Sejarah intelijen Belanda dapat ditelusuri kembali ke tahun 1914 dengan dibentuknya Generale Staf III (GS III) selama pecahnya Perang Dunia I.[3] Setahun setelah berakhirnya perang, GS III digantikan oleh Centrale Inlichtingendienst (CI) pada tahun 1919.[4] Setelah Jerman Nazi menginvasi Belanda, pemerintah Belanda di pengasingan menganggap CI tidak memadai untuk upaya perang mereka dan kemudian membentuk Bureau Inlichtingen (BI) pada tahun 1942.
Setelah perang, pada tahun 1945, Belanda menggantikan Biro Keamanan Nasional (Bureau voor Nationale Veiligheid) dan pada tahun 1947 kemudian dikenal sebagai Dinas Keamanan Dalam Negeri (Binnenlandse Veiligheidsdienst) (BVD) yang menjadi pendahulu AIVD. Untuk pengumpulan intelijen di luar negeri, Dinas Intelijen Asing — Buitenlandse Inlichtingendienst (BID), yang berganti nama menjadi Inlichtingendienst Buitenland (IDB) pada tahun 1972, telah ada sejak tahun 1946. Dinas ini berlokasi di Villa Maarheeze di Wassenaar, tepat di utara Den Haag. IDB dibubarkan pada tahun 1994 setelah gejolak internal yang berat. Tugas intelijen luar negeri akhirnya diserahkan kepada BVD, yang dengan demikian berubah menjadi dinas gabungan intelijen dan keamanan. Karena alasan ini, dinas tersebut diubah namanya menjadi Algemene Inlichtingen en Veiligheidsdienst (AIVD) pada 29 Mei 2002.
Misi
AIVD berfokus terutama pada ancaman non-militer domestik terhadap keamanan nasional Belanda, sedangkan Dinas Intelijen dan Keamanan Militer (MIVD) berfokus pada ancaman internasional, khususnya ancaman militer dan yang disponsori oleh pemerintah seperti spionase. AIVD bertugas mengumpulkan intelijen dan membantu dalam memerangi ancaman domestik maupun asing terhadap keamanan nasional.