DefaunasiLaporan Living Planet Report 2022 dari World Wildlife Fund menunjukkan bahwa populasi satwa liar telah menurun rata-rata sebesar 69% sejak tahun 1970.[1][2][3]
Defaunasi adalah kepunahan hewan secara global, lokal, ataupun fungsional dari komunitas ekologis.[4]Pertumbuhan populasi manusia, disertai kemajuan dalam teknologi pemanenan sumber daya, telah menyebabkan eksploitasi sumber daya alam yang semakin intensif dan efisien.[5] Akibatnya, banyak vertebrata besar yang hilang dari komunitas ekologi, menciptakan kondisi yang dikenal sebagai "hutan kosong".[6][5][7] Defaunasi berbeda dari kepunahan; istilah ini tidak hanya mencakup hilangnya spesies, tetapi juga penurunan jumlah individu dalam populasi.[8] Efek defaunasi pertama kali diangkat dalam Symposium of Plant-Animal Interactions di Universitas Campinas, Brasil, tahun 1988, dalam konteks hutan-hutan Neotropika.[9] Sejak saat itu, istilah ini semakin luas digunakan dalam bidang biologi konservasi sebagai fenomena global.[4][9]
Diperkirakan lebih dari 50 persen seluruh satwa liar di bumi telah hilang dalam 40 tahun terakhir.[10] Pada tahun 2016, diprediksi bahwa pada tahun 2020, sekitar 68% populasi satwa liar dunia akan lenyap.[11] Di Amerika Selatan, kerugian populasi tersebut diperkirakan mencapai 70 persen.[12] Sebuah studi tahun 2021 menemukan bahwa hanya sekitar 3% permukaan daratan planet ini yang masih tetap utuh secara ekologis dan faunanya, dengan populasi satwa liar asli yang sehat dan jejak manusia yang sangat minimal.[13][14]
↑"Living Planet Index, World". Our World in Data. 13 Oktober 2022. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 8 Oktober 2023. Sumber data: World Wildlife Fund (WWF) dan Zoological Society of London
↑Ceballos, G.; Ehrlich, A. H.; Ehrlich, P. R. (2015). The Annihilation of Nature: Human Extinction of Birds and Mammals. Baltimore, Maryland: Johns Hopkins University Press. hlm. 135 ISBN1421417189 – melalui Open Edition.