Pondok Pesantren Daarut Tauhiid didirikan oleh Abdullah Gymnastiar pada tahun 1986 sebagai wadah pendidikan dan pembinaan umat Islam dengan tujuan membentuk pribadi muslim yang berakhlak, berilmu, dan bertanggung jawab terhadap masyarakat. Sejak awal pendiriannya, pesantren ini mengusung konsep pendidikan yang menitikberatkan pada pengembangan diri (self-reform), penguatan akhlak, dan penanaman nilai keimanan sebagai fondasi utama kehidupan.[1]
Pondok Pesantren Daarut Tauhiid didirikan secara tidak langsung ketika Aa Gym merintis aktivitas dakwah dan kewirausahaan melalui sebuah wadah bernama Kelompok Mahasiswa
Islam Wirausaha (KMIW). Kelompok ini dibentuk sebagai sarana pengembangan jiwa kewirausahaan sekaligus media pembinaan dan penyebaran nilai-nilai keislaman. Sebagian hasil usaha yang dijalankan KMIW digunakan untuk menopang pelaksanaan kegiatan pengajian rutin yang dipimpin oleh Aa Gym.[2]
Sebelum terbentuknya KMIW, para mahasiswa tersebut kerap bertemu dalam berbagai kegiatan keagamaan di Masjid KPAD Bandung, baik sebagai peserta maupun panitia pengajian rutin. Kesamaan latar belakang aktivitas dan visi keislaman mendorong mereka untuk membentuk sebuah kelompok yang lebih terorganisasi. KMIW kemudian difungsikan tidak hanya sebagai forum kajian Islam, tetapi juga sebagai wadah latihan kewirausahaan berbasis nilai-nilai keislaman.
Dalam praktiknya, KMIW menjalankan berbagai usaha kecil yang dikelola secara kolektif oleh para anggotanya. Sebagian hasil dari kegiatan usaha tersebut digunakan untuk mendukung penyelenggaraan pengajian rutin yang dipimpin oleh Aa Gym, termasuk penyediaan sarana, konsumsi, dan kebutuhan operasional lainnya. Pendekatan ini memperkenalkan konsep kemandirian ekonomi dalam kegiatan dakwah, yang pada saat itu masih relatif jarang diterapkan secara sistematis.
Pada tahap awal, kegiatan pengajian yang diselenggarakan oleh KMIW bersifat sederhana dan terbatas pada lingkungan sekitar. Namun, seiring berjalannya waktu, pengajian tersebut mengalami perkembangan yang signifikan, baik dari segi jumlah peserta maupun cakupan kegiatan. Materi pengajian yang menekankan pembenahan diri, akhlak, dan penguatan tauhid mulai menarik perhatian masyarakat yang lebih luas di luar lingkungan KPAD.
Perkembangan aktivitas KMIW berlangsung pada periode akhir Orde Baru, ketika kebebasan berorganisasi dan aktivitas keagamaan di Indonesia masih berada dalam pengawasan yang relatif ketat. Dalam konteks tersebut, kegiatan KMIW dan pengajian yang dipimpin Aa Gym dijalankan secara bertahap dan berhati-hati, dengan tetap menjaga hubungan baik dengan masyarakat sekitar dan aparat setempat.[3][4][5]
Dukungan masyarakat di lingkungan Kompleks KPAD, yang sebagian besar merupakan perwiraTentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD), turut berperan dalam keberlangsungan kegiatan dakwah tersebut. Aa Gym sendiri merupakan putra dari seorang perwira TNI yang tinggal di kompleks tersebut, sehingga memiliki kedekatan sosial dan kultural dengan lingkungan tempat aktivitas dakwah itu berkembang.
Seiring meningkatnya intensitas dan skala kegiatan, pengajian yang berawal dari KMIW kemudian berkembang menjadi sebuah lembaga yang lebih terstruktur dalam bentuk yayasan. Dari sinilah cikal bakal Pondok Pesantren Daarut Tauhiid mulai terbentuk, dengan fokus pada pembinaan keislaman, penguatan akhlak, dan pengembangan karakter umat. Perkembangan ini menandai transformasi dari sebuah kelompok kajian mahasiswa menjadi lembaga pendidikan dan dakwah yang berskala lebih luas.
Nilai dan Filosofi Pendidikan
Filosofi pendidikan Pondok Pesantren Daarut Tauhiid berlandaskan pada tauhid kepada Allah SWT sebagai pusat orientasi kehidupan. Pesantren ini menekankan bahwa seluruh aktivitas pendidikan, ibadah, dan sosial merupakan bagian dari penghambaan kepada Allah.
Pondok Pesantren Daarut Tauhiid juga mengajarkan pentingnya keseimbangan antara urusan ukhrawi dan duniawi, sehingga santri diharapkan mampu berperan aktif dan positif di tengah masyarakat.
Kegiatan Kepesantrenan
Santri Pondok Pesantren Daarut Tauhiid mengikuti berbagai kegiatan kepesantrenan yang bersifat rutin maupun insidental, antara lain:
Kegiatan-kegiatan tersebut dirancang untuk membentuk pribadi santri yang mandiri, beretika, dan memiliki kepedulian sosial.
Peran dan Kontribusi
Pondok Pesantren Daarut Tauhiid memiliki peran dan kontribusi yang signifikan dalam bidang pendidikan Islam, dakwah, pembinaan karakter, serta pemberdayaan masyarakat, khususnya di wilayah perkotaanJawa Barat. Sejak berkembang dari kegiatan pengajian skala kecil hingga menjadi lembaga terstruktur, pesantren ini berfungsi tidak hanya sebagai institusi pendidikan, tetapi juga sebagai pusat pembinaan umat.[7]
Pendidikan dan Pembinaan Karakter
Dalam bidang pendidikan, Pondok Pesantren Daarut Tauhiid berperan sebagai lembaga yang mengembangkan model pendidikan pesantren modern, dengan menekankan keseimbangan antara aspek spiritual, moral, intelektual, dan keterampilan hidup. Pesantren ini menyelenggarakan pendidikan kepesantrenan serta mendukung pendidikan formal melalui unit-unit pendidikan di bawah naungan yayasan.
Pondok Pesantren Daarut Tauhiid berperan sebagai pusat dakwah Islam yang menjangkau berbagai lapisan masyarakat. Melalui kegiatan pengajian rutin, kajian tematik, dan ceramah keagamaan, pesantren ini berkontribusi dalam penyebaran nilai-nilai Islam yang menekankan pembenahan diri, etika, dan penguatan iman.
Pendekatan dakwah yang digunakan cenderung bersifat persuasif dan kontekstual, sehingga dapat diterima oleh masyarakat perkotaan dengan latar belakang sosial yang beragam.
Pemberdayaan Masyarakat dan Sosial
Selain pendidikan dan dakwah, Pondok Pesantren Daarut Tauhiid juga berkontribusi dalam bidang sosial dan pemberdayaan masyarakat. Pesantren ini menyelenggarakan berbagai kegiatan sosial yang melibatkan santri dan masyarakat, seperti kegiatan keagamaan bersama, pelatihan pengembangan diri, serta program sosial kemasyarakatan.
Melalui kegiatan tersebut, pesantren berperan dalam membangun kesadaran sosial, kepedulian terhadap sesama, serta partisipasi aktif masyarakat dalam kegiatan keagamaan dan sosial.[8]
Pengembangan Kewirausahaan
Salah satu kontribusi khas Pondok Pesantren Daarut Tauhiid adalah pengenalan konsep kemandirian ekonomi dalam kegiatan dakwah dan pendidikan. Sejak masa awal melalui Kelompok Mahasiswa Islam Wirausaha (KMIW), pesantren ini menekankan pentingnya kewirausahaan sebagai sarana penopang kegiatan dakwah dan pendidikan.
Dalam konteks yang lebih luas, Pondok Pesantren Daarut Tauhiid berkontribusi terhadap perkembangan pendidikan Islam di wilayah perkotaan, dengan menawarkan model pesantren yang adaptif terhadap dinamika masyarakat modern. Pesantren ini menjadi rujukan dalam pengembangan pesantren yang tidak terlepas dari akar tradisi keislaman, namun tetap terbuka terhadap perubahan sosial dan kebutuhan zaman.[9]
Lembaga lain
Kopontren DT
Koperasi Pondok Pesantren Daarut Tauhiid (disingkat Kopontren DT) adalah koperasi yang didirikan pada 9 April 1994 dengan nomor izin 10999/BH/KWK.10-21, bertujuan untuk mendukung kemandirian ekonomi pesantren melalui usaha berbasis syariah dan profesionalisme.[10][11] Kopontren DT mengelola berbagai unit usaha yang mendukung kegiatan pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat, termasuk:
Sehati Muslim Mart (SMM): Jaringan swalayan syariah dengan cabang di kawasan Pesantren DT Gegerkalong dan Eco Pesantren DT Cisarua, menyediakan produk halal, segar, dan lokal.
KSPPS BMT Daarut Tauhiid: Unit simpan pinjam dan pembiayaan syariah (awalnya bagian dari Kopontren, kemudian dimekarkan menjadi entitas tersendiri). Koperasi ini juga memiliki anak perusahaan atau saham di beberapa badan usaha terkait, dengan prinsip pengelolaan yang mengutamakan kebersamaan, kejujuran, dan nilai-nilai Islam.[10]
Sejarah
Kopontren DT lahir dari visi KH. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) untuk mewujudkan kemandirian ekonomi sebagai penopang dakwah dan pendidikan pesantren. Pendiriannya sejalan dengan perkembangan Pesantren DT sejak 1990-an, termasuk pembangunan infrastruktur pada 1993–1997. Koperasi ini menjadi wadah pengelolaan usaha yang sebelumnya dilakukan secara langsung oleh yayasan atau perorangan, sehingga lebih tertata dan profesional.[10][11]
Signifikansi
Kopontren DT memiliki signifikansi sebagai model koperasi pesantren yang sukses di Indonesia, menunjukkan integrasi antara pendidikan keagamaan, dakwah, dan pemberdayaan ekonomi umat melalui prinsip syariah. Penelitian menunjukkan bahwa Kopontren DT mengembangkan usaha berdasarkan kebutuhan masyarakat dan SDM internal, berperan sebagai fasilitator peningkatan ekonomi, serta membantu UMKM dan anggota menjadi lebih berdaya secara ekonomi.[10]
Keberhasilannya dengan Rapat Anggota Tahunan (RAT) rutin, diversifikasi usaha, dan kontribusi terhadap kemandirian pesantren. Koperasi ini juga berkontribusi pada tren nasional ekonomi pesantren, di mana lembaga pendidikan Islam berperan dalam menciptakan lapangan kerja, memberdayakan UMKM, dan mengurangi ketergantungan pada donasi eksternal. Hal ini selaras dengan upaya pemerintah dalam pengembangan ekonomi kerakyatan berbasis syariah.[11][12]
Kelompok Usaha Manajemen Qolbu (sering disingkat MQ Corporation atau Manajemen Qolbu Corporation) adalah perusahaan holding yang menaungi berbagai anak perusahaan dan unit usaha, berperan sebagai payung untuk mengelola aktivitas usaha yang sebelumnya dilakukan secara langsung oleh yayasan pesantren atau perorangan.
Pesantren Masa Keemasan (disingkat PMK) merupakan salah satu program pendidikan kepesantrenan yang diselenggarakan oleh Pondok Pesantren Daarut Tauhiid dan ditujukan khusus bagi peserta usia 45 tahun ke atas. Program ini dirancang sebagai pesantren khusus bagi kalangan dewasa dan lanjut usia (lansia) dengan sistem mukim (tinggal di pesantren) dalam jangka waktu tertentu.
PMK diselenggarakan dengan konsep pembinaan intensif selama sekitar tiga bulan, di mana peserta mengikuti rangkaian kegiatan kepesantrenan yang berfokus pada pendalaman keagamaan, pembinaan akhlak, serta penguatan spiritual.
Akademi Plus Wirausaha (APW)
Akademi Plus Wirausaha (APW) merupakan program pendidikan dan pelatihan yang berfokus pada pengembangan jiwa kewirausahaan berbasis nilai-nilai Islam. Program ini bertujuan membentuk individu yang mandiri secara ekonomi, beretika, dan memiliki kepedulian sosial.
APW menekankan integrasi antara pembinaan karakter, spiritualitas, dan keterampilan usaha. Program ini sejalan dengan tradisi kewirausahaan yang telah dirintis Daarut Tauhiid sejak masa awal melalui Kelompok Mahasiswa Islam Wirausaha (KMIW).
Pendidikan Anak Usia Dini dan Dasar
Pondok Pesantren Daarut Tauhiid juga menyelenggarakan pendidikan formal bagi anak usia dini dan pendidikan dasar sebagai bagian dari sistem pendidikan terpadu, meliputi:
Pada jenjang ini, pendidikan diarahkan pada pembentukan karakter dasar, pengenalan nilai keislaman, serta pengembangan kemampuan akademik awal sesuai kurikulum nasional.
Pendidikan Menengah
Pada jenjang pendidikan menengah, Pondok Pesantren Daarut Tauhiid menyelenggarakan beberapa satuan pendidikan formal, antara lain:
Pendidikan menengah di Daarut Tauhiid mengintegrasikan kurikulum nasional dengan pendidikan kepesantrenan dan pembinaan karakter. Beberapa satuan pendidikan menerapkan sistem boarding school, khususnya pada jenjang tertentu, guna mendukung pembinaan santri secara menyeluruh.
SMK Daarut Tauhiid Boarding School merupakan unit pendidikan kejuruan yang menyelenggarakan pendidikan vokasi berbasis pesantren. Sekolah ini mengombinasikan pendidikan kejuruan, pembinaan karakter, dan kehidupan berasrama sebagai satu kesatuan sistem pendidikan.
SMK ini bertujuan membekali peserta didik dengan keterampilan kerja, etos profesional, serta landasan moral dan spiritual.
Baitul Qur’an Daarut Tauhiid (BQ-DT)
Baitul Qur’an (disingkat BQ) merupakan salah satu program pendidikan kepesantrenan di Pondok Pesantren Daarut Tauhiid yang berfokus pada pembelajaran dan pendalaman Al-Qur’an. Program ini dirancang untuk membina santri agar memiliki kedekatan dengan Al-Qur’an melalui kegiatan membaca, menghafal, memahami, dan mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.[13]
Program Baitul Qur’an menjadi bagian penting dari sistem pembinaan spiritual di Daarut Tauhiid dan berfungsi sebagai penguatan fondasi keimanan serta akhlak santri.
Pendidikan Diniyah Formal (disingkat PDF) merupakan satuan pendidikan keagamaan Islam yang diselenggarakan oleh Pondok Pesantren Daarut Tauhiid sesuai dengan ketentuan Kementerian Agama Republik Indonesia. Program ini bertujuan memberikan pendidikan keislaman secara terstruktur dan berjenjang dalam sistem pendidikan formal berbasis pesantren.[15]
PDF di Daarut Tauhiid menjadi bagian dari upaya pesantren dalam memperkuat pendidikan agama secara sistematis, khususnya dalam bidang ilmu-ilmu keislaman klasik dan kontemporer.
Materi pembelajaran disesuaikan dengan jenjang pendidikan serta mengacu pada standar yang ditetapkan oleh Kementerian Agama.
Peran dalam Sistem Pendidikan Pesantren
Keberadaan PDF di Pondok Pesantren Daarut Tauhiid berperan sebagai pelengkap dan penguat pendidikan formal umum yang diselenggarakan pesantren. Program ini memungkinkan santri memperoleh pendidikan agama yang diakui secara formal sekaligus tetap menjalani pembinaan karakter khas pesantren.
PDF juga berkontribusi dalam mencetak santri yang memiliki pemahaman keislaman yang mendalam, berakhlak, dan mampu berperan sebagai kader dakwah di masyarakat.
Keterpaduan Program Pendidikan
Seluruh program dan unit pendidikan di Pondok Pesantren Daarut Tauhiid diselenggarakan secara terpadu dengan mengacu pada filosofi pendidikan pesantren yang menekankan keseimbangan antara aspek spiritual, intelektual, dan sosial. Pendekatan ini bertujuan membentuk lulusan yang berakhlak, berilmu, dan siap berperan aktif di masyarakat.
Kontroversi
Pada Desember 2006, Abdullah Gymnastiar mengumumkan pernikahan poligaminya dengan Alfarini Eridani (Teh Rini), seorang janda beranak tiga, sebagai istri kedua setelah menikah dengan Ninih Muthmainnah (Teh Ninih) sejak 1988.[17] Pengumuman ini menuai reaksi negatif luas dari masyarakat, terutama pengikutnya yang sebelumnya mengikuti dakwah Aa Gym tentang keluarga dan kesetiaan.
Banyak jamaah kecewa, yang terlihat dari boikot melalui SMS berantai, penurunan drastis kunjungan ke pengajian di Masjid Daarut Tauhiid (hingga hanya 10-30% kapasitas), dan demo menentang poligami.[18] Hal ini berdampak pada operasional pesantren: pada 2007, kunjungan menyusut hingga 70%, omzet unit usaha menurun, dan sekitar 300 karyawan (40% total) dirumahkan atau di-PHK.[19]
Aa Gym kemudian jarang tampil di media selama beberapa waktu dan muncul kembali pada wawancara Kick Andy (Metro TV) akhir 2007, di mana ia membahas dampak kontroversi tersebut.[20] Kasus ini juga menjadi salah satu faktor dalam dinamika rumah tangga Aa Gym, termasuk perceraian dan rujuk dengan istri pertamanya pada tahun-tahun berikutnya.
↑Rosyidin, Didin (2006). "Pesantren dan Perubahan Sosial: Studi Kasus Pesantren Daarut Tauhiid Bandung". Bandung: UIN Sunan Gunung Djati. Pesantren dan Perubahan Sosial: Studi Kasus Pesantren Daarut Tauhiid Bandung.
↑"Aa Gym dan Dakwah Manajemen Qalbu". Majalah Tempo (Edisi edisi khusus tokoh agama). 2000-an.
↑Rahmat, Muhammad Imdadun (2003). "Gerakan Dakwah Perkotaan dan Kelas Menengah Muslim". Jurnal Sosiologi Agama. 5 (1).