Ida Dalem Agra Samprangan atau Sri Aji Agra Samprangan Kepakisan adalah Raja kedua dari Wangsa Kepakisan yang memerintah Pulau Bali pada periode tahun 1381 - 1384 Masehi (1303 - 1306 Saka) di bawah kekuasaan kerajaan Majapahit. Beliau adalah pewaris takhta Kerajaan Samprangan setelah ayahnya Sri Aji Kresna Kepakisan dan memerintah selama 3 tahun sebelum akhirnya dilengserkan oleh para mentrinya yang diketuai Ki Gusti Ngurah Klapodyana karena dianggap melalaikan tugas pemerintahan. Takhta kerajaan kemudian dilanjutkan oleh adiknya yakni I Dewa Agung Angulesir yang kemudian bergelar Sri Aji Semara Kepakisan.[1]
Sri Aji Agra Samprangan Kepakisan ᬰ᭄ᬭᬶᬳᬚᬶᬳᬕ᭄ᬭᬲᬫ᭄ᬧ᭄ᬭᬗᬦ᭄ᬓᬾᬧᬓᬶᬲᬦ᭄code: ban is deprecated
Ida Dalem Sri Aji Agra Samprangan Kepakisan Ida Dalem Hile Samprangan Ida Dalem Samprangan
Dalam buku "Sejarah Bali Dari Prasejarah Hingga Modern" yang ditulis oleh Ardika dkk (2018:272) menyuratkan ”Raja Sri Aji Dhalem Kresna Kepakisan mempunyai dua orang istri permaisuri, yakni I Gusti Ayu Raras atau Ni Gusti Ayu Tirta (putri Arya Gajah Para) dan Ni Gusti Ayu Kutawaringin (adik Arya Kebon Tubuh). Dari istri pertama melahirkan tiga orang putra dan satu putri yakni, I Dewa Agung Samprangan, disebut sangat gemar bersolek dan tidak memiliki minat dalam memerintah, maka saat menjadi raja dikenal dengan Dalem Ile. Putra kedua, I Dewa Agung Tarukan, tidak tertarik untuk menjadi raja karena ingin melaksanakan dharma seorang bujangga (pendeta) kelak karena suatu peristiwa beliau meninggalkan purinya di Gelgel. Yang ketiga seorang putri, Ni Dewa Ayu Swabawa dan keempat I Dewa Agung Ketut Ngulesir, suka pelesiran berpetualang ke mana-mana, suka berjudi, tidak betah tinggal di puri. Sedangkan dari istri kedua melahirkan seorang putra yang masih sangat belia bernama I Dewa Tegal Besung yang sangat dekat dengan I Dewa Agung Samprangan.
Masa Pemerintahan
Menurut kronik Babad Dalem,[2][3] Setelah mangkatnya Sri Aji Kresna Kepakisan pada tahun 1380 Masehi (1303 Saka), I Dewa Agung Samprangan sebagai putra mahkota kemudian menggantikan ayahnya dan dinobatkan menjadi raja pada tahun 1381 Masehi bergelar Sri Aji Agra Samprangan Kepakisan dan berkedudukan di Puri Agung Linggarsapura di Samprangan. Beliau diperkirakan memerintah selama periode yang singkat sekitar 3 tahun menjabat.
Beliau tercatat hanya memiliki seorang putri perempuan bernama Ni Dewa Ayu Muter yang lahir dari seorang permaisuri bernama Dewi Ayu Besuki, mereka bertemu di Pura Agung Besakih ketika Dalem Samprangan sedang menginspeksi renovasi beberapa bangunan Pura disana.
Sejarah mencatat bahwa pada masa pemerintahannya meskipun Kerajaan Bali saat itu stabil dalam bidang ekonomi dan politik namun beliau dicirikan sebagai seorang raja yang tidak kompeten dalam memerintah. Dia menghabiskan banyak waktu untuk bercengkrama dengan permaisurinya dan memperbaiki penampilan luarnya sehingga kadang beliau dikenal dengan nama Ida Dalem Hile (gemar bersolek), akibatnya dia sering membiarkan pemerintahan tertunda, para pendeta dan petinggi kerajaan kerap diabaikan menunggu di ruang dewan. Perilaku ini membuat jengkel para tetua kerajaan. Akhirnya salah satu dari para mentri Kerajaan Bali, Ki Gusti Kubon Klapa anak dari Sira Arya Kutawaringin mengumpulkan para petinggi kerajaan di Pura Dalem Tugu Gelgel dan memprakarsai pelengseran Dalem Samprangan dari tahta kerajaan lalu meminta adik-adik Dalem Samprangan menggantikannya sebagai raja.
Beliau meninggalkan istana dan memohon pertolongan kepada I Dewa Agung Tarukan di Pejeng namun karena sedang menghadapi konflik dengan Kakaknya beliau meninggalkan Purinya dan memilih untuk tinggal di antara rakyat bali sebagai orang biasa, beliau juga berpesan tidak akan mengambil tahta kerajaan karena ingin mendalami ilmu kerohanian akhirnya saudara termuda Dalem Samprangan yakni I Dewa Agung Ketut Ngulesir, seorang penjudi terkenal yang didapatkan sedang berpetualang di desa Pandak, Tabanan diminta menjadi Raja menggantikan kakaknya. Beliau membujuk sang pangeran untuk mengambil gelar kerajaan dan menawarinya tinggal di Gelgel, sebuah desa tua di daerah Klungkung saat ini, dekat pantai selatan.
Akibatnya pemerintah di Samprangan cepat terjerumus ke dalam ketidakjelasan, sementara para petinggi kerajaan berpindah ke Gelgel dan desa ini naik statusnya sebagai pusat politik pulau Bali di bawah raja baru Dalem Ketut dan bertahan sampai pemberontakan Maruti tahun 1651 Masehi.[4]
Kehidupan Selanjutnya dan Adik Dalem Samprangan
Menurut Babad Dalem, setelah dilengserkan secara sepihak oleh para petinggi kerajaan, Dalem Samprangan masih diberikan hak untuk memerintah di bekas ibukota dan berkediaman di Puri Agung Lingarsapura didampingi adik tirinya I Dewa Tegal Besung. Tidak ada catatan mendalam soal akhir hayat dari Dalem Samprangan tetapi diperkirakan beliau hidup sampai usia senja, setelah wafatnya Dalem Samprangan, I Dewa Tegal Besung kemudian pergi ke Gelgel dan bertindak sebagai Raja Muda.
Dewa Tarukan
Dalam catatan Babad Pulasari menceritakan adik Dalem Samprangan yaitu Dalem Tarukan, yang memiliki kediaman di Pejeng dekat dengan Ubud saat ini. Dia bertikai dengan saudara laki-lakinya yang mengakibatkan serangkaian perang saudara di pulau ini dan beliau hidup dalam pengasingan sebagai rakyat jelata. Akhirnya, Dalem Tarukan dikalahkan, dan keturunannya disurutkan gelar kebangsawannnya dari kastaKsatria sedangkan anak dan keturunannya kemudian menyebar di beberapa desa di Bali. [5]
Kematian
Sri Aji Agra Samprangan tutup usia pada usia yang senja hanya ditemani oleh adik tirinya I Dewa Agung Tegal Besung di mana beliau berpesan untuk menghibahkan istananya kepada adiknya karena beliau tidak memiliki putra.
Tidak ada catatan yang merinci soal kematian dan sebab kematian Dalem Samprangan, setelah di upacarakan beliau di dharmakan pada Meru bertingkat 9 pada Pura Pedharman Sri Aji Kresna Kepakisan di kompleks Pura Agung Besakih.