, Woong Joe. (2005). The Korean Struggle for International Identity in the Foreground of the Shufeldt Negotiation, 1866-1882. Latham, Maryland: University Press of America. ISBN978-0-7618-3120-4; OCLC 238760185
Walraven, Boudewijn and Remco E. Breuker. (2007). Korea in the middle: Korean studies and area studies; Essays in Honour of Boudewijn Walraven. Leiden: CNWS Publications. ISBN90-5789-153-0; OCLC181625480
Wiwŏnhoe, Yunesŭkʻo Hanʼguk. (2004). Korean History: Discovery of Its Characteristics and Developments. Elizabeth, New Jersey: Hollym. ISBN978-1-56591-177-2; OCLC56107531