Dinasti Sayyid adalah dinasti keempat dari Kesultanan Delhi, yang memerintah selama 37 tahun dari 1414 hingga 1451 dengan empat penguasa.[1] Penguasa pertama dinasti ini, Khizr Khan, yang merupakan vasal Timurid dari Multan, menaklukkan Delhi pada 1414. Para penguasa Sayyid kemudian menyatakan diri mereka sebagai Sultan Kesultanan Delhi di bawah Mubarak Shah.[2][3] Dinasti ini menggantikan Dinasti Tughlaq dan memerintah Sultanat hingga digantikan oleh Dinasti Lodi pada 1451.
Asal-usul
Menurut Encyclopaedia Britannica, keluarga ini mengklaim keturunan dari Muhammad, sehingga mereka menggunakan gelar Sayyid.[4] Hal ini juga disebutkan oleh penulis kontemporer, Yahya bin Ahmad Sirhindi, dalam Tarikh-i-Mubarak Shahi, yang menyatakan bahwa Khizr Khan merupakan keturunan Muhammad.[5] Anggota dinasti memperoleh gelar Sayyid—artinya keturunan Nabi Muhammad—berdasarkan klaim bahwa mereka berasal dari garis keturunan Nabi melalui putrinya, Fatimah.
Dalam History and Culture of Indian People, penulis menyatakan bahwa keluarga ini berasal dari Arab, namun meragukan klaim garis keturunan tersebut. Ia menyoroti bahwa Yahya Sirhindi mendasarkan kesimpulannya pada bukti yang lemah, yakni: pengakuan informal oleh wali terkenal, Sayyid Jalaluddin Bukhari dari Uch Sharif, mengenai asal-usul Sayyid Khizr Khan dalam rumah tangga kakek angkatnya, Malik Mardan Daulat (juga disebut Malik Mardan Bhatti oleh Yahya);[6][7][8] serta, karakter mulia Sultan yang dianggap mencerminkan kualitas moral keturunan Muhammad.[9]
Abraham Eraly juga berpendapat bahwa nenek moyang Khizr Khan kemungkinan berasal dari keluarga Arab yang sudah lama menetap di wilayah Multan sejak awal periode Tughluq, tetapi ia meragukan klaim Sayyid tersebut.[10] Pandangan serupa dikemukakan oleh A.L. Srivastava.[11] Menurut Richard M. Eaton dan orientalis Simon Digby, Khizr Khan adalah kepala suku Punjabi dari klan Khokhar, yang dikirim ke Timur sebagai duta dan negosiator dari wilayah Punjab yang paling dekat, dan akhirnya menjadi penguasa di Delhi berkat jaringan kontak yang ia peroleh.[12][13]
Sejarah
Khizr Khan awalnya adalah seorang bangsawan di Kesultanan Delhi pada masa Dinasti Tughlaq dan menjabat sebagai gubernur Multan di bawah Sultan Firuz Shah. Pada 1395, ia diusir dari kota tersebut oleh suku Muin di bawah pimpinan Sarang Khan,[14][15] seorang Muslim India dan saudara Mallu Iqbal Khan, penguasa de facto Delhi.[16][17][18][19] Sarang Khan dibantu oleh para pelayan Malik Mardan Bhatti, mantan gubernur Multan yang juga merupakan kakek angkat Khizr Khan.[20][21]
Setelah penjarahan Delhi oleh Timur pada 1398,[22] Khizr Khan ditunjuk sebagai deputi Multan (Punjab).[23] Ia menguasai Lahore, Dipalpur, Multan, dan wilayah Sindh bagian atas.[24][25] Dengan mengumpulkan pasukannya di Multan, Khizr Khan berhasil mengalahkan dan membunuh Mallu Iqbal Khan di Delhi pada 1405.[26] Ia kemudian merebut Delhi pada 28 Mei 1414, mendirikan Dinasti Sayyid.[23] Khizr Khan tidak menggunakan gelar Sultan, melainkan tetap mengakui kepatuhannya kepada Timur sebagai Rayat-i-Ala (vasal) dari Timur dan kemudian putranya, Shah Rukh.[27][28] Setelah naik takhta, wilayah Punjab, Uttar Pradesh, dan Sindh bersatu kembali di bawah Kesultanan Delhi, di mana Khizr Khan fokus menumpas pemberontakan.[29]
Setelah kematiannya pada 20 Mei 1421, Khizr Khan digantikan oleh putranya, Sayyid Mubarak Shah. Mubarak Shah mencantumkan namanya sebagai Muizzuddin Mubarak Shah pada koin, menggantikan nama Timurid dengan nama Khalifah, dan menyatakan dirinya sebagai Shah.[30][31] Setelah kematian Mubarak Shah, keponakannya, Muhammad Shah naik takhta dan menyebut dirinya sebagai Sultan Muhammad Shah.
Penguasa terakhir Dinasti Sayyid, Alauddin, secara sukarela melepaskan takhta Kesultanan Delhi kepada Bahlul Khan Lodi pada 19 April 1451, dan pergi ke Badaun, tempat ia meninggal pada 1478.[32]
↑Porter, Yves; Degeorge, Gérard (2009). The Glory of the Sultans: Islamic Architecture in India (dalam bahasa Inggris). Flammarion. ISBN978-2-08-030110-9. Though Timur had since withdrawn his forces, the Sayyid Khizr Khān, the scion of a venerable Arab family who had settled in Multān, continued to pay him tribute.
↑The Cambridge History of India: Turks and Afghans, edited by W. Haig (dalam bahasa Inggris). S. Chand. 1958. The claim of Khizr Khān, who founded the dynasty known as the Sayyids, to descent from the prophet of Arabia was dubious, and rested chiefly on its causal recognition by the famous saint Sayyid Jalāl-ud-dīn of Bukhārā.
↑Beveridge, Henry (1992). Tarikh-I-Mubarakshahi (dalam bahasa Inggris). Rima Publishing House. hlm.168.
↑Ramesh Chandra Majumdar (1951). The History and Culture of the Indian People: The Delhi sultanate. Bharatiya Vidya Bhavan. However, he bases his conclusions on insubstantial evidence, namely, the testimony of the saint Jalal-uddin Bukhari and the noble character of Khizr Khan, which was seen as distinguishing him as a descendant of the Prophet. It is likely that the family originally came from Arabia.
↑Eraly, Abraham (2015-04-01). The Age of Wrath: A History of the Delhi Sultanate (dalam bahasa Inggris). Penguin UK. hlm.261. ISBN978-93-5118-658-8. The first of these two dynasties was founded by Khizr Khan, who bore the appellation 'Sayyid', which identified him as a descendant of prophet Muhammad, so the dynasty he founded came to be known as the Sayyid dynasty. The veracity of Khizr Khan's claimed lineage is uncertain, but his forebears were likely Arabs who had migrated to India in the early Tughluq period and settled in Multan. The family prospered in India, gaining wealth and power. This advancement culminated in Malik Suleiman, Khizr Khan's father, becoming the governor of Multan under the Tughluqs. When Suleiman died, Khizr Khan succeeded him to the post, but lost it during the political turmoil following the death of Firuz Tughluq.
↑Eaton, Richard M. (2019). India in the Persianate Age: 1000–1765 (dalam bahasa Inggris). University of California Press. hlm.105. ISBN978-0520325128. The career of Khizr Khan, a Punjabi chieftain belonging to the Khokar clan, illustrates the transition to an increasingly polycentric north India.
↑Journal of Indian History - Volume 55. Department of Modern Indian History. 1977. hlm.105. Indian Musalmans like Malik Kafur, Khusrau Khan and Khan - i - Jahan Maqbul reached close to the throne, and men like Mallu Khan, Sarang Khan, Muqarrab Khan etc
↑V. D. Mahajan (2007). History of Medieval India. hlm.221. The result of this was that Nasir-ud-Din Mahmud Shah became a tool in the hands of Mallu Iqbal
↑Mahajan, V.D. (1991, reprint 2007). History of Medieval India, Part I, Now Delhi: S. Chand, ISBN81-219-0364-5, p.244
Bibliografi
Kumar, Sunil (2020). "The Delhi Sultanate as Empire". Dalam Bang, Peter Fibiger; Bayly, C. A.; Scheidel, Walter (ed.). The Oxford World History of Empire. Vol.2. Oxford University Press.
Jackson, Peter (2003). The Delhi Sultanate: A Political and Military History. Cambridge University Press.