Kota dan munisipalitas in Holland Selatan, 23x15px|border |alt=|link= Belanda{{SHORTDESC:Kota dan munisipalitas in Holland Selatan, 23x15px|border |alt=|link= Belanda|noreplace}}
Kota Delft muncul di tepi sebuah kanal bernama "Delf", yang berasal dari kata delven yang berarti "menggali". Dari sinilah nama Delft berasal. Di daerah yang lebih tinggi, tempat kanal tersebut melintasi tanggul sungai Gantel yang telah tertimbun lumpur, seorang bangsawan membangun kediamannya sekitar tahun 1075. Keberadaan kediaman bangsawan ini menjadikan Delft tumbuh menjadi kota pasar penting, yang terlihat dari luasnya alun-alun pasar utama di pusat kota.
Awalnya merupakan desa pedesaan di Abad Pertengahan awal, Delft berkembang menjadi kota, dan pada 15 April 1246, Pangeran Willem II menganugerahkan piagam kota kepada Delft. Perdagangan dan industri berkembang pesat. Pada tahun 1389, kanal Delfshavensche Schie digali menuju sungai Maas, tempat pelabuhan Delfshaven dibangun, sehingga Delft terhubung langsung ke laut.
Hingga abad ke-17, Delft merupakan salah satu kota utama di Kepangeranan (kemudian Provinsi) Holland. Pada tahun 1400, Delft memiliki sekitar 6.500 penduduk, menjadikannya kota terbesar ketiga setelah Dordrecht (8.000) dan Haarlem (7.000). Pada tahun 1560, Amsterdam menjadi kota terbesar dengan 28.000 penduduk, diikuti oleh Delft, Leiden, dan Haarlem, masing-masing sekitar 14.000 jiwa.
Pada tahun 1536, terjadi kebakaran besar dan menghancurkan sebagian besar kota.
Hubungan Delft dengan Wangsa Oranye dimulai pada tahun 1572, ketika Willem Sang Pendiam menetap di bekas Biara Saint-Agatha, yang kemudian dikenal sebagai Prinsenhof. Pada saat itu, ia memimpin perlawanan Belanda terhadap pendudukan Spanyol, yang dikenal sebagai Perang Delapan Puluh Tahun. Delft, yang telah menjadi kota penting dengan tembok kota yang kuat, berfungsi sebagai markas pertahanan. Pada Oktober 1573, pasukan Spanyol menyerang Delft tetapi berhasil dipukul mundur dalam Pertempuran Delft.
Pada 10 Juli 1584, Willem Sang Pendiam ditembak mati oleh Balthazar Gerards di aula Prinsenhof (kini menjadi Museum Prinsenhof). Karena kota Breda, tempat makam keluarga Oranye, masih dikuasai Spanyol, ia dimakamkan di Nieuwe Kerk. Sejak saat itu, tradisi pemakaman keluarga kerajaan Belanda berlangsung di sana hingga kini.
Pada masa itu, Delft juga terkenal sebagai pusat percetakan dan kerajinan seni. Sejumlah perajin tembikar Italia menetap di Delft dan memperkenalkan gaya glasir baru, yang kemudian berkembang menjadi Delft Blue (keramik biru khas Delft). Industri permadani (tapestry) juga berkembang pesat, terutama setelah perajin terkenal François Spierincx pindah ke kota ini. Pada abad ke-17, Delft mengalami masa keemasan baru berkat kehadiran kantor Perusahaan Hindia Timur Belanda (VOC) yang dibuka pada tahun 1602, serta industri keramiknya yang mendunia.
Ledakan Delft terjadi pada 12 Oktober 1654,[8] ketika sebuah gudang mesiu meledak dan menghancurkan sebagian besar kota. Lebih dari 100 orang tewas dan ribuan lainnya luka-luka.[9]
Pada tahun 1848, jumlah penduduk Delft diperkirakan sekitar 15.000 jiwa.[10]
Delft terkenal dengan keramik Delft,[11] yaitu produk tembikar yang meniru porselen Tiongkok abad ke-17. Kota ini lebih dulu berkembang di bidang tersebut karena merupakan pelabuhan utama VOC. Hingga kini, tradisi ini masih dapat dilihat di pabrik De Koninklijke Porceleyne Fles (Royal Delft) dan De Delftse Pauw, sedangkan keramik modern dan seni tembikar kontemporer dapat ditemukan di Gallery Terra Delft.[12]
Delft juga mendukung industri seni kreatif. Sejak tahun 2001, gedung Bacinol[13] (yang tidak digunakan sejak 1951) menjadi tempat bagi berbagai perusahaan seni kreatif. Namun, pada Desember 2009, gedung tersebut dibongkar untuk pembangunan terowongan rel baru di Delft. Para penghuninya, bersama nama "Bacinol", kemudian pindah ke gedung lain di kota itu. Nama Bacinol sendiri berasal dari penelitian penicillin Belanda pada masa Perang Dunia II.
Institut UNESCO-IHE untuk Pendidikan Air, yang memberikan pendidikan pascasarjana bagi negara berkembang, memanfaatkan tradisi kuat TU Delft dalam manajemen air dan teknik hidrolik.
Universitas Ilmu Terapan Den Haag memiliki gedung di kampus TU Delft sejak 2009[16] dan menawarkan beberapa program sarjana di bidang Teknologi, Inovasi & Masyarakat.
Universitas Ilmu Terapan Inholland juga memiliki gedung di kampus TU Delft, dengan program sarjana untuk fakultas Agri, Pangan & Ilmu Hayati serta Rekayasa, Desain & Komputasi.
Kereta yang berhenti di stasiun-stasiun ini menghubungkan Delft dengan kota-kota terdekat seperti Rotterdam dan Den Haag. Kereta berhenti setiap lima menit sekali, hampir sepanjang hari.
Terdapat beberapa rute bus dari Delft ke tujuan serupa. Trem sering beroperasi antara Delft, Den Haag, dan Leidschendam.
↑Huerta, Robert D.: Giants of Delft: Johannes Vermeer and the Natural Philosophers: The Parallel Search for Knowledge during the Age of Discovery. (Pennsylvania: Bucknell University Press, 2003)
↑Snyder, Laura J.: Eye of the Beholder: Johannes Vermeer, Antoni van Leeuwenhoek, and the Reinvention of Seeing. (W. W. Norton & Company, 2015, ISBN978-0393352887)
↑Ruestow, Edward G.: The Microscope in the Dutch Republic: The Shaping of Discovery. (New York: Cambridge University Press, 1996)
↑Fournier, Marian: The Fabric of Life: The Rise and Decline of Seventeenth-Century Microscopy. (Johns Hopkins University Press, 1996, ISBN978-0801851384)
↑Artenstein, Andrew W.: The discovery of viruses: advancing science and medicine by challenging dogma. (International Journal of Infectious Diseases, Volume 16, Issue 7, July 2012, pages: e470-e473). DOI:10.1016/j.ijid.2012.03.005. Andrew W. Artenstein: "By 1895 Beijerinck had returned to academia after leaving the Agricultural School for a 10-year stint in industrial microbiology in Delft, the South Holland birthplace of van Leeuwenhoek, one of the founding fathers of microbiology. During his first years at the Technical University of Delft, Beijerinck resumed the research on tobacco mosaic disease that he had started while working with Mayer. Even then, he had appreciated that the affliction was microbial in nature, although he felt that the actual agents had yet to be discovered. Beijerinck's investigations at Delft proved fruitful; he not only confirmed the infectivity of the contagium vivum fluidum—soluble living germ—despite filtration, but he importantly demonstrated that unlike bacteria, the culprit of tobacco disease of plants was incapable of independent growth, requiring the presence of living, dividing host cells in order to replicate."