Dataran bertingkat atau dikenal juga dengan istilah tableland merupakan bentang alam berupa kawasan yang berada pada ketinggian relatif terhadap daerah sekitarnya dan dicirikan oleh permukaan yang datar, hampir datar, atau berombak lemah. Kawasan ini umumnya memiliki tepi curam menyerupai tebing, yang disebut tebing curam (escarpment) yang memisahkannya dari dataran rendah di sekelilingnya. Bentuk lahan penyusun dataran bertingkat dikenal dengan berbagai istilah seperti busut, mesa, dataran tinggi (plateau), potrero, tepui, atau tuya, penamaanya bergantung pada ukuran, karakteristik fisik lain, atau lokasi geografis. Bentang alam serupa di dasar laut dikenal sebagai tablemount atau guyot.[1][2]
Dataran bertingkat Sedimen
Dataran bertingkat sedimen merupakan jenis dataran bertingkat yang umumnya berkembang melalui aktivitas erosi pada batuan sedimen klastik berbutir kasar, seperti batupasir dan konglomerat, yang tersingkap dalam posisi relatif datar dan tidak mengalami deformasi tektonik yang signifikan. Faktor utama yang mengontrol geomorfologi dataran bertingkat sedimen adalah kemiringan lapisan batupasir, konglomerat, dan stratum sedimen terkait. Dataran bertingkat sedimen hanya terbentuk apabila kemiringan lapisan sedimennya sangat kecil. Jika lapisan sedimen miring meskipun tidak terdeformasi secara signifikan, yang terbentuk adalah punggungan asimetris yang dikenal sebagai cuesta.[2]
Dataran bertingkat sedimen yang sangat luas biasanya disebut dataran tinggi (plateau). Ketika dataran tinggi mengalami pengikisan oleh aliran sungai dari hulu, erosi pada alur, serta kemunduran tebing curam yang membatasinya, dataran tinggi tersebut terpecah menjadi dataran bertingkat yang ukurannya semakin kecil, seperti mesa, busut, atau puncak batu (pinnacle). Erosi lanjutan kemudian mengubah bentuk-bentuk ini menjadi tumpukan bongkahan batu yang dikenal sebagai labirin batu (rock labyrinths). Tepui di Amerika Selatan merupakan contoh dataran bertingkat sedimen yang terbentuk dari sisa erosi batupasir kuarsa dari periode Prakambrium berlapisan datar, yang menjulang tinggi di atas hutan tropis dan berada di atas batuan dasar kristalin.[3][4]
Dataran bertingkat lainnya
Batuan sedimen klastik berbutir kasar bukan satu-satunya jenis batuan berlapis yang dapat membentuk caprock, yaitu lapisan permukaan keras pada dataran bertingkat. Durikrust berlapis datar maupun batuan vulkanik juga dapat berfungsi sebagai caprock pada berbagai jenis dataran bertingkat. Pada durikrust, misalnya laterit atau silikrit, pembentukan dataran bertingkat umumnya dimulai dengan terbentuknya lapisan permukaan yang tebal dan keras akibat pelapukan mendalam di bawah permukaan yang relatif datar. Selanjutnya, lapisan durikrust mengalami penembusan dan pengikisan oleh aliran sungai. Seiring waktu, lereng mengalami kemunduran, termasuk perpindahan ke arah dalam dari dinding lembah dan tebing curam, sehingga menghasilkan denudasi pada mesa dan busut. Salah satu contoh fenomena ini adalah Dataran bertingkat Panchgani di India,[5] yang memiliki lapisan keras permukaan (caprock) laterit. Dataran bertingkat yang terbentuk melalui erosi durikrust juga umum dijumpai di beberapa wilayah Australia dan Amerika Selatan.[6][7] Lelehan lava atau aliran piroklastik dapat membentuk lapisan batuan vulkanik yang relatif datar di permukaan. Seperti halnya durikrust, lapisan lava atau piroklastik dengan sifat resisten dapat menjadi caprock dataran bertingkat ketika terbelah dan tererosi oleh aliran sungai, sehingga menghasilkan permukaan datar yang menjadi ciri khas ataran bertingkat.[8]
Referensi
↑Neuendorf, Klaus K. E., ed. (2005). Glossary of geology (Edisi 5th ed. / editors, Klaus K.E. Neuendorf, James P. Mehl, Jr., Julia A. Jackson). Alexandria, Va: American Geological Institute. ISBN978-0-922152-76-6.