Dinggung adalah tradisi sastra lisan atau senandung yang wajib dituturkan oleh para petani madu sialang. Sebelum para petani madu sialang memanen dari pohon sialang, pohon sialang merupakan sebutan untuk berbagai jenis pohon yang menjadi “rumah” bagi lebah madu hutan bersarang.[1] Mereka melakukan sebuah tradisi atau ritual dan salah satunya dengan membaca doa.[2][3] Dinggung merupakan warisan leluhur yang menunjukkan kearifan masa lalu dalam menjaga ekosistem.[1]
Prosesi
Sebelum mengambil madu sialang di hutan, prosesi akan diawali dengan mempersiapkan berbagai perpakas dan menentukan siapa pemanjat pohon sialang. Setelah ditentukan, bujang-gadis akan diajak sebagai pengambil madu sialang rayo. Tuo gadih (mak gadis, induk gadis) akan mengajak gadis dusun untuk mengambil madu sialang bersama-sama di hutan. Anak gadis berpamitan untuk mengambil madu. Setelah disetujui oleh tuo gadis, maka sudah bisa berangkat mengambil madu sialang. Setibanya di bawah batang sialang, pemanjat pun mulai mempersiapkan perkakas, membuat tunam (alat mengusir lebah), menyiapkan wadah ambung sebagai perkakas untuk memuat barang-barang persiapan tradisi. Lantas si pemanjat mempersiapkan pasak, menyiapkan liyeh (tangga) untuk naik ke pohon. Sementara induk atau tuo gadih bersama anak gadis mempersiapkan bekal. Mereka kemudian membentang tikar dan membuat api unggun sebagai penerang.[4]
Pada malam harinya seorang pemasang pasak akan berdoa bersama dan mengentam pohon sialang untuk memberi kabar kepada lebah sialang yang berada di atas. Setelah kabar itu disampaikan, apakah pohon sialang sudah bisa dipanjat atau tidak. Jika pohon sialang siap dipanjat, maka pohon sialang akan mengeluarkan bunyi dentuman (berdengung). Tapi jika tidak berdengung itu menjadi tanda tidak diizinkan untuk memanjat pohon sialang. Setelah dua atau tiga kali mendengar dentuman atau berdengung, kemudian pemanjat akan tahu dan memastikan telah mendapatkan izin untuk mengambil madu. Pohon sialang pun sudah bisa dipanjat dan madunya siap dipanen. Sebelum memanjat, si pemanjat pohon tadi merapal doa, sambil mengelilingi pohon sialang. Hal itu dilakukan agar terhindar dari hal-hal yang tidak kita inginkan. Setelah keliling sekitar tiga kali putaran, pohon sialang mulai dipanjat. Prosesi memanjat itu juga membaca pantun bertujuan untuk menyapa, atau berpamitan terlebih dahulu. Setelah pamit, orang-orang yang di bawah juga akan berpantun.[3]
Ketika prosesi memanjat pohon itu, tuo gadih yang berada di bawah mulai berdinggung dan bersaut berdinggung. Dinggung itu terus dilantunkan sampai pada dahan jerambang atau ketika hampir sampai pada manisnya madu. Setelah pantun disampaikan barulah pemanjat menuju dahan-dahan yang dihinggapi lebah sialang. Jika ada manisnya madu maka dia (pemanjat) akan mengabari orang-orang yang berada di bawah pohon. Proses memanen madu itu menggunakan parang. Kemudian madu dimasukkan ke wadahnya. Setelah terisi penuh, wadah itu kemudian diturunkan. Terkadang ketika sudah sampai di atas pohon, terkadang pemanjat keasyikan menurunkan madu. Saking asyiknya sampai-sampai lupa di sekitar mereka banyak penghuninya seperti datuk belang atau harimau. Induk gadih atau tuo gadis dan anak gadis akan mengingatkan dan berteriak. Mereka minta pemanjat tadi melemparkan madu untuk dikasih ke harimau. Setelah pemanjat kembali ke bawah, lantas para gadis dan tuo gadih mulai mengisi bekal rantang atau lengkang dengan madu sebagai bekal mereka untuk dibawa pulang.[1][4]
Upaya Melestarikan
Kantor Bahasa Provinsi Jambi menggelar kegiataan "Revitalisasi Sastra Lisan Dinggung" di Dusun Rantau Pandan Kabupaten Bungo, Jambi. Aktivitas revitalisasi ini dilakukan dengan menerapkan pemberdayaan berbasis komunitas tutur. Revitalisasi ini melibatkan 43 penutur muda dengan rentang usia 12-18 tahun dan lima orang guru master.[4]