Dai Anlan lahir pada 1904 di keluarga petani di Wuwei County, Anhui, Dinasti Qing. Nama lahirnya adalah Dai Yangong (戴衍功code: zh is deprecated ), yang kemudian diberi nama Dai Bingyang (戴炳陽code: zh is deprecated ) di sekolah. Seorang pelajar teladan, Dai diterima di Sekolah Publik Anhui yang dikelola oleh Tao Xingzhi.[1]
Pada 1924, Dai merantau ke Guangzhou setelah mendengar bahwa ada dibuka sekolah militer, yakni Akademi Militer Whampoa. Ia diterima sebagai murid disana dan mengubah namanya menjadi Anlan yang artinya "menenangkan ombak".[1] Setelah lulus dari Whampoa pada 1926, Dai berpartisipasi di Ekspedisi ke Utara dan melawan serdadu pasukan Jepang di Insiden Jinan.[1]
Saat Perang Tiongkok–Jepang Kedua bergejolak secara penuh oleh Jepang, Dai dipromosi menjadi komandan brigade dan berjuang di banyak pertempuran seperti Taierzhuang dan Wuhan, hingga dipromosi menjadi wakil komandan Divisi 89 dan kemudian komandan Divisi 200.[1] Pada 1939, Dai dan divisinya melawan Jepang di Lintasan Kunlun dan sukses mempertahankan lintasan itu dari Jepang. Dai terluka selama pertempuran dan harus diistirahatkan selama lebih dari sebulan sebelum kembali memimpin divisinya.[1]
Pertempuran Toungoo
Setelah Jepang mendeklarasikan perang melawan blok Sekutu dan melancarkan Perang Pasifik pada Desember 1941, Jepang dengan cepat menguasai Singapura dan Hong Kong dan melancarkan serangan besar di Burma yang masih menjadi bagian jajahan Inggris.[2] Pemerintah Inggris meminta bantuan Tiongkok dan pemerintah Kuomintang di Chongqing mengirimkan 100,000 pasukan untuk melawan Jepang di Kampanye Burma.[2] Divisi 200 pimpinan Dai Anlan menjadi barisan depan dari Pasukan Ekspedisi Tiongkok dan mencapai Toungoo di Burma hilir pada 8 Maret 1942. Mereka melawan Jepang untuk pertama kalinya pada 19 Maret.[2]
Setelah menghancurkan kekuatan udara Inggris, Jepang mengepung Toungoo dengan kekuatan 4 kali lipat dibandingkan pasukan Dai Anlan. Namun, Divisi 200 terus menahan serangan Jepang selama 10 hari, membunuh sebanyak 5,000 pasukan musuh. Setelah kehilangan kurang lebih 2,000 pasukannya, Dai terpaksa memerintah pasukannya untuk mundur dan keluar dari Toungoo. Divisi tersebut keluar pada 30 Maret 1942.[2][3]
Kemunduran dan gugur
Divisi 200 mundur ke arah utara menuju Sungai Sittaung dan bergabung dengan Divisi 22. Mereka memblokir gerakan pasukan Jepang sampai ke Sittaung[3] dan menduduki Taunggyi di Burma tengah dari Jepang pada 25 April.[4] Namun karena kekalahan besar yang diterima oleh Tiongkok dan Inggris, pemerintah Tiongkok memerintah Pasukan Ekspedisi untuk mundur.[2] Saat perjalanan pulang, Divisi 200 disergap oleh pasukan Jepang.[2] Mereka berhasil menangkal sergapan Jepang tetapi Dai Anlan tertembak dan 2 komandan resimennya gugur pada 18 Mei dalam pertempuran tersebut. Delapan hari kemudian, Dai Anlan menghembuskan nafas terakhirnya di Mogaung, Burma utara.[4]
Kenangan dan penghargaan
Kuburan Dai Anlan di Gunung Zhe, WuhuPatung Dai Anlan
Saat Divisi 200 kembali dari Burma ke Tiongkok, peti mati Dai disambut oleh puluhan ribu pelayat. Pada Juli 1942, ia diberikan pemakaman kenegaraan di Quanzhou, Guangxi, tempat markas divisinya.[1]Chiang Kai-shek memberikan sebuah elegi untuk mengenangnya[5] dan pangkat Dai dinaikkan secara anumerta menjadi letnan jenderal.[1] Saat upacara pemakamannya berlangsung di Quanzhou, Mao Zedong yang berbasis di Yan'an memberikan sebuah puisi untuk mendiang Dai Anlan:[2][6]
Karena agresi asing memerlukan penolakan,
Jenderal menyusun Plucking Vetches.
Divisinya memiliki unit mekanis,
Keberaniannya melebihi keberanian harimau dan beruang.
Mandi darah untuk membela Toungoo,
Mengembalikan kemenangan mengusir Jepang dari Taunggyi.
Akhirnya mengorbankan dirinya di medan perang,
Dia tidak menyimpang dari cita-cita besarnya.
Pada 1944, saat Jepang melancarkan Operasi Ichi-Go dan menyerang Guangxi, makamnya dipindahkan ke Guiyang demi keamanan untuk mayatnya. Setelah Perang Dunia II berakhir, makam permanen Dai Anlan didirikan di Gunung Zhe, Wuhu menghadap kampung halamannya. Saat peti matinya dikubur kembali pada 1947, prosesi pemakamannya berjarak 1,5km.[1]
Dai Anlan dengan istrinya, Wan Hexin berserta dua anaknya, Fanli dan Jingdong
Setelah Dai meninggal, istrinya Wang Hexin (王荷馨) mendonasikan seluruh santunan kematian suaminya sebesar $200,000 yang ia terima dari pemerintahan Kuomintang untuk mendirikan Yayasan Memorial Anlan di Quanzhou, Guangxi.[10] Saat Kuomintang mulai kalah di Perang Saudara Tiongkok, Wang dan anaknya diberikan kesempatan oleh Kuomintang untuk kabur ke Taiwan bersama dengan pemerintah, tetapi Wang menolak karena ingin menjaga makam suaminya.[12]
Dai dan Wang memiliki tiga orang putra dan seorang putri: Dai Fudong, Dai Fanli (戴藩籬code: zh is deprecated ), Dai Jingdong (戴靖東code: zh is deprecated ), dan Dai Chengdong (戴澄東code: zh is deprecated ). Fudong menjadi arsitek terkemuka dan dipilih sebagai seorang akademisi di Akademi Teknik Tiongkok;[13] Fanli, satu-satunya putri mereka mengabdi di Perang Korea dengan Tentara Sukarelawan Rakyat; Jingdong adalah seorang profesor di Institut Teknologi Nanjing, dan Chengdong bekerja di Jiangsu sebagai insinyur hidrolika.
123Gu Dinghai 顾定海 (2002). "将军后代 平民情怀 ——访建筑学家工程院院士戴复东教授". Eastday (dalam bahasa Tionghoa). Diarsipkan dari asli tanggal 2019-11-19. Diakses tanggal 2019-03-04.
↑"特116抗日英烈像郵票". Chunghwa Post. 2016-01-13. Diakses tanggal 2019-03-13.