Kehidupan awal dan latar belakang
Wadia lahir di London tak lama setelah tengah malam pada pagi 15 Auustus 1919 dari pasangan pendiri Pakistan, Muhammad Ali Jinnah (yang secara tak resmi dikenal sebagai "Jinnah"), dan istri keduanya Rattanbai Petit.
Kakek buyut pihak ayah Dina, Premjibhai “Meghji” Thakkar, adalah seorang Hindu berkasta Lohana, yang berpindah ke agama Islam, dan menjadi Syiah Khoja, pada abad ke-19. Sementara itu, kakek-nenek pihak ibunya adalah orang Parsi, yang berpisah dengan ibunya, Rattanbai, saat ia menikah dengan Jinnah dan berpindah ke Islam.[4] Kakek-nenek pihak ayahnya berasal dari Gujarat, yang berpindah ke Karachi untuk berbisnis pada pertengahan 1870an, dimana ayahnya, Jinnah lahir.[4] Ayahnya, Jinnah, dan bibinya, Fatima, merupakan figur paling penting dan menonjol di Pakistan, yang memulai gerakan Pakistan.[1] Perjuangan Jinnah untuk umat Muslim kemudian berujung pada pembentukan Pakistan pada 1947. Jinnah menjadi pendiri serta Gubernur Jenderal Pakistan pertama.[3][3] Jinnah dan Fatima masing-masing digelari "Bapak Bangsa" dan "Ibu Bangsa".[2][5]
Bibi Dina, Fatima Jinnah, adalah figur penting dalam pendirian Pakistan. Ibunya, Rattanbai, lahir dalam dua keluarga Parsi kelas elit di India, baronet Petit dan keluarga Tata.[6][7] Dari Petit, kakek buyutnya, Dinshaw Maneckji Petit, adalah baronet pertama Petit dan pendiri pabrik kapas pertama di India.[8] Sementara, dari Tata, kakek buyutnya, Ratanji Dadabhoy Tata, dan saudara kakeknya, Jehangir Tata, adalah ketua Tata Group.[9] Nenek buyutnya, Suzanne Brière, adalah wanita pertama di India yang mengendarai sebuah mobil. Istri pertama Jinnah, Emibai Jinnah, adalah ibu tirinya.[2][5]
Setelah Rattanbai meninggal, Fatima tinggal dengan Jinnah, dan membesarkan kemenakannya, Dina.[6][7] Jinnah membesarkan putrinya sebagai seorang Muslim.[4] Menurut supir Jinnah, Bradbury, Jinnah berkata kepada saudarinya, Fatima, "untuk mengajari kemenakannya, Dina tentang Islam dan Kitab Suci al-Qur'an".[10]