Lapisan hmburan dalam (Deep Scattering Layer) dikenal juga sebagai lapisan penyebar suara atau sound scattering layer, merupakan lapisan di lautan yang terdiri dari kumpulan organisme laut yang bergerak secara vertikal setiap hari. Lapisan ini pertama kali terdeteksi melalui penggunaan sonar, ketika gelombang suara yang dipancarkan oleh kapal dipantulkan oleh organisme-organisme tersebut sehingga memberikan kesan adanya dasar laut. Fenomena ini kemudian dikenal dengan istilah false bottom atau phantom bottom.[1][2]
Penggunaan sonar selama Perang Dunia II mengungkapkan adanya dasar laut palsu pada kedalaman antara 300 hingga 500 meter pada siang hari, yang menjadi lebih dangkal pada malam hari. Fenomena ini awalnya dinamai ECR layer, berdasarkan inisial dari tiga penemu utamanya.[3] Lapisan tersebut berasal dari jutaan organisme laut, terutama ikan kecil di zona mesopelagik yang memiliki gelembung renang (swim bladder) yang memantulkan gelombang sonar. Ikan-ikan ini bermigrasi ke perairan yang lebih dangkal pada malam hari untuk mencari makan plankton. Pergerakan vertikal lapisan ini juga dipengaruhi oleh cahaya bulan, menjadi lebih dalam saat bulan terlihat dan lebih dangkal ketika bulan tertutup awan.[4] Ikan lentera (lanternfish) menyumbang sebagian besar biomassa di lapisan hamburan dalam, di mana pantulan sonar dari kandung renang ikan tersebut menciptakan penampakan dasar laut yang keliru.[5][6]
Fenomena phantom bottom terjadi karena sonar salah menafsirkan lapisan organisme laut yang berkumpul pada kedalaman 300–460 meter sebagai dasar laut. Nama ini muncul karena pengamat awal mengira telah menemukan pulau yang tenggelam. Sebagian besar ikan mesopelagik merupakan pemakan plankton kecil (hewan penyaring) yang naik ke zona epipelagik pada malam hari untuk mencari makan, dan kembali ke kedalaman mesopelagik yang gelap, dingin, dan rendah oksigen pada siang hari sebagai perlindungan dari predator.[7]
Organisme mesopelagik, termasuk ikan, cumi-cumi, dan sifonofor, umumnya melakukan migrasi vertikal harian. Migrasi ini mengikuti pergerakan zooplankton dan dapat melibatkan jarak vertikal yang signifikan.[8] Ikan memanfaatkan gelembung renang untuk menyesuaikan kedalaman, dengan mekanisme inflasi saat naik dan deflasi saat kembali ke kedalaman.[9] Beberapa ikan mesopelagik melewati termoklin, yang memiliki perbedaan suhu antara 10–20 °C, sehingga menunjukkan toleransi terhadap variasi suhu yang besar.[10]
Pengambilan sampel melalui trawl pada 1998 menunjukkan bahwa ikan lentera menyumbang sekitar 65% dari total biomassa ikan laut dalam.[11] Ikan lentera memiliki sebaran luas, populasi tinggi, dan keanekaragaman yang signifikan, serta berperan sebagai sumber makan bagi organisme laut yang lebih besar. Estimasi biomassa global sebelumnya adalah 550–660 juta ton, namun revisi berdasarkan data sonar tahun 2007 menunjukkan kisaran antara 5 hingga 10 miliar ton. Data ini menunjukkan bahwa lapisan scattering dalam merupakan salah satu komponen ekosistem laut yang memiliki biomassa sangat besar.[12]