Sebanyak tiga puluh volunter melaksanakan percakapan dengan mengetik selama 4 menit. Setengah dari mereka berbicara kepada manusia selagi yang lain bercakap-cakap dengan Cleverbot. Hadirin melihat seluruh percakapan yang ditampilkan pada layar besar. Baik volunter dan hadirin lalu menilai jawaban atas percakapan. Pada uji Turing sendiri, hasil 50% atau lebih sering dipertimbangkan lulus dari pengujian. Cleverbot memperoleh 59,3% sementara percakapan dengan manusia hanya 63,3%.[2]
Cleverbot bertujuan menghibur semata bukan perihal logis atau nasihat. Banyak pengguna yang memelihara percakapan hingga berjam-jam dan mengatakan bahwa ia terlalu pintar sebagai sebuah program. Pengguna beranggapan bahwa itu manusia tetapi itu tidak lain sebuah software. Barangkali software yang menyimpan sedikit kecerdasan buatan.[3]
Mekanisme
Menjawab masukan pengguna dengan meniru percakapan yang pernah berlangsung. Dari sebagian besar tiga arsitektur chatbot, Cleverbot termasuk data-oriented seperti pada Microsoft Tay.[4]
Referensi
↑Gilbert, R. L., & Forney, A. (2015). Can avatars pass the Turing test? Intelligent agent perception in a 3D virtual environment. International Journal of Human-Computer Studies, 73, 30-36.