Bukunya, Has Globalization Gone Too Far?' (1997), dijuluki "salah satu buku ekonomi terpenting dasawarsa ini" oleh Bloomberg Businessweek.
Dalam artikelnya, ia menyoroti tiga ketegangan antara pasar global dan kestabilan sosial. Selain menunjukkan bahwa fenomena "globalisasi" mengalami dilema dalam mengutamakan kesetaraan internasional, ia juga mengungkapkan keretakan antara negara yang memiliki kemampuan dan modal untuk berhasil di pasar global dengan negara yang tidak memiliki kemampuan tersebut dan memandang bahwa sistem pasar bebas adalah ancaman terhadap kestabilan sosial dan norma nasional yang kuat.[3] Menurut analisisnya, ada tiga kategori sebab ketegangan ini muncul.
Pertama, ketegangan ini dipicu oleh globalisasi; penghapusan hambatan dagang dan investasi asing langsung memudarkan perbatasan antara negara dan kelompok yang dapat memanfaatkan keuntungan hubungan lintas perbatasan dengan negara dan kelompok yang tidak mampu. Dani mengelompokkan pekerja sangat terampil, profesional, dan orang-orang yang bebas memindahkan sumber dayanya ke tempat yang lebih membutuhkan ke kategori pertama. Kategori kedua mencakup pekerja kurang terampil dan semi-terampil yang semakin elastis dan mudah tergantikan akibat globalisasi.
Kedua, ketegangan ini muncul karena gloablisasi memperparah konflik norma dan lembaga sosial di dalam negeri dan antarnegara. Seiring seragamnya teknologi dan kebudayaan di seluruh dunia, berbagai negara dengan beragam norma dan nilai cenderung menolak norma kolektif yang menyebar ke seluruh dunia dengan bentuk yang seragam.
Ketiga, ketegangan ini ada karena globalisasi menyulitkan pemerintah negara menyediakan jaminan sosial.