Karier
Dimas pernah meniti karier sebagai jurnalis yang diawali sejak mahasiswa di mana ia pernah menjadi pemagang di Jawa Pos dan bekerja di Harian Republika Biro Surabaya. Setelah lulus kuliah, ia bekerja di TV 7, milik Kompas Gramedia Group pada tahun 2001-2004. Pada awal tahun 2004, ia mendapatkan pelatihan media dan globalisasi di Radio Netherlands Training Centre (RNTC) di Hilversum, Belanda.
Setelah itu, ia memilih mengambil program master bidang Politik Internasional di University of Glasgow, Skotlandia, Inggris Raya dengan beasiswa British Chevening Award.[5] Setelah lulus, ia berkarier sebagai peneliti UNDP Indonesia untuk proyek konsolidasi demokrasi di United Nations Support for Indonesia Recovery (UNSFIR) pada tahun 2015-2016. Setelah itu, ia menjabat sebagai program officer UNDP untuk program perdamaian dan rekonsiliasi di Aceh paska penandatanganan MoU Helsinki pada tahun 2006-2008. Kemudian pada tahun 2008, ia mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi doktor di University of New South Wales (UNSW), Australia. Dimas mengambil penelitian antropologi politik tentang Gerakan Sosial Baru atau New Social Movement yang berlangsung pada era reformasi.[6]
Selain bekerja di UNDP, Dimas juga aktif menjadi akademikus. Ia pernah mengajar di sejumlah universitas negeri maupun swasta. Pada tahun 2006-2008, ia mengajar di program studi Ilmu Politik, Universitas Airlangga, Surabaya. Lalu pada tahun 2018, ia pernah mengajar di Pascarasarjana Ilmu Politik, Universitas Padjajaran. Kemudian sejak tahun 2021, Dimas juga mengajar di Sekolah Pascasarjana, Universitas Airlangga, Surabaya.[5]
Pada tahun 2010, Dimas terpilih sebagai pimpinan Delegasi Indonesia untuk pertemuan American Council of Young Political Leaders (ACYPL). Dimas juga pernah menjadi salah satu wakil Indonesia untuk pertemuan pemimpin muda di sejumlah negara. Sejak tahun 2012 hingga saat ini, ia aktif menjabat sebagai direktur eksekutif PT Akar Rumput Strategic Consulting atau ARSC sejak tahun 2012 hingga sekarang.[7] Selain itu, ia juga pernah menjadi editor buku berjudul Anak Muda dan Masa Depan Indonesia: Bunga Rampai Pemikiran Anak Muda Dari Aceh Sampai Papua (2018, Mizan).[8]
Kewirausahaan sosial
Dimas adalah seorang pegiat kewirausahaan sosial. Ia adalah pendiri program Kader Bangsa Fellowship Program (KBFP), yang telah berjalan sejak tahun 2011. Program ini telah melahirkan delapan angkatan dan menjadi wadah pertemuan para pemimpin muda Indonesia, mulai dari akademisi, aktivis, pegiat organisasi masyarakat, pelaku komunitas kreatif, seniman, sutradara, kyai muda, jurnalis, wirausaha, politikus muda, hingga kepala daerah muda.[9][10][11]
Lebih lanjut, pada tahun 2016, Dimas menggagas platform Gerakan AMPUH (Anak Muda Punya Usaha) yang bergerak di bidang sosialisasi kewirausahaan ekonomi kreatif untuk anak-anak muda. Kemudian sejak tahun 2018, ia mendirikan platform Perkumpulan Kader Bangsa yang mendorong lahirnya program dialog dan sharing session lintas daerah yang diberi nama Kolaborasi Positif. Melalui platform ini, Dimas berupaya menghimpun, menumbuhkan, dan menghubungkan anak-anak muda berprestasi untuk menjadi inspirasi bagi sesama sekaligus terlibat dalam berbagai proyek kolaboratif yang membawa manfaat bagi masyarakat.[12][13]
Pada tahun 2017, organisasi tersebut telah resmi menjadi institusi yang mewadahi berbagai kegiatan komunitas anak muda. Institusi ini aktif mengadvokasi isu-isu kebangsaan, tata kelola pemerintahan, partisipasi politik, transformasi sosial-ekonomi, penguatan kapasitas dan peran anak muda, serta isu-isu demokrasi dan kepemimpinan publik. Pada tahun yang sama, ia mendirikan Diskusi Kopi dan Ruang Berbagi, sebuah platform berupa ruang kerja bersama bagi para perusahaan rintisan anak muda, yang juga dilengkapi dengan pengembangan usaha mandiri di bidang kuliner melalui jejaring outlet kopi dan restoran.[9][14][15]
Pada tahun 2019, Dimas mendirikan program bernama Indonesian Young Leaders Exchange Program (IYLEP). Program ini merupakan inisiatif pelatihan dan pertukaran bagi para pemimpin muda Indonesia ke sejumlah negara sahabat. Angkatan pertama diberangkatkan ke Singapura untuk mengunjungi berbagai institusi pendidikan, sosial budaya, ekonomi kreatif, kementerian kepemudaan, asosiasi pemuda, serta berdialog dengan para pemimpin muda setempat. Pada tahun yang sama, angkatan kedua IYLEP melakukan kunjungan ke Australia, khususnya ke Kota Melbourne, untuk studi banding dan berdialog langsung dengan para pemimpin muda Australia.[16][17][18]