Daeng Pamatte (juga dieja Pamatte', Pamattek, atau Pamatteq, IPA:[paˈmat̪ːeʔ]) merupakan seorang pejabat pemerintah Kerajaan Gowa.
Karier
Daeng Pamatte merupakan seorang tubaji' ('orang baik-baik', strata sosial orang merdeka yang lebih tinggi daripada tusamara' atau orang kebanyakan[1]) yang menjabat sebagai sabannara' (syahbandar) pertama di Gowa.[2] Pengangkatan Daeng Pamatte sebagai sabannara' merupakan bagian dari pembaharuan internal kerajaan yang dipelopori oleh penguasa Gowa saat itu, Tumaparisi Kallonna (memerintah sekitar 1511–1546[3]). Sebagai seorang pejabat pemerintahan tinggi pertama, Daeng Pamatte memiliki tanggung jawab yang luas, tidak terbatas pada pengaturan perdagangan di pelabuhan Garassi/Makassar, tetapi juga sebagai pemediasi antara penguasa Gowa dan bangsawan-bangsawan Bate Salapang.[4] Tugas yang kedua ini kemudian menjadi tugas utama Daeng Pamatte setelah ia dipromosikan menjadi tumailalang, jabatan semacam menteri dalam negeri[5] yang diciptakan pada masa pemerintahan Tunipalangga. Posisinya sebagai sabannara' digantikan oleh Daeng ri Mangalakkenna.[2][6]
Patturioloang Gowa menyebut bahwa Daeng Pamatte merupakan orang yang "membuat lontara' Makassar" (ampareki lontara' Mangkasaraka).[7][8] Akan tetapi, para sejarawan dan ahli bahasa sepakat bahwa ungkapan ini merujuk pada penyusunan pustaka (terutama catatan sejarah) dan bukannya penciptaan aksara Makassar itu sendiri.[9][10][11][12][13] Penafsiran yang lazim di kalangan awam bahwa Daeng Pamatte merupakan orang yang menciptakan aksara Makassar didasarkan pada terjemahan patturioloang Gowa oleh G.J. Wolhoff dan Abdurrahim (terbitan tahun 1959), yang memadankan ungkapan ampareki lontara' Mangkasaraka dengan "membuat huruf Makassar". Penulis-penulis kemudian telah membantah pendapat ini.[11][14][15]
Bulbeck, Francis David (1992). A Tale of Two Kingdoms: The Historical Archaeology of Gowa and Tallok, South Sulawesi, Indonesia (Disertasi doktor). Australian National University.
Jukes, Anthony (2006). Makassarese (basa Mangkasara'): A description of an Austronesian language of South Sulawesi (Disertasi doktor). Melbourne: University of Melbourne.
Noorduyn, Jacobus (1993). "Variation in the Bugis/Makassarese Script". Bijdragen Tot de Taal-, Land- en Volkenkunde. 149 (3): 533–570. JSTOR27864487.