Digwijaya (penaklukan) atau Digjaya, (sanskerta: दिग्विजय; Dig: "Arah" dan Wijaya: "Kemenangan"), di India kuno awalnya merupakan istilah bahasa Sansekerta yang berarti penaklukan empat penjuru dunia, dalam konteks militer atau moral. Pada abad pertengahan, istilah ini merujuk pada penaklukan agama oleh para pendiri tradisi Hindu utama, yaitu Madhwa, Sankara, Chaitanya, dan Wallabha .[1]
Penaklukan militer dan moral
Digwijaya sebagai penaklukan militer sering disebutkan dalam sejarah dan mitologiIndia, misalnya, digwijaya BharataCakrawartin. Diikuti oleh ritual yang menegaskan rahmat ilahi dan otoritas kekaisaran sang penakluk.[2] Dengan penaklukannya, Cakrawartin menyatukan India sebagai "kekaisaran moral" yang diperintah oleh tatanan yang lebih tinggi.[3]Digha Nikaya Buddha (Bab 26.6-7) , juga berbicara tentang seorang raja pemutar roda ( Cakrawartin ), yang menyebarkan Dharma di empat penjuru di bawah kekuasaannya.
Catatan
Sumber
Bader, Jonathan (2001), Conquest of the Four Quarters. TYraditional Accounts of the Life of Shankara, Australian National University
Clark, Matthew (2006), The Daśanāmī-Saṃnyāsīs: The Integration of Ascetic Lineages into an Order, BRILL
Goodding, Robert A. (2013), "A Theologian in a South Indian Kingdom: The Historical Context of the Jivanmuktiviveka of Vidyaranya", dalam Lindquist, Steven E. (ed.), Religion and Identity in South Asia and Beyond: Essays in Honor of Patrick Olivelle, Anthem Press
Isayeva, Natalia (1993). Shankara and Indian Philosophy. Albany: State University of New York Press (SUNY). ISBN0-7914-1282-2.
Nowicka, Olga (2016), "Conquering the World, Subduing the Minds: Śaṅkara's digvijaya in the Local Context", Cracow Indological Studies, 18 (18): 145–166, doi:10.12797/CIS.18.2016.18.07
Raveh, Daniel (2016), Sūtras, Stories and Yoga Philosophy: Narrative and Transfiguration, Routledge
Simmons, Caleb (2019), Devotional Sovereignty: Kingship and Religion in India, Oxford University Press